WHAT'S NEW?
Loading...


Telah lama aku tidak mengikuti pengajian itu. Hiruk pikuk kampus dan rutinitas gerakan mahasiswa, membuatku limbung dalam ketidakpastian. Tapi apa yang telah pasti dari sebuah perjalanan yang panjang ini? Di sela-sela berbagai aktivitas itulah aku biasanya mengikuti pengajian di Kadipiro itu. Sekadar untuk variasi kegiatan, dan penyegaran pikiran dan perasaan.
Pengajian itu sendiri tak benar-benar bisa disebut pengajian. Setidaknya pengajian itu tidak seperti umumnya pengajian, di mana penceramah atau mubalighnya nyerocos berjam-jam tanpa henti. Meskipun jamaahnya ngantuk dan tertidur, atau ngrumpi di belakang, umumnya pengajian hanya berjalan searah. Penceramah bertindak layaknya seorang monolog yang bicara sendiri sampai tenaganya habis dan keringatnya bercucuran. Pengajian itu dimulai dengan gamelan, terbangan, sholawatan. Sesekali lagu shalawat dair daerah Mandar dan Timur-tengah-an berkumandang. Beberapa kali joke digulirkan. Penceramah, dia memerankan dirinya sebagai semacam fasilitator atau pendamping dalam kegiatan-kegiata pendampingan komunitas yang umumnya diadakan oleh LSM. Memang agak aneh pengajian ini.
Lebih aneh lagi bila kalian akhirnya akan tahu, bahwa pendiri dan pegiat pengajian adalah seorang seniman atau tepatnya budayawan. Dulu dia seorang penyair kritis, sastrawan produktif, tulisannya di berbagai media. dia adalah bagian dari orang-orang kritis seperti Emha Ainun Nadjib, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Amin Rais, Megawati, Rendra, Wiji Tukul atau yang lainnya. Penyair yang menjadi pegiat pengajian itu dulu sering dicekal tampil oleh penguasa Orde Baru. Ketika geger politik 1998, dan gerakan reformasi yang tanggung, dia ikut serta menjadi salah seorang begawan negara yang sedia untuk menemui seorang calon pesakitan, yaitu Soeharto.
Presiden yang telah memimpin Indonesia hingga 32 tahun lamanya, dan sungguh kasihan, mengakhiri kekuasannya dengan cara yang menyakitkan. Dia dituntut mundur karena krisis ekonomi yang berkepanjangan –oleh tekanan para pemodal internasional, dan krisis politik yang panjang –oleh para oportunis di sekitarnya yang tak lagi menyukainya, kelompok-kelompok munafik yang menunggu giliran berkuasa, dan DPR yang pengecut –lembaga yang lama dibela dan diberinya makan, namun hanya ingin cari selamat sendiri. Pada masa ini boleh jadi tuntutan rakyat dan gerakan mahasiswa hanya menjadi pelengkap dari bagian catatan sejarah. Dia bukanlah faktor penentu yang sesungguhnya, atau boleh jadi hanya tumbal dari geger politik dan peralihan kekuasaan. Sesuatu yang selalu terjadi, sejak masa kemerdekaan, geger politik 66 dan jugakembali terjadi di tahun 1998. Penyair yang telah menjadi seorang pegiat pengajian itu ikut serta mendampingi presiden yang ingin lengser keprabon. Akibatnya, dia dicibir dan dicerca banyak orang, mungkin karena faktor politik juga, dan dianggap menerima sogokan-sogokan sehingga sikapnya menjadi lunak. Kasihan memang.
Dia tak lagi banyak menulis, atau mungkin menulis diam-diam saja. tulisannya tak lagi sering terlihat di media. Tak juga tampil di panggung-panggun seniman. Tiba-tiba dia mengusung sekelompok musik gamelan, yang diberinya warna lagu-lagu agama dengan berbagai modifikasi. Mungkin karena latarbelakangnya juga, pengajiannya termasuk dianggap progresif, terdapat dialog antara rakyat dan pejabat, dia sebagai pemandunya. Sering juga dia mengorbitkan penceramah-penceramah baru yang lucu dan cerdas. Tapi biasanya, dia hanya menjadikan pengajian ini menjadi semacam jembatan. Setelah sukses, dan mendapatkan banyak order di Jakarta –mungkin sebagai penceramah di televisi, dia tak lagi atau hanya sesekali tampil di pengajian ini. sang penyair yang telah jadi pegiat pengajian tidak mempersoalkan hal tersebut, dan boleh jadi dia memang sengaja menjadikan komunitas yang didampinginya tersebut sebagai semacam kawah candradimuka dan ruang penggemblengan saja.
