WHAT'S NEW?
Loading...



Oleh Muhammad Thobroni

HUTAN| PROSES KREATIF SASTRAWAN MUHAMMAD THOBRONI (8)

Hubungan saya dengan hutan telah dicatat dalam sejarah kisah-kisah indah tentang peradaban manusia.

dulu, ada ungkapan stereotype, labeling dan cenderung biasa liyan haha jadi, Ibu saya kerap menyebut saya cah alas atau arek alas. penjelasannya hanya satu: sebab saya hobi ngeluyur ke hutan (alas). betul-betul alas. zaman dulu, hutan jati di kawasan ploso-kabuh-plandaan di jombang, tergolong menyeramkan. angker. konon masih ada harimau jawa waktu itu. saya juga beberapa kali bertemu hewan mirip kucing di tengah hutan. Saya biasa ketemu manuk, burung kutilang, emprit (pipit), dan sebangsa serangga jaringkung (?) yang suaranya menambah suasana latar hutan cenderung dramatik.

saya sering menerabas dan menerobos tengah hutan. lewat jalan setapak. mirip pendekar falam film laga. sendirian. kadang lewat jalur kuburan di tengah hutan. tujuannya adalah rumah pakde saya di kampung cepit. kadang, bila rasa takut terlalu kuat, saya jalan memutar lewat kedung cinet yang sekarang tersohor sebagai kawasan wisata itu. Itu sekarang. dulu, kedung cinet itu dianggap angker. simbah pernah cerita, ada sepasang kekasih pacaran dekat kedung tersebut. saat berbuat anu, kedua onderdil sepasang kekasih itu tak dapat dilepas. akhirnya dibawa ke rumah sakit. dan entah kelanjutan kisahnya.
sebab memutar, perjalanan jadi dijalani lebih jauh. dan di beberapa titiknya berlumpur atau kembet. bila lewat titik itu, kaki menancap dalam lumpur. ya memang, sebelum kenal aspal dan semen rupa sekarang, daerah situ umumnya licin bila hujan. bahaya dilewati dengan cara jalan kaki atau naik onthel. kadang, roda onthel bisa terbalik 180 derajat, depan jadi belakang dan belakang jadi depan. apalagi, bagi kanak-kanak yang tak memiliki kecerdasan kinestetik memadai, pascahujan harap waspada sebab sepanjang jalan khususnya yang banyak batu kali, segera akan berubah jadi prosotan bagi mereka yang lewat. situasi yang sama bila penduduk kampung itu akan turun ke sungai, bila tak hati-hati melewati setapak miring di atas tebing ke dasar sungai dangkal itu, bisa saja terjun bebas tanpa pelampung.

arek alas, cah alas di kampung saya dulu itu, biasa masuk hutan dengan banyak alasan. sebagian anak, termasuk saya, kerap mengimpulkan dahan dan ranting jati. biasanya sisa orang menebang batang jati. bila tak dapat, terpaksa memanjat batang jati. kanak-kanak kampung sudah paham bahwa dahan dan ranting yang dicari hanya yang kering atau yang berpotensi lekas kering. Sederhana saja, kayu kering itu ringan dibawa pulang dalam jumlah banyak. bisa dibayangkan kekuatan tenaga kanak-kanak. bawa seikat dipikul pundak saja rasanya naudzubillah. alasan berikutnya ialah dahan dan ranting kering tersebut lekas laku dijual jadi uang. dulu ada teman saya yang pintar cari dan jual kayu kering ini. seikat 3000 untuk zaman itu. kalau tak terlali bagus, bisa ditawar 2000-2700. bila lebih lincah lagi, kayu kering dijual ke "kota" ploso. biasanya ini dilakukan kanak-kanak lebih besar atau remaja.

hal lain yang kerap saya lakukan adalah memetik dan mengumpulkan daun jati, berikutnya saya jual ke warung. ini jarang saya lakukan kecuali terpaksa. sebab umumnya mereka yang melakukan kegiatan ini adalag kaum ibu. tapi, kegiatan memetik dan mengumpul daun jati itu memberi pengalaman berharga yang intim dalam pengetahuan awal saya tentang dunia daun di hutan.

di tengah hutan pula, saya kerap menebang batang ploso di tengah semak berduri. dan batang yang berat itu, sebab basah, saya panggul di atas pundak kanak-kanak saya yang mungkin masih rapuh. sebab itulah ibu saya kerap marah bila memergoki saya bawa batang ploso dari hutan. batang ploso tidak terlalu banyak yang mencari atau mengincar. Berbeda dengam jati. di kebun rumah, batang ploso saya potong-potong sekira 0,5-1 meter. saya gali lubang seukuran pantat. Potongan batang ploso tersebut ditata berbanjar tindih menindih. Harus rapat. Di bawah tumpukan potongam batang ploso disisakan lubang perapian. bila dirasa cukup, batang-batang tadi ditimbun secukupnya. Dan api dinyalakan, hingga menyerupai sekam. dalam berapa waktu, kegiatan itu akan tampak mirip orang membakar batu-bata. hingga saat dibongkar, potongan batang singkong telah menjadi arang. Harus hati-hati membongkar arang dari tumpukan, agar didapatkan hasil terbaik. dan tidak hancur lebur atau berbaur dengan tanah basah sisa siraman air pemadam api dan bara.
Arang yang baik dihargai mahal. Arang hancur dan bercampur tanah ya hasilnya murah. Atau malah digunakan sendiri.

