WHAT'S NEW?
Loading...



OLEH MUSTIKA, MAHASISWA PBI FKIP UBT, TINGGAL DI TARAKAN

KOMITMEN CINTA DALAM BUKU CERPEN USTADZ MISTERIUS KARYA MUHAMMAD THOBRONI


         Buku cerpen berjudul Ustadz Misterius karya Pengarang   Kalimantan Utara Muhammad Thobroni ini terbit tahun 2018 oleh penerbit  Agung Mulia dengan tebal buku 112 halaman. Di dalamnya terdapat beberapa cerpen, salah satunya yang menarik berjudul Ustadz Misterius Penebar Cinta yang sekaligus bagian depan hidupnya digunakan sebagai judul buku cerpen ini. Cerpen Ustadz Misterius ini menarik salah satunya disebabkan persoalan sosial yang banyak terjadi khususnya terkait hubungan cinta para lelaki dan perempuan muda. Dalam cerpen ini, perempuan menjadi korban janji palsu dari seorang lelaki yang disebut sebagai ustadz.

    Dalam cerita pendek yang berjudul “Ustadz Misterius Penebar Cinta” ini menceritakan seorang ustadz sekaligus dosen, yang bernama Imam. Yang ingin menikahi seorang guru yang bernama Minah. Namun, setiap kali ia mengajak Minah untuk menikah, ia selalu mempunyai alasan. Alasannya adalah takut menikahi Minah, jika ia tidak bisa memberikan sebuah kebahagian. Sudah sering kali Imam mengambil keputusan yang sama, ia ingin menikah Minah namun ia selalu beralasan takut untuk tidak bisa memberikan Minah sebuah kebahagiaan. Minah sebenarnya sudah agak bosan mendengar ucapan Imam tersebut. Tetapi, karna Imam sering mengucapkan hal tersebut, jadi Minah sungguh sudah sangat terbiasa mendengarnya.
     Persoalan sosial kemasyarakatan yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah Imam selalu membuat keputusan yang sama dan itu sangat-sangat beralasan. Sehingga Minah menjadi bimbang untuk menerima Imam sebagai calon suaminya. Sering kali Imam mengucapkan hal yang sama, sehingga Minah mengira Imam mempunyai rahasia. Apalagi ketika  Imam berkata “Bagaimana kalau kita menikah dengan syarat?”. Dan Minah mulai menilai Imam sebagai sosok misterius. Meskipun dikenalkan sebagai sosok ustadz. Tapi tetap saja bagi Minah, Imam sangat  misterius.
    Dalam cerpen "“Ustadz Misterius Penebar Cinta” terdapat persoalan sosial kemasyarakatan yaitu tampak pada perilaku Imam yang hanya menebar cinta. Imam berusaha meyakinkan Minah untuk menerima dirinya dan mengatakan pada Minah untuk menikahinya dalam waktu dekat. Sehingga dari perkataan Imam, Minah mulai merasakan tumbuhnya tunas bunga di dalam hatinya. Hari demi hari Minah lalui dengan menanti keputusan selanjutnya dari Imam. Namun akhirnya Minah hanya diberikan harapan dan janji palsu.
    Nilai sosial dalam cerpen tersebut memiliki sisi yang menggambarkan bersifat tidak mempunyai komitmen. Karakter Imam dalam cerpen yang berjudul “Ustadz Misterius Penebar Cinta” ini selalu menebarkan harapan palsu kepada Minah. Imam tidak pernah membuat keputusan yang berbeda dari sebelumnya. Keputusannya selalu sama dan selalu membuat Minah bimbang. Entah mengapa keputusannya selalu seperti itu, yang pasti Imam adalah Ustadz yang sangat misterius bagi Minah.
 Terdapat pesan moral yang dapat kita ambil dari cerpen yang berjudul “Ustadz Misterius Penebar Cinta” adalah sebagai laki-laki, apalagi calon imam harusnya mampu mempunyai komitmen dan keberanian untuk meminang sang pujaan hati. Dan jangan selalu membuat keputusan yang hanya menebarkan harapan-harapan dan janji-janji palsu.