Di pengajian inilah, aku dan mungkin banyak mahasiswa lain yang mengikutinya. Sepeda motor terpakir, mungkin lebih dari 300 motor, dan juga mobil-mobil yang siap berdesakan. Saat hujan tiba, orang-orang ini rela menunggu dingin sambil berdesak-desakan. Malam ini, heran juga, aku berangkat dengan satu rombongan sebanyak 8 orang. Biasanya hanya berdua, dengan teman boncengan yang berganti-ganti. Seringkali dengan adik-adik kelas yang ingin mengikuti pengajian itu juga. Lebih heran lagi, malam ini, saat tiba di lokasi, terdapat juga para mahasiswa-mahasiswa idealis di kampus masing-masing. Mereka ini adalah pimpinan pers mahasiswa di kampus negeri, dan juga aktifis gerakan mahasiswa di tingkat wilayah Yogyakarta. Apa yang mereka cari sesungguhnya? Sama denganku juga?
Tak dinyana, malam ini sang penyair yang fasilitator menyampaikan, malam ini pengajian akan kedatangan tamu agung nan suci dari jakarta. Pengajian ini terlalu sering dikunjungi orang-orang besar dan terkenal, bahkan seorang Komandan Polisi dan Tentara pernah berceramah di sini, sambil bergurau bersama jamaah –sesuatu yang yang agak aneh di masa lalu, mengingat jamaah ini banyak diikuti orang-orang yang agak apatis terhadap polisi, tentara, atau penguasa yang menyimpang. Aku yang saat tiba di lokas dalam keadaan lelah dan ngantuk, terperanjat juga. Rasa ngantukku tiba-tiba hilang.
Malam ini pengajian dibuka oleh suara merdu dari istri sang penyair yang jadi pegiat pengajian. Istri sang penyair yang menjadi fasilitator dulunya memang seorang artis terkenal, namun kini telah “tersesat ke jalan yang benar” dan telah melengkapi dirinya dengan identitas diri sebagai seorang istri “kyai” yaitu berjilbab. Namun, selain pengabdian rumah tangga, seringkali juga dia mengikuti acara pengajian dan mendendangkan suaranya yang telah lama tak didengarkan orang melalui radio atau dilihat di televisi. Anak-anak gadis yang mengikuti pengajian umumnya juga ingin bertemu dengan mantan artis tersebut, untuk memastikan bahwa dirinya sehat dan baik-baik saja.
Setelah berbagai dendang disuarakan itulah, dari sudut yang sangat sempit aku dapat melihat kedatangan sang penyair dari Jakarta, sosok yang disebut penyair fasilitator sebagai orang yang suci.
Tubuhnya begitu renta. Meskipun semangat tampak muncul di wajahnya, dan raut muka yang tak gentar dengan rasa takut dan tekanan, namun bayang-bayang masa lalu yang selalu membelenggu membuatnya terlihat sangat lelah. Penampilannya sangat sederhana, dengan celana jins dan kemeja putih, bersahaja. Rambut gondrongnya yang mengombak dibiarkannya tergerai. tapi sisa-sisa kegagahannya masih terlihat.
Heran juga, telah lama hidup di jakarta, kenapa hidupnya masih seperti ini? aku telah sering dan banyak mendengar dan menyaksikan sendiri kehidupan orang-orang jakarta. Orang-orang daerah, dari yogyakarta juga, banyak yang sukses di jakarta. Mungkin itulah yang membuat jakarta penuh sesak. Konon 80 persen uang di Indonesia itu ada di Jakarta, dan 20 persen sisanya dibagi-bagi rata ke berbagai daerah. Karena itu, konon, semiskin-miskinnya orang di Jakarta, masih bisa punya rumah baik di daerahnya. Apalagi, bagi orang-orang yang punya jabatan, uangnya pasti dibelikan tanah dan rumah yang terletak di berbagai daerah. Tentang, apakah rumah itu sekaligus istri simpanan, aku tak terlalu mengikuti isu-isu seperti itu.
Aku juga sering mendapatkan cerita dari sahabat-sahabatku yang mengaku telah sukses di Jakarta. Mereka ini ada yang jadi broker media, ada yang jadi staf ahli di DPR, atau sekadar jadi wartawan amatiran. Sahabat-sahabat yang dulu aktif di pers mahasiswa dan juga penulis produktif, tidak mampu menahan gejolak kebutuhan sehari-harinya. Yogyakarta seperti tidak mampu menampung orang-orang seperti ini. akhirnya dia pergi ke Jakarta. Dia mendapatkan uang cukup banyak dari pekerjaannya sebagai broker media. dia mengikuti seorang seniornya yang pernah menjadi tim sukses presiden. Mereka bermarkas di sebuah klub yang isinyapara tim sukses dan anak buah mereka masing-masing. Di markas tersebut, sahabatku yang mantan aktifis pers bekerja menggarap bulletin yang diterbitkan oleh tim sukses tersebut. Maklum, di Jakarta konon tak banyak orang yang mengurus hal-hal teknis seperti mengerjakan produksi dan redaksi media seperti bulletin tersebut. Lumayan. Dari hasil pekerjaannya tersebut, sahabatku bisa mendapatkan 4-6 juta perbulan, sebuah nominal yang jauh lebih besar dibandingkan bila dia tetap di Yogyakarta.