sesekali, bila musim, saya mencari dahan atau ranting bahan ketapel. Biasanya mencari yang bercabang bagus dan lentur. Perlu dicoba dengan cara menarik kedua cabang ke belakang. Atau, menyisipkan ganjal di antara dua cabang dan mengikatkan pucuk cabang hingha rapat. Lantas diasapkan di atas perapian dalam waktu tertentu. bahan yang bagus akan menghasilkan ketapel yang kuat. tidak terbakar saat diletakkan di atas api. juga tak retak apalagi pecah menhadapi tekanan panas. setelah siap, kedua cabang membentu huruf U, tinggal dipasang karet pentil di kedua sisinya dan dihubungkan dengan potongan ban dalam atau potongan kulit sepatu sebagai tempat  pelempar peluru.

di pinggir hutan, banyak barisan pandan berduri. seperti halnya yang lain, saya juga memotong daun pandan, berlatih membelah dan mengiris hingga belahan paling tipis menggunakan benang senar. beberapa kali tangan harus berdarah terkena duri atau sayatan benang tajam. sebelum disayat dengan benang, biasanya duri di pinggir daun panjang dibuang dulu. Selepas terpilah hingga tipis, lantas dijemur dan dianyam menjadi tikar. saya senang tidur beralas tikar pandan atau lantai kayu. tidak panas juga tak dingin.

pandan-pandan berduri memiliki akar yang kuat. Menjalar liar. Sebagian saling belit. Jalin kelindan. Sebagian menancap ke tanah. saya suka sekali memotong akar itu. kami menyebutnya sulur. Dan mengurainya menjadi tali sulur yang kuat. Kadang menjalinnya menjadi tali tampar yang ulet. biasanya, saya bikin juga untuk main kekehan alias yoyo.

di hutan juga, saya pernah berburu sebuah daun mirip kelapa atau nipah atau entah ala namanya. Yang muda dipotong, dipotong dan dipasang pada sungut layangan besar. Layanganan yang diterbangkan oleh tali tampar ukuran kecil biar tidak mudah putus. Daun yang sudah dikeringkan dan dipasang di layangan, akan mengeluarkan suara nyaring di angkasa. Apalagi saat angin kencang. Terlebih pemainnya pintar memainkan arah layangan hingga bunyi itu menjadi berirama.

Di jogja, suasana hutan saya temui saat di kulonprogo, sekitar kaliurang atau kalikuning. Juga di gunungkidul. saat di pacitan, hutan juga mewarnai perjalanan hidup seharihari.

Di kalimantan, saya mendapatkan pengalaman luar biasa dan sungguh berharga. Sebab hutan bukan saja dimaknai secara ekonomi tapi juga budaya. Hutan bukan semata raga tapi juga jiwa. hutan bukan hanya jalan dan jalur. Tapi juga sahabat siang dan malam.