Mustika, mahasiswa PBI FKIP UBT, tinggal di Tarakan, Kalimantan Utara

#kaltaramembaca
#kaltarabersastra
#ubtjaya



Oleh Lisnawati, mahasiswa PBSI FKIP UBT, tinggal di Sebatik, Kabupaten Nunukan

HUBUNGAN TANPA KOMITMEN DALAM CERPEN USTADZ MISTERIUS KARYA MUHAMMAD THOBRONI


Salah satu karya sastra menarik yang ditulis pengarang Muhammad Thobroni ialah buku cerpen Ustadz Misterius. Buku yang terbit tahun 2018 dan diterbitkan Agung Mulia itu memiliki ketebalan 112 halaman.
Pada buku Ustadz Misterius bagian cerpen “Ustadz Misterius Penebar Cinta” terdapat beberapa tokoh yakni Imam, Minah, dan Mbak Reni. Cerita ini menggambarkan sosok ustadz misterius yang dipertemukan dengan salah satu wanita bernama Minah. Melalui perantara kakaknya, mereka mulai berkenalan walaupun diawal perkenalan keduanya tampak masih malu dan tak ada yang memulai percakapan. Namun, seiring berjalannya waktu ustadz memulai perbincangan melalui pesan handphone yang ia tujukan kepada Minah. Hingga akhirnya, ustadz yang bernama imam itu menanyakan perihal pribadi Minah yakni “apa pandangan Minah mengenai pacaran?”. Sejak saat itu perbincangan ditelepon diteruskan. Ketakutan Imam tidak dapat memberi kebahagiaan kepada Minah membuat Imam berterus terang untuk mengajak Minah Menikah saja. Adapun pernikahan yang hendak mereka jalani adalah Menikah dengan Syarat. Syarat itu berisikan Minah siap melepas rumah tangga nya ketika imam telah mengecewakannya. Sama seperti hari berikutnya Minah mendapat telpon dari Imam, yakni ajakan Imam untuk menikahinya dalam waktu dekat. Segala hal yang diucapkan Imam belum ada yang terlaksana, sehingga Minah tampak semakin ragu dan beranggapan Ustadz hanya menebar cinta, menebar janji dan harapan palsu yang berujung cinta bermodalkan modus.
Dalam cerpen “Ustadz Misterius Penebar Cinta” terdapat persoalan sosial kemasyarakatan yaitu tampak pada perilaku Imam yang hanya menebar cinta. Imam berusaha meyakinkan Minah untuk menerima dirinya dan mengatakan pada Minah untuk menikahinya dalam waktu dekat. Sehingga dari perkataan Imam, Minah mulai merasakan tumbuhnya tunas bunga didalam hatinya. Hari demi hari Minah lalui dengan menanti keputusan selanjutnya dari Imam. Namun akhirnya Minah hanya diberikan harapan dan janji palsu.
Persoalan sosial  kemasyarakatan yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah Imam selalu membuat keputusan yang sama dan sangat-sangat beralasan. Sehingga Minah menjadi bimbang untuk menerima Imam sebagai calon suaminya. Seringkali Imam mengucapkan hal yang sama, sehingga Minah mengira Imam mempunyai rahasia. Apalagi ketika Imam berkata “Bagaimana kalau kita menikah dengan syarat?”. Dan Minah mulai menilai Imam dengan sosok misterius. Meskipun diperkenalkan sebagai sosok ustadz. Tapi tetap saja bagi Minah, Imam sangat misterius.
Persoalan sosial yang diangkat dalam cerpen yaitu tokoh  Imam tidak mengatakan hal yang tidak dapat ia buktikan. Alias tidak punya komitmen dalam menjalani hubungan.  Dari yang Imam katakan membuat Minah bingung dan ragu untuk memberi kepercayaannya. Dan menjadikan Imam tidak dipercayai lagi oleh Minah. Sikap Imam membuat dirinya dipandang buruk sebagai sosok ustadz. Sehingga silahturahmi mereka dapat terganggu akibat hilangnya kepercayaan.
Pesan dan moral untuk pembaca adalah sebagai makhluk sosial pentingnya kita berpikir sebelum mengeluarkan perkataan yang berupa janji kepada seseorang. Jika kita hanya berbicara tanpa bertindak maka sama saja “tong kosong nyaring bunyinya” maknanya yang diinginkan tidak akan dapat terlaksana sesuai yang diharapkan. Selain itu, jadilah manusia yang bertanggung jawab terlebih lagi terhadap apa yang kita ucapkan. Sesungguhnya lisan kita dapat menggambarkan kualitas diri kita. Karena dari Lisan yang baik akan menciptakan sikap yang baik, dan sebaliknya. Perkataanmu harus memiliki komitmen yang jelas agar kedepannya tidak merasa dilema. Serta bijaklah dalam mengambil keputusan yang jika sedari awal kamu merasa bahwa itu tidak ada benarnya.