Seorang sahabat lain, lulusan universitas negeri yang berbasis agama, temanku juga, bercerita panjang lebar tentang petualangannya di Jakarta. Dia menceritakan, selepas dari kampus, dia nekat ke Jakarta. Seperti biasanya saat mahasiswa, dia tidak memiliki banyak uang yang digunakannya bertahan hidup di Jakarta. Untungnya, menurut pengakuannya, detik-detik menjelang uangnya habis, dia justeru bertemu dengan seorang senior alumni lulusan kampusnya. Dia diajak makan dan minum di sebuah rumah makan padang. Alumni tersebut yang membayar seluruh makanan dan minumannya. Kata alumninya, tradisi seperti ini memang dilakukan oleh para alumni terhadap junior-juniornya: mentraktir para junior yang belum memiliki ketetapan hidup. Ternyata alumninya tersebut telah menjadi anggota dewan. Akhirnya, oleh alumni tersebut, temanku diajak dan ditawari menjadi staf ahlinya. Tugasnya adalah membawakan stofmap, tas atau koper alumni ke manapun alumni tersebut pergi. Mungkin agak mirip dengan kacung atau babu. Namun, karena pembantu anggota dewan maka dia disebut staf ahli. Memang agak berbeda sih, karena temanku itu tak hanya bekerja teknis tetapi juga sesekali menyiapkan makalah untuk seminar, atau bahan pertanyaan menjelang kunjungan kerja. Dari pekerjaannya itu, temanku bisa sekolah S2 di UI jurusan komunikasi hingga lulus. Dahsyat bukan?
Karena itulah aku heran melihat penyair dari Jakarta itu. Tubuhnya renta dan wajahnya menunjukkan kegundahan yang mendalam. Bukankah karya-karya yang dihasilkannya telah cukup banyak? Bukankah dia telah berada di Jakarta sejak muda, dulu kala? Mengapa dia masih terlihat miskin dan serba kekurangan? Apakah tidak ada pihak yang mempedulikan nasib orang-orang sepertinya? Bukankah dia telah berjasa, ikut serta menggerakkan gerakan 66 silam yang sebagian besar penggeraknya menjadi pendukung utama Orde Baru?
Aku menghentikan kegelisahanku terhadap penyair itu. Dia terlihat mulai berdiri di atas panggung. Di tangannya tergenggam sebuah kertas.
“Saya telah tidak ingat banyak dengan sajak-sajak saya. Tetapi saya masih memiliki beberapa naskahnya. Mungkin saya hanya akan membacakannya saja. mudah-mudahan napas saya masih cukup kuat untuk membacakannya dengan baik,” serunya dari panggung.
Hadirin hening dan terhanyut dengan suasana yang dibangun oleh penyair dari Jakarta itu. Dia pun mulai membaca beberapa sajak yang diciptakannya.
Suaranya masih menggelegar seperti saat dia masih muda dulu. Intonasinya juga cukup terjaga, menunjukkan kesehatannya juga tetap terjaga dari polusi udara. Tangan kanannya sesekali mengacung ke udara dan pandangannya tajam menatap ke depan. Dia mirip burung rajawali yang perkasa dan suaranya yang menggetarkan.
Satu sajak telah berlalu. Terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh dari audiens. Penyair dari Jakarta itu duduk sejenak di atas kursi yang disediakan oleh panitia. Dia sedang memilah kertas-kertas di dalam sebuah stofmap usang. Dia sedang mencari sajak lain yang mungkin akan segera dibacakannya. Ternyata benar. Tak lama kemudian penyair dari Jakarta itu telah berdiri kembali dengan suara yang menyayat-nyayat. Seperti isi hatinya yang gelisah terhadap kondisi bangsanya.
Setelah beberapa sajak dibacanya, acara pun selesai. Aku menyempatkan diri menemuinya. Aku ingin bertanya beberapa hal, berkaitan dengan sastra dan juga masalah bangsa. Mungkin hasilnya bisa kutuliskan dalam majalah kampus. Selesai berbincang sejenak tersebut, aku meminta semacam pesan terakhir. Mungkin sesuatu yang bisa menambah semangatku untuk menjalani hidup ini. Kata penyair dari jakarta itu:
“Kalau engkau tidak siap miskin, janganlah jadi penyair. Karena sajak tidak menyediakan harta benda, rumah, mobil mewah, dan jabatan tinggi untukmu. Jadi pikirkanlah matang-matang sebelum engkau ingin menjadi seorang penyair.”
Pelan sekali kata-kata itu diucapkannya. Mungkin dia memendam semacam emosinya yang mendalam. Tetapi kata-katanya telah membuatku terguncang. Mungkin semacam bingung juga. Aku pun berpamitan untuk pulang. Sepanjang jalan pulang, aku terus memikirkan kata-katanya tersebut. Apakah benar apa yang dikatakanya?