2018

Urotul Thobroni Arif Mustofa

(nanti lagi direvisi...mau jalan/ revisi


Oleh Teguh Arifiyadi - peminat cyberlaw

Pembatasan Medsos dan VPN
.
.
Kata warga kampung kali fornia sana, "there no ain’t such thing as a free lunch". Tidak ada makan siang gratis! Begitu juga jika kita menggunakan VPN gratis-tis.
.
Memberikan layanan VPN gratis itu tidak murah ya akh wa ukh. Penyelenggaranya harus menyiapkan investasi yang tidak kecil untuk menyiapkan tetek bengeknya, dari menyiapkan server-server dengan kapasitas besar, bandwitdh, teknisi maintenance, listrik, dan beban operasional lainnya. Sementara mereka nih terlahir bukan sebagai tokoh fiksi macam Robin Hood apalagi Santa Clause. Mereka tetap bisnismen.
.
Apa yang mungkin mereka incar dari kita pengguna VPN kelas gratisan? Yes. Utamanya adalah DATA! Harta Qorun digital. Mereka bisa kapan saja menambang data kita, karena komunikasi kita selalu dilewatkan server milik mereka. Artinya, kapanpun komunikasi dan aktifitas kita bisa diintip, dimata-matai, diisengi, bahkan mereka dengan mudah bisa mengambil gratis data kita.
.
Untuk apa sih? Untuk apa saja yang bisa memberi keuntungan dan mengembalikan investasi! Paling simpel dan polosnya ya untuk dijual guna keperluan profiling iklan. Data pribadi kita dengan enteng mereka tambang, dan jual kembali ke pengiklan. Perkara iklannya disisipi malicious software alias software berbahaya, itu urusan lain. Risiko ditanggung 'penumpang' VPN gratis.
.
Masih banyak mudharat lainnya soal VPN gratis ya lur. Waspada lebih baik.
.
Soal pembatasan akses sosmed oleh pemerintah, jangan khawatir berlebihan, ini hanya sementara kok.
.
Jika bakul online dagangannya jadi sepi, tetaplah bersabar. Sepinya rizki dagangan kita tak akan sebanding dengan risiko nyawa  saudara-saudara kita yang beberapa atau banyak diantaranya tidak bisa lagi membedakan mana informasi benar atau salah, sehingga medsos dengan berat hati harus sedikit dibatasi negoro.
.
Yakini saja, pembatasan ini untuk kepentingan yang lebih besar. Ikhlasnya para bakul online insyaallah dibalas dengan rizki berlimpah di kemudian hari. Aamiin (3001 kali). :)
.
Pemerintah, meskipun main blokar-blokir, sebenarnya sedang berupaya untuk tidak menunjukkan sifat otoriter di internet. Buktinya, kita masih bisa baca tulisan ini atau postang-posting rezam-rezim mengecam pemerintah. Padahal jika beneran ororiter, dengan 'satu tombol' saja, pemerintah bisa dengan mudah mematikan permanen seluruh medsos dan platform messaging, termasuk mematikan akses ke penyelenggara VPN.
.
Jadi saudaraku, inti khutbah subuh kita kali ini adalah jangan senang, bangga, atau merasa paling hitech dengan menggunakan VPN gratisan. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari!
.
.
-Subuh Ramadhan-


Teguh Arifiyadi, peminat cyberlaw




Muhammad Thobroni  Lahir di Jombang 25 Agustus 1978. Lulusan Sastra Indonesia FBS UNY dan Magister Pendidikan Sastra Anak Program Pascasarjana UNY. Tulisannya tergabung dalam buku Grafiti Imaji, Mencari Tanda Sunyi, Daftar Hitam Dendam, Jejak Orang Gelisah, Masa di Titik Sudut, Catatan Ziarah,  dan sebagainya. Tulisannya dimuat Kuntum, Suluh, Fadhilah, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Kompas, Republika, Jawa Pos, Pelita, dan lain-lain. Menulis buku Mading, Dialektologi, Belajar dan Pembelajaran, Bahasa Indonesia Komunikasi Lisan dan Tulis di Perguruan Tinggi, Korespondensi, Kisah Si Cicak dan Si Tokek, Kisah Si Sawa, Indahnya Puisi, Asyiknya Prosa, dan buku-buku lain. Buku kumpulan puisi Sei Kayan (2017) dan Ustadz Misterius (2018). Trilogi Buku Puisi Sungai melengkapi buku puisi Sei Kayan, berjudul Sei Bahau, Sei Sesayap, dan Sei Sembakung  sedang proses penerbitan. 

Saat ini mengabdi sebagai Staf Pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan, sebuah perguruan tinggi di kawasan perbatasan utara Indonesia. Selain mengajar, juga aktif membangun dan mendampingi komunitas seni budaya seperti tari, teater, penulisan kreatif di kawasan perbatasan, baik komunitas guru, komunitas muda, dan anak-anak. Aktif mengisi acara talkshow pendidikan dan kebudayaan di Radio Republik Indonesia Tarakan, Tarakan TV, dan menjadi pembicara pelatihan, seminar, diskusi, dan juri lomba puisi, lomba mendongeng, serta lomba cerdas cermat. Tahun 2013, berkesempatan mengikuti Program Penulisan Mastera: Cerpen di Lembang Bandung, yang diselenggarakan oleh  Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI, bersama dengan cerpenis muda dari negara asia tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Beliau juga peserta Pertemuan Sastrawan Nusantara di Semporna, Sabah Malaysia (2018) dan peserta Festival Literasi Indonesia di Deli Serdang, Sumatera Utara (2018). 

Saat ini diamanahi Ketua Umum Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Kalimantan Utara, Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kalimantan Utara, Pembina UKM Seni Budaya UBT, Pembina komunitas literasi Komunitas Jendela Nusantara (KJN), dan Pembina Baloy Aksara Kalimantan Utara (Bakau).  Beliau juga menginisiasi pembentukan grup literasi dalam jaringan Sahabat Puisi Indonesia yang telah melahirkan banyak penulis dan buku-buku yang mereka tulis sendiri maupun bersama. 