Lisnawati, mahasiswa PBSI FKIP UBT,  tinggal di Sebatik, Kabupaten Nunukan

#kaltaramembaca #kaltarabersastra #ubtjaya


Oleh Nur Riska, mahasiswa PBSI FKIP UBT,  tinggal di Bulungan, Kalimantan Utara

Moralitas Cinta dalam Buku Cerpen Ustadz Misterius karya Muhammad Thobroni



Buku cerpen Ustadz Misterius karya sastrawan Kalimantan Utara Muhammad Thobroni ini diterbitkan tahun 2018 oleh penerbit Agung Mulia dengan tebal Halaman sebanyak 112 halaman. Dalam buku kumpulan cerpen ini terdapat beberapa cerpen menarik, salah satunya ialah Ustadz Misterius Penebar Cinta, yang sekaligus dipotong menjadi judul buku yakni Ustadz Misterius.

             Cerpen Ustadz Misterius Penebar Cinta menceritakan sebuah kisah cinta sepasang kekasih yang bernama Minah dan Imam yang mempunyai kisah cinta atau hubungan yang dipenuhi dengan kebimbangan. Seorang Minah yang menanti kepastian dari seorang Imam yang tidak bisa memberikan kepastian tersebut dan tidak mempunyai kejelasan tentang hubungan selanjutnya.

              Persoalan sosial yang ada didalam cerita tersebut adalah persoalan sosial terkait masalah hubungan sepasang anak manusia yang hendak berkeluarga. Dimana keluarga Imam sudah mengetahui hubungan tersebut namun belum ada kejelasan sehingga membuat perasaan minah kadang senang dan kadang bingung dengan ucapan yang disampaikan oleh Imam melalui telpon.

          Kritik sosial yang ingin disampaikan dalam cerita pendek yang berjudul Ustadz Misterius Penebar Cinta tersebut ialah sebagai seorang wanita jangan berikan kepercayaan atau tanggung jawab kepada lelaki yang hanya bisa menebar cinta saja tanpa harus memberi kepastian.

      Pesan moral dari cerita pendek yang berjudul Ustadz Misterius Penebar Cinta tersebut terdapat pesan penting. Bahwa ketika kita menginginkan cinta  seseorang maka berjuanglah, yakinkan pasanganmu dan buatlah komitmen bersama. Dan jika dihatimu tidak ada kesiapan maka berusahalah sampai kalian yakin bahwa hal tersebut sudah benar - benar mantab. Dalam cerita ini juga terdapat pesan bahwa untuk wanita jangan cepat menerima cinta lelaki yang masih membuat kamu bertanya - tanya, dan untuk lelaki jangan memberi harapan jika masih sekedar dipikirkan, karena seorang wanita butuh kejelasan status bukan hanya sekedar modus. Dan jika ada masalah belajarlah untuk berbicara dan menyelesaikan masalah tersebut jangan hanya melalui telfon, tetapi bertemulah agar lebih jelas.

Nur Riska, tinggal di Bulungan, Kalimantan Utara, mahasiswa PBSI FKIP UBT

#kaltaramembaca
#kaltarabersastra
#ubtjaya


Oleh Winda, mahasiswa PBSI FKIP UBT,  tinggal di Kabupaten Tana Tidung

KEPRIHATINAN HIDUP SEORANG SANTRI DALAM CERITA PENDEK "ZIARAH" KARYA MUHAMMAD THOBRONI


          Buku cerita pendek berudul Ustadz Misterius yang ditulis pengarang  Muhammad Thobroni itu terbit tahun 2018 dan diterbitkan oleh penerbit CV Agung Mulia, dengan tebal halaman yakni 112 halaman. Dalam buku kumpulan cerpen tersebut terdapat beberapa cerita pendek, salah satunya berjudul "Ziarah", yang tampak menarik secara instrinsik maupun pesan moralnya. Salah satu yang diangkat dalam cerpen ini ialah soal keprihatinan hidup seorang santri pondok pesantren dalam menjalani kehidupan.