Cerpen ini pernah dimuat di www.kompasiana.com




Ada yang salah dengan pandanganku terhadapnya: sosok yang tengah terbujur di depan sana. Mula-mula ia datang kepadaku dengan membawa tanya: bagaimana caranya menjadi pengarang? Ia melanjutkan: maksud saya, bagaimana menjadi pengarang yang baik, yang karya-karyanya langsung bisa dinikmati dan diakui publik?
Ketika itu aku masih menduga –jika tidak boleh disebut sebagai syakwasangka. Akankah dia benar-benar ingin menjadi pengarang? Apakah bukan karena pilihan spontan –oleh sebab tekanan pikiran yang dideritanya akhir-akhir ini? Dan aku hanya tersenyum saat itu, ketika itu.
Dan bila ia datang lagi kepadaku: tentang pertanyaan-pertanyaan itu, tentang keinginan-keinginan itu. Aku tidak bisa lagi terdiam. Kataku: jika engkau ingin mengarang, mulailah sejak sekarang. Tulis saja yang engkau inginkan. Tuangkan perasaan dan pikiran, apapun yang engkau senang. Senang bila beban yang mengendap itu bisa terbuang.
Ia menemuiku lagi, tiga hari kemudian. Empat halaman cerpen di atas kertas berukuran kwarto. Aku terheran-heran: bagaimana dia bisa secepat itu membuat sebuah karya? Bahkan seorang Milan Kundera, Octavio Paz, Putu Wijaya dan Ahmad Tohari saja mungkin butuh waktu lama untuk seperti itu –setidaknya pada tahap refleksi dan pengendapannya. Pikirku ketika itu: ini pasti asal tuang. Pasti. Bukankah ia memang pemula? Tapi, tak apa. Bukankah yang penting ia sudah menuangkannya –ide dan gagasan itu? Tapi, tidak terbersit dalam pikirku ketika itu untuk menganggap empat halaman itu sebagai karya picisan milik pemula kemarin sore.
Tapi memang, awalnya aku acuh saja. Kataku waktu itu: engkau harus banyak membaca. Tidak ada seorang penulis yang baik –kecuali ia adalah seorang pembaca yang baik. Ia menyodorkan empat halaman yang belum kubaca, tapi sudah kucurigai itu: karya pemula buah dari asal tuang beban di dalam benak pikiran. Ia kembali datang dengan gagah. Menagih penilaianku tentang empat halaman itu. Gila. Bahkan aku belum sempat melihatnya. Karena aku buru-buru meletakkannya di atas meja. Tentu, dengan alasan, karena aku pun harus menyelesaikan beberapa halaman.
Ia pergi, meninggalkanku sendiri. Marah, mungkin. Tapi apa yang bisa dinilai atas karya seorang pemula? Seperti aku dulu: ia masih butuh waktu untuk berproses, memeras otak dan perasaan, dan berpanas-berhujan untuk mengejar serak gagasan. Mungkin di pinggir-pinggir jalan, barangkali jatuh bersama titik-titik hujan, mungkin terhempas oleh angin siang. Dan aku tidak sendirian. Andai ia mencari yang lain, yang lebih dulu hadir, pasti tidak berbeda jauh. Empat halaman itu pasti akan dikatakan: imajinasi picisan. Bukankah aku tidak –setidak-tidaknya tidak cukup tega- berucap seperti itu?
Lama ia tidak menantangku untuk menilai empat halaman itu. Ketika tiba-tiba ia datang di hadapanku. Tidak dengan tangan kosong. Ada beberapa halaman. Sepertinya berbeda dengan empat halaman yang lalu. Selain beberapa halaman itu, ia juga menyodorkansatu halaman yang lain. Halaman sebuah koran. Pikirku ketika itu: mungkin ia ingin aku membandingkan beberapa halaman miliknya itu dengan satu halaman yang lainnya. Jika satu halaman yang lain itu milik Putu Wijaya, Seno Gumira Aji Darma, Jujur Prananto, atau Kuntowijoyo dan Danarto, aku tidak usah bersusah-payah. Satu halaman yang lain itu pasti lebih baik kualitasnya dari beberapa halaman miliknya itu.