Selain itu juga beliau mendirikan situs sastra dan literasi www.ambau.id yang telah menjadi corong publikasi karya sastra dan olah literasi para penulis muda dan para guru di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, serta kota-kota kecil yang selama ini belum dikenal masyarakat luas sebagai pusat lahirnya karya sastra. Beberapa buku yang telah diterbitkan oleh inisiatif beliau antara lain Kitab Puisi Indonesia, sebuah kitab puisi setebal 1800 halaman (2018) yang merangkum puisi dari berbagai daerah di Indonesia. Kitab Puisi Perempuan Indonesia (2018) yang memuat ratusan penyair dengan karya-karya puisi mereka. Selain itu, beliau juga menjadi salah satu penulis kontributor buku puisi esai Jiwa-jiwa Yang Resah (2017), buku Hikayat Bangkawan, Dongeng Para Raja dan Kesaksian di Atas Kayan (2019), penulis kontributor dalam buku Mengenal Puisi Esai (2018), dan mendampingi para penulis remaja Kalimantan melahirkan buku “Monolog Kesunyian di Perbatasan”. Beliau juga bersemangat mengumpulkan puisi-puisi para penulis muda dari pedalaman dan perbatasan Kalimantan Utara yang dipublikasinnya dalam buku puisi Sketsa Cinta di Perbatasan (2017).

Kepada ambau.id, Pak Thob, demikian biasa dipanggil menyatakan bahwa  menulis dan membaca merupakan bagian dari menyusuri jalan sunyi. "Banyak godaannya. Tapi harus ada orang yang menekuni jalan ini agar terus lahir karya-karya kreatif yang dapat mendokumentasikan persoalan-persoalan dalam kehidupan manusia," ujarnya.






LITERASI KELUARGA
---------------------------------
Oleh Urotul Aliyah, M. Pd - Dosen Universitas Borneo Tarakan dan Founder rumah literasi BALOY AKSARA KALIMANTAN UTARA

PREPARE TO SCHOOL

Apa saja persiapan masuk sekolah?  Khususnya bagi keluarga yang untuk pertama kalinya menyekolahkan anak ke SD?  Dan juga umumnya para wali murid yang hendak memasukkan anak ek SD meski sudah berulangkali mamun ternyata masih bingung.

Berbicara mengenai persiapan ke sekolah baru tentu membuat deg-degan bagi calon peserta didik atau peserta didik baru, tak terkecuali para orang tua. Sebelum kita bersiap untuk bersiap ke sekolah baru, kita harus memahami dulu bagaimana regulasi tentang usia memasuki sekolah dasar.

Berdasarkan Permendikbud nomor 14 tahun 2018 dikatakan bahwa usia peserta didik di taman kanak-kanak adalah 4-5 tahun untuk kelas A,  untuk peserta didik di kelas B usia 5-6 tahun,  untuk peserta didik di SD usia paling rendah adalah 6 tahun di bulan Juli.  Nah, berkaitan dengan kesiapan orang tua untuk memilihkan sekolah pada anak selepas kelas B,  orang tua juga harus bersiap sejak awal.   Pada beberapa kasus tahun 2018, siswa yang mendaftar secara online minimal usia 6.6 tahun ke atas,  artinya bahwa di usia 6 tahun pas,  orang tua harus punya beberapa plan atau rencana tentang pilihan sekolah.

Ada beberapa hal yang harus dipahami berkaitan dengan memilih sekolah pada anak. Misalkan saja ajak anak untuk memilih sekolah, ajak anak untuk berkunjung ke calon sekolah baru,  diskusikan tentang program dan berbagai informasi yang ada di sekolah tersebut. Sekolah tentu punya visi misi terhadap hasil out put atau luarannya sehingga menarik bagi calon peserta didik.  Yang juga harus dipahami tentang kondisi lingkungan sekolahan,  nyaman dan aman. Misal salah satu contoh terkait dengan keberadaan toilet,  terdengar sepele,  tetapi karena peserta didik di SD masih dalam tahap tumbuh dan berkembang jadi minum yang cukup menjadi hal yang harus di lakukan.  Tetapi yang terjadi,  siswa enggan minum karena malas ke toilet antrinya lama sehingga dia menahannya sampai pulang. Ini bisa jadi menjadi hal yang berbahaya terkait dengan penyakit yang bisa saja muncul misal infeksi kandung kemih.