        Cerpen "ziarah" bercerita tentang seorang santri bernama arif yang sangat menyenangi ektrakulikuler luar sekolah yang diadakan dipesantrennya yang diadakan setiap akhir tahun yaitu berziarah. Dia menabung setiap hari agar bisa membayar akomodasi yang cukup mahal.

          Berziarah biasanya dilakukan untuk mengunjungi makam-makam para ulama dan para wali yang terkenal.
awalnya ia sudah menabung tetapi musibah menimpanya yaitu uangnya hilang dicuri oleh seseorang karena ia sembarangan menyimpan. dan dia mulai menabung lagi tetapi ada sesuatu lagi yang muncul yaitu musibah yang menimpa sahabatnya Basyir  yang membuat Arif tak tega dan akhirnya meminjamkan uangnya untuk sahabatnya tersebut. Tekad Arif untuk berziarah telah luntur.

           Dan pada akhirnya karena dia tidak ikut berziarah dia ikut mengantar temannya pulang ke Bandung sekalian pulang kampung. dan setelah kembali ke pesantren tidak ada satu orang pun yang menyambut santri yang berziarah pesantren sepi dia adalah orang yang pertama tiba dipesantren. Setelah kejadian kejadian yang terjadi arif merasa lelah dan langsung masuk ke kamar dan mulai tidur.  Dan diapun bermimpi bertemu dengan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Keduanya tersenyum menyambut Arif dan menganggukan kepala pada anak itu lalu menepuk nepuk bahu ketiganya pun berpelukan mesra tepat saat azan magrib tiba. 

         Adapun persoalan kemasyarakatan yang terjadi yaitu tentang masalah ekonomi keluarga yang tidak mencukupi yang membuatnya terhalang untuk berziarah dan musibah musibah yang terjadi disekelilingnya maupun orang terdekatnya yang membuatnya bingung harus berbuat apa.

            Kemiskinan saat ini memang merupakan suatu kendala dalam masyarakat ataupun dalam rung lingkup yang lebih luas. Kemiskinan menjadi masalah sosial karena ketika kemiskinan mulai merabah atau bertambah banyak maka angka kriminalitas yang ada akan meningkat. Banyak orang saat ini menerjemahkan kemiskinan sebagai pangkal penyebab masalah sosial dan ekonomi. Kini kemiskinan menjadi masalah sosial ketika stratifikasi dalm masyarakat sudah menciptakan tingkatan atau garis-garis pembatas (dikutip dari kompasiana.com)

          Pada cerita pendek "Ziarah" ini tercerminkan tentang seorang anak yang mandiri yang ekonominya bisa dibilang rendah yang menyisihkan  uang kiriman untuk ditabung. Kita perlu bangga pada tokoh seperti Arif, sebab sebagai tokoh dia sudah berperan dengan cara mengerti tentang kehidupan bagaimana kehidupan seorang anak yg orang tuanya hidup berkecukupan bagaimana menyimpan uang, bagaimana agar bisa mencapai sesuatu, yang diinginkan bagaimana belajar untuk membantu orang, dan bagaimana belajar ikhlas.

Adapun pesan moral yang dapat kita petik dari cerpen ini bahwa sesungguhnya banyak tantangan yang dilalu untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, tidak selalu berjalan mulus. dan saling tolong menolonglah terhadap sesama dan sanak sodara yang insya allah dapat membawa berkah. dan semoga pembaca cerpen ini bisa menjado seperti arif yang mementingkan orang lain terlebih dahulu dari pada dirinya sendiri.

Winda,  tinggal di Kabupaten Tana Tidung, kuliah di PBSI FKIP UBT

#kaltaramembaca   #kaltarabersastra   #ubtjaya



Oleh Djoko Saryono, Staf Ahli Kemendikbud RI, Guru Besar Universitas Negeri Malang dan Pembina Literasi Nasional


KISAH LITERASI DAN AKUNTANSI

Literasi dan akuntansi laksana sepasang kekasih yang lahir dan mengada bersama (koeksistensi), yang kemudian terpisah jauh di padang belantara kebudayaan karena divergensi dan spesialisasi pengetahuan.