Tapi dugaanku meleset. Bahkan salah sama sekali. Ia menuding satu halaman yang kuduga milik Putu Wijaya, Danarto, Seno Gumira Aji Darma, atau Kuntowijoyo itu. Ia menunjuk sebuah nama: nama milik orang yang kini terbujur di depan sana. Tangannya masih menuding, bukan kepada nama orang yang terbujur di sana sepertinya, tapi kepada kepada tiga kalimat yang ada di atasnya: Matinya sang Pengarang. Belakangan aku tahu, itu memang empat halaman yang disodorkan kepadaku, dulu.
Sepertinya ia nekat mengirimkanempat halaman yang dulu ke sebuah koran lokal. Mungkin ingin menantang keacuhanku. Barangkali ingin melawan keangkuhanku saat itu. Setelah itu ia terlibat berbincang serius denganku: tentang beberapa halaman miliknya, tentang beberapa halaman milikku, tentang beberapa halaman di beberapa koran –lokal dan nasional- serta beberapa halaman dari buku kumpulan. Sesekali ia mengajakku pergi, atau aku mengajaknya pergi. Kadang ke shopping centre berburu buku –kami ingin mencari yang murah saja-, sering ke Purna Budaya atau Bentara Budaya –barangkali ada pertunjukan teater atau pameran lukisan.
Beberapa kali beberapa halaman yang dikarangnya dikirimkan ke media, lokal dan nasional. Dan, seringkali, ia mengajakku ke warung koboy –tempat kami dan teman-teman ngobrol kecil tentang situasi negara, dengan ditemani segelas es teh dan mungkin jahe panas. Katanya: ini uang sial. Ia membayar segala yang kami makan dan minum. Memang tidak perlu banyak rupiah untuk membayar semuanya. Tentu, jika dibandingkan dengan rupiah yang didapatnya dari hasil mengirim beberapa halaman itu.
Di warung koboy itu pula, kami sering meledek halaman-halaman yang dibuatnya. Meski sering mendapatkan kiriman rupiah karena halaman-halaman yang dikirimnya dimuat media, tapi beberapa teman menganggapnya tidak bagus. Entah apa maksudnya. Tidak jarang mereka menghujat halaman-halaman yang dibuatnya. Beruntung ia selalu tersenyum. Tidak marah. Padahal ia juga yang mengajak dan membayar makan dan minum teman-temannya itu.
Ia tidak kapok atau ciut nyali. Ia hanya menulis, mengarang, dan akan terus seperti itu. Seperti yang didengarnya dari mulutku dulu: tulis saja yang ingin engkau tuang. Syukur menjadi bagus, dan mendapat pujian. Jika tidak, berburu lagi, merenung lagi, dan menuang lagi. Ia memang tegar, bak karang di tengah lautan. Ia kokoh seperti bungker yang tahan gempa dan bom. Ia tidak berharap pujian, apalagi hujatan. Terserah. Ia hanya menuang. Baik, buruk, meragukan, silakan penilaian orang. Bukankah orang boleh salah –untuk menuju yang sempurna?
Dan, sekarang, ia terbujur di depan sana. Ia, mungkin meninggalkan segenap pesan, khusus untuk para pemula. Apa saja. Di mana saja. Mungkin untuk mendobrak kebekuan. Barangkali untuk melawan arogansi. Ia mungkin serius untuk itu semua, seperti ia serius terbujur, di depan sana, saat ini.