Terkait dengan keamanan ketika dijemput terlambat, misalnya. Orang tua juga harus yakin bahwa menunggu di sekolah itu aman. Terkait dengan kebisingan lalu lintas, proses belajarnya nyaman ataukah tidak. Terkait dengan program program yang dilakukan sekolah apakah bisa mewadahi anak kita atau tidak terkait dengan para guru atau pengajarnya apakah kita selaku orang tua bisa mengajaknya berkomunikasi terkait dengan perkembangan putra putri kita di sekolahan.  Ketika kita dan anak sudah memilih sekolah  tertentu,  kita harus yakin dengan program sekolah dan beragam aktivitas yang ada di dalamnya, yakin pada gurunya, dan sebagainya. Anak juga harus dipahamkan mengenai aturan aturan di sekolah barunya. Sebagai gambaran siswa di SD masuk pukul 07.00 maka pembiasaan juga harus sedini mungkin,  tidak bisa disamakan ketika anak kita berada di taman kanak-kanak.
Pertanyaan yang muncul adalah: Bagaimana ketika kita terlanjur memilihkan sekolah pada anak  kita dan kita tidak tahu prestasi di sekolah tersebut apa saja? Ini sering terjadi.
Oke,  semisal posisinya adalah sudah memilih sekolah,   berarti kita harus tahu informasi berkaitan dengan sekolah itu. Usahakan bersama anak untuk berkunjung,  paling tidak kita bisa observasi misalnya kegiatannya apa saja, prestasinya apa saja, pialanya, lingkungan sekolah, model kawan-kawan dan para seniornya,  keramaian lalu lintas sekitar sekolah dan sebagainya.

*) materi ini disarikan dari ceramah parenting dan literasi keluarga bagi para wali murid TK ABA I Aisyah, Kota Tarakan,  Kalimantan Utara



Oleh Thia Nanda Sari,  Sembakung, Nunukan
KRISIS KORUPSI DALAM CERPEN RISAU KIAI MASTUHU

    Dalam cerpen Risau Kiai Mastuhu dalam buku cerpen Ustadz Misterius karya Sastrawan Kalimantan Utara Muhammad Thobroni ni mengisahkan seorang Kiai Mastuhu yang merasakan kerisauan didalam hatinya terhadap menantu satu-satunya yang bernama Basyar. Pada saat itu ketika Basyar datang bersama orang tuanya untuk melamar Anisa, Kiai Mastuhu seperti sudah melihat “ngalamat”. Ngamat sendiri merupakan tanda-tanda yang hanya ditemukan dan diperoleh orang-orang seperti Kiai Mastuhu, yang memiliki tradisi ritual dan spiritual cukup mumpuni. Meskipun begitu Kiai Mastuhu tidak ingin disebut sebagai orang tua konservatif (kolot), apalagi posisinya sebagai seorang Kiai pastilah tuduhan tersebut kian kencang terhadap dirinya. Oleh karena itu, atas persetujuan istrinya Kiai Mastuhu juga merestui pernikahan anaknya Anisa dengan Basyar.
     Sejak dulu Kiai sepuh dari sebuah pesantren terkenal di lereng merapi itu kurang suka anak-anak dari kampus. Namun, saat itu Basyar sudah lulus dari jurusan politik. Basyar dikenal sebagai orang yang cukup cerdas, selain berkemampuan akademik cukup tinggi, ia juga populer dikalangan mahasiswa. Basyar pun menikahi Ning Anisa, pernikahan mereka disambut hangat dan bahkan gegap gempita, banyak media menjadikannya berita. Bahkan, tayangan infotainment tak luput mengangkat momentum pernikahan Basyar-Anisa, sembari menambahkan bumbu gosip. Konon, menurut presenter infotainment itu Basyar dikenal sebagai Don Juan di kampus (menurut Wikipedia Don Juan merupakan istilah untuk seorang laki-laki yang handal dalam menaklukan banyak wanita lalu melakukan hubungan seksual dengan para wanita tersebut). namun, hal tersebut dibantah oleh Ning Anis. Ning Anis mengonfirmasi bahwa hal tesebut hanyalah issu semata dan menggapnya sebagai fitnah.