Telah amat lama kita terbiasa memisahkan, memandang terpisah literasi dengan akuntansi. Sekarang keduanya dipandang sebagai gugusan disiplin berbeda: literasi bernaung di ruang keilmuan budaya dan ekonomi khususnya akuntansi bernaung di ruang keilmuan ekonomi. Padahal dahulu literasi dan akuntansi ibarat bayi kembar yang lahir di dunia kebudayaan dan peradaban. Sebab itu, menautkan literasi dengan akuntansi  sesungguhnya berarti memulangkan akuntansi ke rahim asalinya; atau sebaliknya memulangkan literasi kepada rahimnya. Begitu juga menggabungkan atau menyatukan istilah literasi dengan akuntansi menjadi frasa literasi akuntansi berarti meneguhkan kembali susur galur atau pohon sejarah literasi dan akuntansi.

Dalam sebuah buku tentang sejarah umat manusia, yang mengesankan atau menyentak karena provokatif, berjudul A Brief History of Humankind: Sapiens (Penguin Random House Company, 2014), sejarahwan muda kondang Yuval Noah Harari bersaksi bahwa pertama kali aksara tidak ditemukan dan dipakai oleh para pemikir besar, pendiri agama, penakluk dunia dan kaisar, melainkan seorang akuntan di Sumeria bernama Kushim atau Kasim. Dalam sejarah sistem tulisan yang pertama kali dikembangkan oleh bangsa Sumeria lebih 5000 tahun lampau, ternyata pesan tertulis (baca: aksara) pada mulanya bukan untuk menyampaikan kearifan, keindahan, dan atau keagungan Tuhan dan semesta alam, melainkan untuk mencatat hasil panen dan utang piutang. Ini memperlihatkan cikal bakal bahasa tertulis khususnya aksara dilahirkan oleh akuntansi, bukan agama, susastra, dan ilmu pengetahuan, apalagi kekuasaan politik. Karena itu, secara tentatif boleh dikatakan bahwa akuntansi merupakan induk literasi; atau boleh juga dikatakan bahwa literasi merupakan induk akuntansi.

Di balik kegiatan mencatat hasil panen dan utang piutang khususnya kegiatan mencatat yang dilakukan oleh Kasim tersebut bersemayam kesadaran akan pentingnya mencatat hasil panen dan utang piutang [dengan menggunakan aksara dan angka] sehingga diperoleh kestabilan, kepastian, dan keawetan catatan hasil panen dan utang-piutang pada satu sisi dan pada sisi lain didapat keterbukaan dan kemudahan orang lain mengetahui catatan hasil panen dan utang-piutang. Di situ terdapat tiga pokok pikiran penting, yaitu (1) kesadaran, (2) menulis [baca: mencatat], dan (3) membaca [memahami catatan] hasil panen dan utang-piutang. Dari sini bisa dikatakan bahwa pada mulanya literasi akuntansi bermakna kesadaran akan informasi akuntansi yang dilandasi oleh tulisan/bacaan yang berisi informasi akuntansi pada satu sisi dan pada sisi lain dilandasi oleh kegiatan [mem]baca-[men]tulis tentang informasi.

Kendati tak berganti ruh atau substansi, lambat laun konsep literasi akuntansi tersebut meluas atau mengembang seiring dengan perkembangan pemikiran, gagasan, praktik, dan pengkajian literasi (boleh dibaca: teori, praksis, dan studi literasi) pada umumnya dan perkembangan teori dan praksis akuntansi khususnya. Serturut berbagai konsep literasi yang telah ada, secara ringkas sekarang dapat dikatakan bahwa literasi akuntasi adalah kesadaran radikal (baca: mendasar), kritis, dan atau kreatif tentang informasi-informasi akuntasi, yang disangga oleh tradisi dan kebiasaan membaca dan menulis tentang informasi-informasi akuntasi. Kesadaran radikal, kritis, dan atau kreatif tentang informasi akuntansi penting dikuasai oleh setiap manusia (bukan hanya para akuntan, melainkan juga masyarakat pada umumnya) agar mereka memiliki pilihan-pilihan dan peluang-peluang yang sesuai dengan hati nurani atau jalan hidup mereka dan arah hidup yang mereka tuju; tidak terombang-ambing sebagai objek ekonomi/akuntansi atau bahkan sasaran pasar dan komoditas ekonomi/akuntansi yang tidak mereka kehendaki.



