WHAT'S NEW?
Loading...

PERJUANGAN TOKOH ARIF DALAM CERPEN "ZIARAH"



Oleh Monika - Nunukan, Kalimantan Utara

PERJUANGAN TOKOH ARIF DALAM CERPEN "ZIARAH"


Ziarah adalah salah satu judul cerita pendek yang terdapat di dalam buku cerita pendek Ustadz Misterius karangan Muhammad Thobroni, dosen dan sastrawan Kalimantan Utara.  Walau menjadi seorang dosen  yang disibukkan dengan kegiatan kampus tidak menghalangi  beliau untuk terus berkarya menulis buku, puisi dan cerita pendek, bahkan di luar kampus beliau juga aktif dalam bidang literasi dan sastra. Dalam buku ini dengan 112 halaman dan 14 judul cerita pendek dengan karakter cerita yang berbeda-beda, menjadikan buku ini banyak diminati oleh berbagai kalangan. Buku ini pun dicetak pertama kali pada februari 2018. Alasan yang menjadikan saya memilih cerpen ziarah untuk dikritik adalah karena cerita nya cukup menarik yaitu menceritakan tentang perjuangan dalam mewujudkan keinginan dan bahasa yang digunakan juga sangat mudah untuk dipahami.

Tema dalam cerpen Ziarah adalah mengenai perjuangan dan keikhlasan, perjuangan Arif  anak yang dikirim masuk ke pesantren oleh ayah nya karena tingkah lakunya, Arif yang sangat ingin pergi ziarah ke makam para wali dan ulama terkenal, ia berjuang mengumpulkan uang dan bahkan ia mampu menjalankan puasa senin kamis agar menghemat pengeluarannya. Namun setelah mengumpulkan uang hampir setahun  ia harus ikhlas karena uang yang selama ini ia kumpulkan hilang. Semangat nya tidak hilang Arif tetap berjuang ia mulai mengumpulkan uang nya kembali, setelah ia perhitungkan uang yang ia tabung sepertinya sudah lebih dari cukup namun lagi-lagi ia tidak bisa ikut karena dalam keadaan terdesak sahabatnya ingin meminjam uang untuk pulang kampung karena ayahnya meninggal, hal ini membuat Arif harus mengorbankan uang yang susah payah ia kumpulkan untuk ziarah demi sahabatnya. Kaitan cerpen ini dengan persoalan didalam kehidupan nyata adalah masalah ekonomi dan keinginan, dari zaman dulu hingga saat ini ekonomi menjadi salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh semua orang namun tidak semua orang ekonominya berkecukupan, hal ini membuat semua orang harus bekerja keras agar ekoniminya berkecupukan. Masalah keiginan, jika seseorang sangat menginginkan suatu hal ia pasti akan berjuang agar keinginan tersebut dapat tercapai tidak peduli cobaan apa pun yang menghampiri kita harus sabar dan terus berjuang. Namun dalam kehidupan nyata mungkin jarang kita menemukan orang seperti Arif yang mau mendahulukan kepentingan orang lain dan menekan keinginan sendiri.

Dalam cerpen ini Arif sebagai tokoh utama yang mandiri, sabar dan bertekad kuat untuk mewujudkan impiannya karena ia sadar akan ekonomi keluarganya yang kurang mampu ia harus berhemat agar keinginannya tercapai, selain itu Arif juga suka membantu orang lain, ia bahkan rela berkorban demi orang yang lebih membutuhkan, watak Arif sangat bagus sehingga bisa saja memotivasi pembaca agar bisa seperti Arif namun pada cerpen ini sifat Arif yang membuat ayahnya mengirimnya ke pesantren tidak dijelaskan sehingga pembaca bingung. Kemudian ada tokoh Ayah juga dalam cerpen ini, ayah sangat ingin Arif menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi anak sholeh yang berakhaq mulia dan selalu ingat dengan sang pencipta, benar sekali semua orang tua pasti ingin yang terbaik  untuk anaknya. Basyir (teman Arif), yang berusaha tidak membebankan orang tua nya, watak Arif dalam cerpen ini sebenarnya tidak terlalu menonjol, mungkin akan lebih baik jika dalam cerpen ini dihadirkan tokoh kiai/guru agar lebih menghidupkan suasana pesantren.

Berbagai macam latar yang terdapat dalam cerpen ini yaitu latar tempat, latar waktu dan suasana. Latar Tempat yang terdapat dalam cerpen ini yaitu di pesantren salafiyah di bilangan kota pelajar Yogyakarta, dan di makam sunan ampel. Latar Waktu, yaitu tiga tahun, selama SD,setiap malam, habis subuh, senin-kamis, hari minggu. Kemudian latar suasana yaitu suasana bersedih, berikut kutipannya “Wajahnya kusut pucat pasi. Tampaknya telah terjadi sesuatu yang tidak ringan dengan sahabat dekat Arif ini”. Untuk di bagian latar temap dan waktu sudah cukup baik, namun untul latar suasan menurut saya agak kurang, mungkin lebih baik jika ditambahkan bagaimana perasaan ayahnya saat mengirim Arif ke pesantren, lebih mendetail penggambaran suasana pada saat Basyir bersedih.

Alur yang digunakan dalam cerpen ini yaitu alur maju dimana penulis menulis ceritanya dengan urut dari perkenalan hingga akhir.

Sudut pandang pada cerpen ini menggunkan sudut pandang orang ketiga. Penulis menceritakan tokoh Arif sebagai pelaku utama dalam cerpen tersebut. Namun pada bagian tengah cerita penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga seperti pada kutipan berikut berikut “Segera ditariknya tangan Basyir. Kuambil kartu ATM BNI-ku. Bersamaku, Basyir segera mengambil tas dan sekaligus berangkat menuju stasiun dari ATM BNI”. Kata –nya pada kalimat awal menandakan orang ketiga, namun pada kalimat kedua penulis menggunakan kata ganti –ku yang menandakan orang pertama.

Pesan moral yang tersirat di dalam cerpen ini adalah, jangan mudah menyerah saat kita gagal untuk meraih impian, teruslah berusaha yakinlah tidak ada hasil yang menghianati usaha. Dan juga sebagai anak kita tidak boleh terlalu membebankan orang tua dengan keinginan kita, harus mandiri dan mewujudkannya sendiri.


Monika, penulis tinggal di Nunukan Kalimantan Utara

#kaltaramembaca
#kaltaramenulis
#kaltarabersastra

0 comments:

Post a Comment