   Seluruh warga pesantren ikut gembira melihat peenikahan mereka. Apalagi baru setahun menjadi warga pesantren Basyar sudah bisa mendatangkan seorang menteri dalam acara Khaul Kiai Dalhiri, kakek Anisa. Dan meninggalkan dana milyaran rupiah, semua warga pesatren ikut gembira dengan hal tersebut. namun, berbeda dengan Kiai Mastuhu, ia mulai merasa risau, hati kecilnya ingin menolak namun pesantren juga membutuhkan dana yang cukup besar. Keberhasilan Basyar mendatangkan menteri dilanjutkan dengan kejutan-kejutan lainnya, Basyar ditunjuk dan diangkat sebagai seorang anggota Komisi Pemilihan Bupati (KPB), selain itu Basyar juga diminta menjadi Kepala Dewan Pakar disebuah Parpol besar. Posisi Basyar sebagai Kepala Dewan Pakar akan semakin menggelumbung pundi-pundi uangnya.
Mendengar hal tersebut Kiai mastuhu semakin gelisah, gundah gulana, risau jiwanya. Perubahan prilaku Kiai Mastuhu semakin terlihat akhir-akhir ini, beberapa jamaah dan para santri pun ikut gelisah melihat perubahan yang terjadi pada Kiai Mastuhu. Kemudian tujuh hari setelah perubahan Kiai Mastuhu , seluruh warga pesantren dikumpulkan, beserta jamaah yang berada disekitar pesantren. Dengan muka tampak tegang namun Kiai Mastuhu tetap berusaha senyum. Kiai Mastuhu menyampaikan bahwa dengan perubahan yang terjadi padanya akhir-akhir ini ia sendiri memang sedang risau. Meski “ngalamat” itu masih samar-samar tetapi sudah mulai jelas. Mudah-mudahan petang ini setelah kalian sampai dikamar dan rumah masing-masing “ngalamat” itu telah tampak jelas. Saya hanya berpesan kalian jangan terkejut apalagi marah-marah karena semua yang terjadi adalah kesalahan diri kita masing-masing. Setelah mendengar pesan dari Kiai Mastuhu seluruh warga pesantren pun kembali ketempat masing-masing. Setelah sampai ditempat masing-masing mereka memang dihadapkan berita yang mengejutkan. Televisi dan radio petang itu mengungkapkan seorang tokoh parpol ditangkap Komisi Anti Korupsi, seluruh tubuh warga pesantren berkeringat, karena suasana pesantren tiba-tiba panas. Bukan karena kemarau datang, tapi suhu berubah panas gara-gara penangkapan Basyar oleh Komisi Anti Korupsi. Pikir warga pesantren apakah ini “ngalamat” yang disampaikan oleh Kiai Mastuhu?


     Persoalan sosial yang diungkap dalam cerpen ini telah banyak terjadi dimasyarakat terkhusunya di Indonesia. Kecerdasan maupun  berpendidikan tinggi tidaklah menjamin moral yang baik. Tindakan korupsi merupakan perbuatan yang tak bermoral, kebejatan, kerusakan, ketidakjujuran serta kecurangan yang menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat yang kekurangan. Tindakan korupsi ini menjadikan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Inilah cerminan para penguasa di negeri kita tercinta indonesia saat ini, orang-orang yang berkuasa lebih mementingkan urusan pribadi dan golongannya dibandingkan mengurus rakyatnya.


     Menurut ( KOMPAS.com ) Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rajardjo mengatakan, pertumbuhan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di indonesia paling tinggi dibandingkan Negara-negara lain di dunia. Agus juga membandingkan Pertumbuhan IPK Indonesia dengan IPK Negara lain yang memiliki karakter jumlah penduduk yang tinggi, seperti Vietnam, Argentina, Brazil, Thailand Nigeria dan China. Indonesia mengalami peningkatan skor sebanyak 17 poin, Vietnam sebanyak 10 poin, Argentina sebanyak 9 poin, dan Nigeria 8 poin. Sedangkan China yang memiliki jumlah penduduk cukup besar kabarnya menerapkan hukuman mati pun naiknya sekitar 6 poin.

    Seperti yang terlihat sekarang ini, indonesia sedang dalam krisis kejujuran, krisis amanah, krisis orang-orang jujur , pemimpin yang adil dan berpihak pada rakyat sulit ditemukan. Korupsi harus segera diberantas, karena jika tidak! yang kena imbasnya adalah rakyat-rakyat kecil. Indonesia harus meningkatkan pendidikan moralitas bagi para pemimpin supaya punya kepribadian baik dalam bertugas berharap jika korupsi itu diberantas dan keadilan lebih ditonjolkan tentu saja indonesia menjadi Negara maju, tentram dan sejahtera. Harapannya buat para pemimpin berikanlah hukuman yang seberat-beratnya bagi para pelaku koruptor agar terdapat efek jera bagi mereka.

PESAN MORAL
    Pesan moral yang terdapat di dalam carpen ini yaitu Secerdas apapun kita, seberapa banyak uang yang kita miliki, setinggi apapun jabatan kita, selalu ingat bahwasanya semua itu hanya titipan, hendaknya sebagai manusia kita selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan. Semakin serakah manusia maka semakin lenyap juga yang dimilikinya.

Thia Nanda Sari, tinggal di  Sembakung, Nunukan

#kaltaramembaca
#kaltarabersastra
#ubtjaya

Oleh Gresya Herti  Fransiska, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara
PROBLEMATIKA EKONOMI DALAM CERPEN ZIARAH