Oleh Djoko Saryono,  Guru Besar Universitas Negeri Malang, Staf Ahli Kemendikbud RI dan pegiat Literasi Nasional

EVOLUSI KONSEP LITERASI

Seperti pertumbuhan pohon, konsep literasi berevolusi. Makin lama makin besar dan luas, membentuk lapisan-lapisan, demikian pulalah cakupan keluasan dan kedalaman konsep literasi. Sampai-sampai kini nyaris semua sektor kebudayaan dan peradaban bisa berkelatan dengan literasi.

/1/
Kita sebagai manusia terdidik sudah sering mendengar istilah melek aksara, keberaksaraan, kemahirwacanaan, dan literasi. Keempat istilah tersebut pada dasarnya berpadanan dan berkemiripan makna karena ketiga istilah pertama merupakan usaha mengindonesiakan istilah literacy. Namun, seriring dengan perkembangan waktu, sekarang istilah literacy diadaptasi menjadi literasi dalam bahasa Indonesia.

Di Indonesia bahkan sekarang istilah literasi lebih populer dibandingkan dengan istilah melek aksara, keberaksaraan, dan kemahirwacanaan. Dapat dikatakan, dalam beberapa tahun belakangan istilah literasi dan gerakan literasi semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia termasuk pegiat literasi di masyarakat dan kalangan pendidikan baik kalangan sekolah maupun pegiat pendidikan nonformal.

Kian populer dan dikenal luasnya istilah literasi dan gerakan literasi di Indonesia paling tidak disebabkan oleh empat hal utama. Pertama, makin tumbuhnya kesadaran betapa fundemental, strategis, dan pentingnya bagi kemajuan dan masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia. Baik secara historis maupun sosiologis terbukti bahwa masyarakat dan bangsa yang maju dan unggul selalu disokong oleh adanya literasi. Kedua, makin disadarinya oleh sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia termasuk pemerintah Indonesia bahwa kemajuan dan keunggulan individu, masyarakat, dan bangsa Indonesia juga ditentukan oleh adanya tradisi dan budaya literasi yang mantap.

Ketiga, makin kuatnya kepedulian dan keterlibatan berbagai kalangan masyarakat, komunitas dan pemerintah dalam usaha-usaha menumbuhkan, memantapkan, dan bahkan menyebarluaskan kegiatan, program, tradisi, dan budaya literasi di lingkungan masyarakat, lingkungan komunitas, dan lingkungan pendidikan. Keempat, makin banyaknya gerakan-gerakan (yang menyebut diri) literasi yang berkembang di masyarakat dan sekolah yang dilakukan oleh berbagai kalangan. Bahkan juga di berbagai lembaga pemerintahan, misalnya gerakan literasi digital di Kemenkominfo, literasi keagamaan di Kemenag, dan taman literasi integritas di KPK.

Tak mengherankan, gerakan literasi makin marak di kalangan masyarakat, pemerintahan, dan pendidikan di Indonesia. Lebih-lebih setelah Kemdikbud mencanangkan dan menggencarkan gerakan literasi sekolah, yang kemudian diperluas menjadi Gerakan Literasi Nasional, dan berbagai kementerian dan lembaga pemerintah lain mencanangkan pelbagai gerakan literasi, pamor gerakan literasi mengalami pasang naik. Bisa dibilang, literasi dan gerakan literasi sedang moncer berkilau. Berbagai festival, lomba, klinik, dan juga pertemuan ilmiah tentang literasi sebagai bagian dari gerakan literasi makin sering dilaksanakan oleh pelbagai pihak.

/2/
Konsep literasi mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada mulanya literasi sering dipahami sebagai melek aksara, dalam arti tidak buta huruf. Kemudian melek aksara dipahami sebagai kepahaman atas informasi yang tertuang dalam media tulis. Tak mengherankan, kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis.