Cerpen ini pernah dimuat di www.kompasiana.com

Hari minggu aku menonton kartun Masha
Masha sangat nakal
Tetapi dia punya ide cermelang

Dia suka ngusilin beruang
Beruang sangat jengkel kepadanya

Masha suka mengganggu Beruang  
dan sangat menjengkelkan

Tapi aku sangat suka kartun Masha
Dia banyak belajar
dan membuat sesuatu

kadang dia lucu
dan juga bermain seru

Tanggal 10 bulan dua, atau bulan Februari, tahun 2008
Aku lahir ke dunia.

Tanggal 10 bulan dua, atau bulan Februari, tahun 2019
Aku ulang tahun.

Ulang tahunku  dirayakan 
Dengan menerbitkan buku  
Yaitu buku puisi karyaku

Buku puisiku berisi banyak puisi
Ada puisi untuk nenek
Ada puisi untuk kakek
Ada puisi untuk ummi
Ada puisi untuk abi
Ada puisi burung kolibri
Ada puisi shiva
Ada puisi sepatu merahku
Ada puisi saat aku pergi ke tawau Malaysia
Ada puisi hiking HW
Dan banyak puisi lagi

Aku ingin puisiku menjadi buku
Aku berdoa di ulang tahunku

Semoga aku dapat menggapai cita-citaku
Aku ingin menjadi dokter 
Dan mempunyai rumah sakit sendiri

Semoga dengan ulang tahunku 
Aku dapat mengapai cita-citaku


Sepulang sekolah aku ke KFC
Aku pesan nasi dan ayam dibungkus
Di KFC banyak orang membeli
Aku ikut mengantri 

Ketika giliranku memesan
Aku memesan ayam sayap dan minum
ditambah ice cream kesukaanku 
Sampai di rumah aku langsung 
makan ayam, meminum pepsi, 
dan memakan ice cream

Aku pilih rasa coklat 
Di KFC ice cream ada dua pilihan
Ice cream coklat dan strawberry

Aku lebih suka rasa coklat 
rasa coklat paling enak 


Shiva kartun kesukaanku
Tiap hari aku menontonnya
Shiva sangat pemberani
Aku ingin seperti dia
Pemberani
Melawan penjahat, maling, 
Penculik, perusak hutan, dan sebagainya.
Shiva tayang sore dan pagi
Bila sekolah, aku menontonnya sore
Jika minggu, aku menontonnya pagi dan sore


Hari ini ada kecelakaan di depan sekolahanku
Awalnya aku berbicara dengan sahabatku di sekolah
Tiba-tiba ada suara besar dari jalan raya
 Rupanya orang terjatuh
Kecelakaan.
 Kakek-kakek jatuh dari motornya
Motor kakek-kakek itu terlempar
Membunyikan suara  sangat keras

Ada juga kakek-kakek lain
Terjatuh pula dari motornya
Kakek-kakek tersebut hendak berbelok
Menjemput cucunya yang bersekolah di sekolahku
Dan dia kaget mendengar suara keras itu
Akhirnya kakek-kakek pun terjatuh juga
Karena kaget suara motor terlempar
Motor kakek-kakek itu pun terlempar
Kakek itu berdarah
Berdarah tangannya
Mimisan hidungnya
Ih pokoknya ngeri

Nah bagi yang naik motor
Atau mobil, atau truk, harus hati-hati
Pelan-pelan saat mengendarai mobil,
truk, dan motor
Jangan laju-laju
dan jangan rem mendadak.

2019