Cerpen "Ziarah" dari buku Ustad Misterius (2017) karya sastrawan Kalimantan Utara yang juga dosen Universitas Borneo Tarakan  ini mengisahkan seorang anak bernama Arif yang dimasukan Ayahnya kedalam salah satu pesantren yang ada diYogyakarta.... Tujuan ayahnya memasukan Arif kedalam pesantren adalah agar tidak ndugal lagi. Agar akhlakmu bisa berubah mulia dan bisa menjadi anak yang alim dan shaleh. Tiga tahun berada dipesantren bukanlah waktu yang sebentar, selama berada dipesantren banyak hal yang disukai Arif terkhusus tertarik dengan Ziarah kemakam-makam para Wali dan ulama-ulama, Didengarnya beberapa tokoh besar termasuk Gus Dur sangat suka dengan ziarah ke makam para ulama dan wali. Tahun pertama dipesantren Arif tidak bisa mengikuti Ziarah, karena kiriman uang bulanan dari ayah Arif sangatlah ketat. Biaya untuk Ziarah bukan sedikit baginya butuh 500 ribu untuk mengukuti ziarah selama seminggu. Dengan tekad yang Arif punya, Iapun menabung serupiah demi Rupiah dari sisa uang belanja bulanannya, tibalah akhir tahun uang yang Ia tabung sebesar 450 ribu Arif masih membutuhkan 50 ribu lagi. Namun Tahun kedua ini Arif gagal mengikuti Ziarah lagi, di karenakan uang yang ia tabung hilang tidak tau siapa yang mengambilnya. Dari kejadian ini Arif kemudian berfikir untuk menabung BNI meskipun ia harus menahan malu membawa uang Recehannya ke bank. Kepingan demibkepingan yang Arif kumpul kini sudah lebih dari cukup untuk mengikuti Ziarah di Tahun ketiga ini. Namun, lagi-lagi Arif gagal dalam mengikuti Ziarah ditahun yang ketika, dikarenakan temannya meminjam uang untuk pulang kekampung karena ayahnya meninggal dunia dan ibunya tidak ada uang untuk membiayai perjalanannya untuk pulang kampung. Arif bingung harus memilih yang mana, namun karena Arif tidak tega dengan temanya. Iapun mengantarkan temannya kestasiun kereta api dan Arif pun juga pulang kekampung halamannya, Dan membatalkan pergi ziarah di tahun yang ke tiga ini.Seminggu berada di kampung halaman Arifpun tiba dipesantren dan langsung memasuki kamar, karena perjalanan yang jauh membuat ia lelah dan inggin tidur. Tidak beberapa lama kemudian teman-teman Arif yang dari Ziarah datang dan langsung melihat Arif yang sedang tidur pulas. Mereka heran siapa yang dilihat mereka ketika Ziarah sangat syahdu berdoa didepan makam Wali dan Ulama. Arif tidak peduli dengan omongan merek, arofpun melanjutkan tidurnya dan bermimpi bertemu dengan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang


Permasalahan sosial yang ada dalam cerita ini, adalah permasalahan ekonomi yang di alami oleh Arif yang sangat kesulitan dalam masalah keuangan yang diberikan ayahnya sangat ketat sekali. Hingga Arif merasakan lika-liku dalam mengumpulkan uang untuk pergi ziarah dan beberapakali gagal dalam mengikuti Ziarah tersebut. Tidak dipungkiri lagi, bahwasannya hidup dalam ekonomi yang sangat rendah dan memiliki banyak kebutuhan ini yang menyebabkan timbulnya masalah baru seperti pencurian ataupun perampokan. Inilah yang dialami Arif ketika ditahun kedua tidak dapat mengikuti Ziarah.

Dari cerita pendek ini, terdapat cerita yang sama yang dimana seorang gadis bernama Rosa yang harus berhenti sekolah karena tidak ada biaya dan membantu ibunya mencari botol minuman bekas. Hal ini dilakukan nya agar ia bisa sekolah lagi, ayah Rosa sudah meninggalkan mereka dan berpaling ke perempuan lain. Rosa bersaudara 8 orang, hidup mereka susah dan harus memungut benda benda bekas untuk dijual kembali. Dengan kegigihan Rosa dan ibunya untuk berkerja mencari botol bekas akhirnya Rosa bisa kuliah meskipun hanya sampai tinggat SMA.

Dalam cerita ini menurut saya, Arif adalah tokoh yang sangat tegar dan bakk hati dalam memjalani kehidupannya di pesantren. Tidak dipungkiri lagi dipesantren atau asrama itu tidak ada permasalahan. Seperti didalam cerita ini Arif mengalami beberapa masalah yaitu Uangnya yang di curi dan teman yang meminjam uang dengan nya hingga Dua kalu berturut-turut tidak dapat mengikuti Ziarah makam. Jika Arif terus-menerus seperti ini, ia akan semakin terpuruk karena lebih mementingkan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Boleh baik kepada orang namun ingat ada batasan-batasan setiap tindakan baik.

