GERAKKAN LITERASI, SEORANG SARJANA PULANG KAMPUNG DIRIKAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT | TBM UPUN TAKA | FORUM TBM | AMBAU.ID | ZONA LITERASI | KALIMANTAN | TANA TIDUNG



(Ayu Desy Octaviani, Sarjana Pendidikan Guru SD, Founder TBM Upun Taka di Buong Baru, Betayau, Kabupaten Tana Tidung) 


KABUPATEN TANA TIDUNG - Ayu Desy Octaviani, seorang sarjana yang baru lulus, pilih pulang kampung membangun desanya. Lulusan Pendidikan Guru SD FKIP Universitas Borneo Tarakan itu pilih mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang diberi nama TBM Upuntaka. Kak Ayu Desy, demikian dia dipanggil, memanfaatkan sebuah ruang kosong dekat rumahnya. Ruang kosong itu ditata rapi dan menarik. Dindingnya dilapisi koran bekas sehingga tampil cantik. "Alhamdulillah, TBM Upun Taka telah hadir di desa kami yang kecil dan jauh dari perkotaan, " ujar Kak Ayu Desy yang juga Ketua Forum TBM Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.



TBM Upun Taka memang berada di kawasan pedalaman Kalimantan Utara. Tepatnya Desa Buong Baru, Kecamatan Betayau, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara. Butuh waktu sekitar 3 jam dari pelabuhan Tarakan untuk tiba di Pelabuhan Kabupaten Tana Tidung. Perjalanan ditempuh dengan speedboat menyusuri Sungai Sesayap yang besar Dan terkenal dengan buaya muara dan pesut. Bila naik kapal barang atau ketinting, perjalanan bisa memakan waktu lebih lama. Dari pelabuhan Tana Tidung masih lanjut dengan perjalanan darat sekira 1 jam untuk tiba di Buong Baru. 


Menurut Ayu Desy, berdirinya TBM Upun Taka sudah sejak 1 tahun silam. "Saya dirikan TBM dan mulai berjalan kegiatannya semenjak saya lulus kuliah," ujarnya semangat. Ayu Desy aktif mengikuti dan menggerakkan literasi sejak masih di bangku kuliah. Dia menjadi relawan di Komunitas Jendela Nusantara (KJN). 


Ayu Desy menjelaskan, TBM Upun Taka  awalnya hanya memiliki 4 relawan yang punya tekad untuk menggerakan  terobosan budaya literasi. "Saya dan teman relawan melihat bahwa di desa kami masih sangat kurang sekali minat bacanya. Jangankan untuk membaca, buku-buku pun masih sangat kurang. Kecuali di perpustakaan sekolah. Itupun banyak digunakan saat masuk sekolah, " kisahnya. 


Ayu Desy menceritakan awal mula mendirikan TBM. Mereka mengaku sangat bingung.  "Awalnya kami sempat bingung buku-buku kami dapatkan dari mana? Alhamdulillah ada sedikit buku pernah saya beli semasa kuliah dulu. Kami bersama teman-teman pun mengumpulkan buku yg masih layak digunakan dan bisa dibaca. Alhamdulillah kami dapat donasi dari beberapa Balai Bahasa, Inovasi,Forum TBM, dan orang-orang baik yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, " ceritanya. 


Untuk menggerakkan literasi di pedalaman, Ayu Desy bersama teman-teman relawan membuat kegiatan awal berupa lapak baca di atas gunung. "Anak-anak masih sedikit yang sedia datang. Tapi kami tidak putus asa. Tetap semangat. Mungkin karena masih awal kami memperkenalkan TBM di desa, " kenangnya. 


Selepas beberapa waktu, relawan literasi yang terlibat juga bertambah. "Alhamdulilkah sekarang ada 12 relawan yang ikut serta menyebarkan virus literasi, " ungkap Ayu Desy. Dari situlah mereka mulai pelan-pelan menyusun program literasi baik di dalam TBM maupun di luar TBM bersama masyarakat. Beberapa agenda disusun seperti lapak baca, mendongeng, bermain tradisional, dan membaca puisi. 


Ayu Desy menuturkan, sejauh ini semakin banyak anak-anak tertarik dan ikut kegiatan literasi. Begitupun dengan orang tua dan tokoh masyarakat menyambut baik gerakan literasi di desa mereka. "Kami membuka diri untuk semua kalangan baik pemerintah maupun masyarakat, perseorangan atau perusahaan untuk membantu donasi dalam bentuk apa saja. Bisa buku, alat tulis, meja belajar, rak, bacaan, alat edukasi, atau bahkan donasi uang untuk mendukung kegiatan. Pastinya relawan dan masyarakat bakal tambah semangat, " harapnya. 


Sementara ini kegiatan baru biasa dilaksanakan hari Jum'at dan Sabtu. "Kami akan menambah program dan waktu layanan literasi agar budaya literasi semakin tumbuh berkembang, " tegasnya mantap. 

Comments

Post a Comment