Lebih lanjut, literasi dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi sosial di dalam masyarakat. Di sinilah literasi sering dianggap sebagai kemahiran berwacana. Dalam konteks inilah Deklarasi Praha pada tahun 2003 mengartikan literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Deklarasi UNESCO tersebut juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan.

Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. Bahkan kemudian pada tahun 2016, Forum Ekonomi Dunia menempatkan literasi dasar sebagai satu di antara tiga pilar utama kecakapan abad 21 (bersama dengan kompetensi dan kualitas karakter).

Sejalan dengan itu, dalam Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud memaknai kemampuan berliterasi sebagai adalah kecakapan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai kegiatan, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara. Di tengah banjir bandang informasi melalui pelbagai media baik media massa cetak, audiovisual maupun media sosial, kemampuan berliterasi tersebut sangat penting.

Dengan kemampuan berliterasi yang memadai dan mantap, kita sebagai individu, masyarakat, dan atau bangsa tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai informasi yang beraneka ragam yang datang secara bertubi-tubi kepada kita. Di samping itu, dengan kemampuan berliterasi yang baik, kita bisa meraih kemajuan dan keberhasilan. Tak mengherankan, UNESCO menyatakan bahwa kemampuan berliterasi merupakan titik pusat kemajuan. Vision Paper UNESCO (2004) menegaskan bahwa kemampuan berliterasi telah menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis, dan ekonomis pada zaman modern. Lau Global Monitoring Report Education for All (EFA) 2007: Literacy for All menyimpulkan bahwa kemampuan berliterasi berfungsi sangat mendasar bagi kehidupan modern karena – seperti diungkapkan oleh Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO – kemampuan berliterasi adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Seiring dengan gejala literasi yang terus berkembang, sekarang bentuk dan jenis literasi juga terus berkembang di samping juga terus berkembang substansi dan konsepnya. Setakat kini ada berbagai bentuk dan jenis literasi yang ditawarkan atau dikembangkan oleh berbagai pihak. Sebagai contoh, PISA (Programme for International Student Assesment) yang dikoordinasikan oleh OECD telah mengategorikan literasi menjadi (a) literasi keilmu-alaman (scientifical literacy), (b) kebeberaksaraan matematis (mathematical literacy), dan (c) literasi membaca (reading literacy). Dalam berbagai terbitannya mengenai masyarakat informasi, UNESCO menyatakan adanya literasi informasi dan literasi media.

Selanjutnya, Mochtar Buchori (pemikir pendidikan dan pendidik cemerlang kita) menyebut ada literasi budayawi (cultural literacy) dan literasi sosial (social literacy). Belakangan juga berkembang literasi ekonomis (economic literacy), literasi keuangan (financial literacy), dan literasi kesehatan (health literacy). Forum Ekonomi Dunia (2016) membagi literasi dasar menjadi literasi baca-tulis, literasi angka, literasi sains, literasi TIK, literasi keuangan, dan literasi budaya dan kewargaan. Pada masa mendatang niscaya akan terus berkembang kategori lain literasi.

Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global. Sebab itu, kemampuan menguasai beraneka bentuk dan jenis literasi tersebut mendukung keberhasilan dan kemajuan seseorang, masyarakat, bahkan bangsa.

Dalam konteks pendidikan, kemampuan menguasai pelbagai bentuk dan jenis literasi tentulah akan membuat peserta didik sukses dan maju. Lebih lanjut, juga akan menumbuhkembangkan tradisi dan budaya literasi. Untuk itu,  dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru sebagai pendidik, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan kemampuan berliterasi peserta didik. Agar lingkungan literasi tercipta, diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan. Selain itu, diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang mengembangkan komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpajan dengan berbagai bentuk dan jenis literasi menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi lain.