Dan pesan moral yang dapat kita ambil dari kisah/cerita pendek ini. Dimana kita sebagai makhluk hidup yang mempunyai Pikiran dan Hati yang baik. Bahwasannya hidup itu bagai roda berputar ada kalanya kita diatas ada kalanya kita dibawah, adakalanya kita susah ada kalanya kita senang. Meskipun Arif gagal mengikuti Ziarah berkali-kali. Namun nanti ada saatnya ia akan pergi ziarah meski tidak lagi didalam Pesantren. Dalam kisah ini saya mengingat satu pepatah mengatakan "bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian". Semoga dalam kisah ini kita semakin sadar dan berusaha dalam kehidupan jangan bersantai dalam menghadapi persoalan hidup apalagi dalam masalah ekonomi...

Gresya Herty Fransiska, tinggal di Kabupaten Tana Tidung(Ktt), Kalimantan Utara

#kaltaramembaca #kaltarabersastra #ubtjaya

Presiden (Presidenan) Bagong

 Usia Ki Lurah Semar yang sudah semangkin udzur membuat anak-anaknya: Gareng, Petruk dan Bagong merasa perlu meneruskan perjuangannya. Semar sendiri sudah berwasiat jika akan  segera purna tugas. 

 Mereka bingung menentukan siapa sebaiknya yang harus menggantikan. Secara urutan usia maka Garenglah yang layak mengantikan, karena Gareng yang tertua. Namun Gareng sudah sedari awal menolak, dan akan mendukung siapapun yang menggantikan.

 Gareng dan Petruk sebenarnya adalah anak angkat Semar, sementara Bagong adalah anak yang lahir dari bayangan Ki Lurah Semar. Secara trah geniologis mungkin Bagong lebih layak menggantikan, apalagi secara postur ia lebih menyerupai Semar dari pada keduanya. 

 Rupanya, memang diam-diam Bagong telah lama berobsesi menggantikan Semar. Sifat Bagong yang gaya bicaranya sak enak udele dewe, dan juga kebiasaannya yang suka menggebrak-gebrak meja saat berpidato membuat Petruk kurang sreg padanya. Petruk pun berkenan menjadi rival Bagong demi menyelamatkan nasib masa depan Kelurahan.

 Mereka bersepakat mengadakan pemilihan khusus (Pemilku) di Kelurahan Karang Kedempel. Dibentuklah Komisi Pemilihan Khusus (Kpeku) sebagai lembaga independen yang menyelenggarakan pemilihan yang diketuai oleh Gareng. Mereka sepakat membuat aturan mainnya. Bukan hanya soal teknis pemilihannya, bahkan mereka juga sepakat, bahwa siapapun nanti yang terpilih gelar jabatannya bukan lagi Lurah, tapi PRESIDEN Republik Karang Kadempel.

  Kampanye berlangsung sangat sengit, para pendukung masing-masing saling mengejek pilihannya. Sayangnya, dalam kampanye itu banyak bertebaran berita hoax. Konon, karena ambisinya Bagonglah yang lebih banyak memproduksi hoax. Tumenggung Roti Gulung (RG) yang berada di pihak Bagong justru berpendapat sebaliknya, bahwa hoax itu diciptakan oleh pihak Petruk. 

  Sampailah pada saat pemilihan. Menurut hitungan cepat oleh lembaga-lembaga penghitungan cepat "Kuwikon" dengan data masuk di atas 90%, pemilihan dimenangkan oleh Petruk, dengan kisaran angka kemenangan 53-54%. Petruk sendiri masih menunggu hasil resmi Kpeku. 

  Sementara, sorak sorai riang Gembira ada di pihak Bagong. Sujud syukur kemenangan pun sudah dilakukan. Meskipun Kuwikon menyebut kemenangan ada di pihak Petruk, Bagong dengan para pendukungnya telah melakukan deklarasi kemenangan sebanyak tiga kali dalam dua hari. 

  Sejak awal, Bagong yang didukung mBah Kuni ini, meskipun belum pemilku, mengatakan berdasarkan survei internal Bagonglah pemenang pemilku. Bila Bagong kalah maka ada kecurangan sistematis. Pernyataan ini membuat pendukung Bagong yakin bila Kpeku bermasalah. 

  Sorak sorai kegembiraan ini semangkin membuat Bagong dielu-elukan oleh pendukungnya. Di mana-mana, baik elit ataupun kawula alit pendukungnya sudah memanggil Bagong dengan sebutan "Presiden Bagong". Mereka yang berseragam krem, sewarna dengan kostum kebanggan Bagong sejak 10 tahun yang lalu terhitung pemilku terakhir, berbaris dan salam hormat serta mencium tangan bergiliran sambil berucap: "SIAP PAK PRESIDEN BAGONG!!!!"

  Begitulah Bagong dengan pendukungnya dengan segala polah tingkahnya. Bagi sebagian besar yang mengutamakan kewarasan berfikir ala Roti Gulung (RG), polah tingkah Bagong ini sudah masuk kategori gila.

Oleh Ki Lantip Panggrahito (Dalang Kurang Tanggapan, tinggal di Sleman).