Oleh Urotul Aliyah,  Pegiat Literasi dan Pendiri Baloy Aksara Kalinantan Utara, dosen Bimbingan Konseling UBT

Dalam beberapa kesempatan berkunjung ke berbagai daerah terluar, terdepan dan tertinggal di Kalimantan Utara, seperti Malinau, Tana Tidung, Nunukan, Bulungan dan Tarakan sendiri, dengan mudah dapat dijumpai beragam masalah literasi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat KalimanTan Utara tergolong provinsi muda di indonesia yakni provinsi ke 34. Secara umum, literasi di Kalimantan utara yang terkenal sebagai kawasan perbatasan dengan Malaysia, Brunei dan Filipina menyimpan beberapa masalah sekaligus tantangan yang luar biasa bagi segenap pegiat literasi. 
Pertama,  latar geografis fisik yang lumayan menantang. Persebaran wilayah di Kalimantan utara yang luasnya 1,5 luas  Jawa Timur umumnya dipisahkan oleh laut, sungai besar dan hutan dengan pegunungan ekstrim. Kondisi ini meniscayakan tingkat akses ke lokasi pemumikan yang beragam dan bahkan cenderung ekstrim. Keadaan ini misalnya paling mudah dapat ditemukan pada Tarakan yang memiliki bandara udara dan pelabuhan. Tak heran, orang lebih memilih keluar masuk Kalimantan Utara lewat Tarakan sebelum ke kita lain. Implikasinya ialah biaya transportasi menjadi berlipat sebab melewati laut dan sungai. Sehingga hanya faoat ditempuh dengan pesawat dan kapal. 
Dampak utama dari keadaan ini terhadap literasi ialah kerepotan pengiriman bacaan seperti buku. Jangankan mendapatkan buku, untuk belanja buku saja mengandalkan kota lain seperti surabaya dan jakarta dan memesan dengan biaya kirim tidak murah. Tak heran bila budaya baca tumbuh masih sangat jauh dari merata dan ketimpangan yang luar biasa. Bahkan berdasar pengalaman berjumpa guru paud dan sd di pedalaman, sebagian mereka masih belum lancat membaca aksara Indonesia. Beberapa lain belum dapat menjalani upacara dan mengenal lambang penting dari NKRii seperti bendera dan lagu kebangsaan indonesia raya. 

Kedua,  kualitas sumber daya manusia masih timpang baik di kawasan perkotaan dan perdesaan, serta di kawasan pedalaman dan pesisir. Dan sebagainya. Terutama hal itu dengan mudah dapat ditemukan pada sdm dari pedalaman seperti Krayan, Sebuku, Sembakung, Lumbis Mansalong, Long Nawang, Tanjung Palas, Sesayap dan sesayap hilir, punjungan, dan sebagainya. Ketimpangan terjadi salah satu sebab terlalu lama tidak mendapatkan layanan penddiikan yang memadai dari pemerintah pusat maupun kalimantan timur sebelum dimekarkan menjadi provinsi sendiri yakni kalimantan utara. 
Ketimpangan sdm sangat terasa dalam memahami kualitas sdm anak muda mahasiawa berasal dari pedalaman dan perkotaan, baik minat baca, kemampuan memahami dan analisis bacaan, dan sebagainya. Masalah ketersediaan bacaan dan akses pendidikan tinggi menjadi sumber lain bagi lambatnya perkembangan sdm di pedalaman. 

Ketiga, sarana dan sarana literasi. Perpustakaan berdiri di ibu kota kabupaten termasuk kota tarakan dan belum memiliki perpustakaan setingkat propinsi. Namun, sebagian besar masyarakat tinggal di pedalaman yang sulit mengakses kota sebab butuh biaya perjalanan yang mahal. Sementara sarana literasi di perkampungan belum tampak diwujudkan. Di tarakan ada perpustakaan aetingkat kelurahan namun belum berjalan maksimal. Ini menjadi tantangan lain bagi gerakan literasi di Kalimantan utara. 

Keempat, kaderisasi relawan literasi masih banyak dilakukan di tarakan yang merupakan kota pendidikan sebab memiliki beberapa perguruan tinggi. Namun, setelah lulus mereka pulang kampung dan belum ada model koordinasi yang tepat. Kehadiran forum tbm kalimantan utara dan komunitas literasi lain diharapkan dapat menjadi stimulus lanjut bagi terwujudnya gerakan literasi yang integral. 

Tentu masih ada beberapa masalah lain terkait literasi, namun dengan semangat yang kuat, di tengah pesatnya perkembangan zaman di era milenial dengan produk digital serta tantangan lokal yang luar biasa, diharapkan harapan terwujudnya kalimantan utara yang berwawasan literasi dalat diwujudkan. Semoga