WHAT'S NEW?
Loading...

NAIFISME PUITIK KANAK-KANAK





Oleh Djoko Saryono - Guru Besar Universitas Negeri Malang dan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

"Ini buku puisiku, Eyang Djoko", Azum menyorongkan buku, dengan paras muka lugu, dan kuterima dengan hati haru. Di langit Kota Tarakan, malam terus mendaki waktu: pukul 22.00 memang telah berlalu, kendati begitu bola mata Azum tetap kuat berbinar di tengah bincang literasi dan puisi di Kafe Alegori, seberang Bandara Juwata, yang lumayan tenang bak diusap nafiri. Sesekali kecipak laut pasang terdengar lirih sekali, sebelum ditelan deru kendaraan bermotor yang lalu-lalang tak henti.



Sebuah buku himpunan puisi dimahkotai judul Ulang Tahunku dihadiahkan Azum kepadaku. Kubuka sampul dalam, kujumpa tera tulisan bertinta harap menderu. Kubaca dalam kalbu: Untuk Eyang Djoko Saryono, Mohon doa dan restunya cucunda diberi kesehatan dan dapat terus berkarya. Di bawah tulisan tersebut tertera tanda tangan disertai nama: Azumi Safina Najahi. "Daebak!", seruku dalam kalbu, "Bocah yang kini kelas V SD Muhammadiyah II Kota Tarakan ini sudah membuahkan karya buku puisi. Dia memilih berdiam diri di jagat buku dan literasi di tengah zaman yang membajak anak-anak sebayanya dalam perangkat selfi dan menggulung orang-orang dewasa dalam puting beliung saling caci dan perayaan memaki". Wow...sejak dini Azumi suka berdiam di ruang hening literasi dan buku yang dijaga aura kontemplasi dan meditasi. Sejak kanak-kanak kau Azumi sudah mampu menyalakan obor kesadaran dan ketercerahan akal budi di wilayah perbatasan negeri: negeri Indonesia yang kita cintai.


Puisi-puisi Azumi mengekspresikan kegembiraan, keriangan, dan kesukariaan anak-anak: kepolosan, kejernihan, ketanpabebanan, dan kebeningan ekspresi seorang anak manusia yang diasuh oleh lingkungan negeri bahagia (Kaltara menduduki peringkat kelima dalam Indeks Kebahagiaan Penduduk Indonesia 2018). Dalam ekspresi seperti itu dituangkanlah beragam-ragam pengalaman diri sendiri, bersama orang lain, dan tatkala berinteraksi dengan semesta alam. Itu semua juga dinyatakan dalam puisi Ulang Tahunku dengan racikan kata begini: //Tanggal 19 bulan dua, atau bulan Februari 2008/Aku lahir ke dunia//Tanggal 10 bulan dua, atau bulan Februari tahun 2019/Aku ulang tahu//Ulang tahunku dirayakan/Dengan menerbitkan buku/Yaitu buku puisi karyaku//Buku puisiku berisi banyak puisi/Ada puisi untuk nenek/Ada puisi untuk kakek/Ada puisi untuk ummi/Ada puisi untuk abi/Ada puisi untuk burung kolibri/Ada puisi Shiva/Ada puisi sepatu merahku/Ada puisi saat aku pergi ke Tawau Malaysia/Ada puisi hiking HW/Dan banyak puisi lagi//Aku ingin puisiku menjadi buku/Aku berdoa di ulang tahunku//... Dengan gaya repetisi yang kuat dan kelugasan yang alamiah tampak beragam tema diangkat Azum dalam puisi-puisinya.



Puisi-puisi Azum tak melulu memantulkan egosentrisme, yang hanya berkutat pada dirinya sendiri. Isi puisi-puisi Azum rata-rata sudah terbebas dari sikap egosentris. Azum dalam puisi-puisinya sudah memantulkan pijar-pijar empati, kepedulian, dan kerelawanan yang dilaburi rasa kemanusiaan kuat. Puisi Azum memijarkan humanitas yang polos-alamiah. Dia menulis perkara kecelakaan, kebaikan sahabat, hewan-hewan seperti ikan dan burung, dan tak lupa bencana gempa di berbagai daerah Indonesia. Dalam puisi Gempa di Palu dia menulis://gempa terjadi di Palu/sore hari/dan saat mau gelap/Tsunami terjadi di Palu/Aku merasa sedih/Kejadian itu/.... Dalam puisi Membantu Korban Bencana Azum menulis://Gempa di Palu sangat ngeri/Ada susulan tsunami/Gempa di Palu 7,7/Di Palu banyak harta hilang/Orang hilang, orang meninggal//Hari ini kami akan membantu korban/Gempa di Palu/Berapapun dana/Yang penting ikhlas/Dan bisa membantu//Bencana gempa di Palu//. Dari kutipan di atas terlihat sikap empatik dan humanis yang dibungkus kepolosan dan keluguan yang penuh kejujuran di samping permainan piranti estetis yang sederhana. Ini bisa disebut napas NAIFISME PUITIK kanak-kanak. Kumpulan puisi Ulang Tahunku karya Azumi tampaknya memang bersandar pada naifisme puitik yang penuh kejujuran dan ketulusan, yang memang selaras dengan jiwa dan diri kanak-kanak.


Buku puisi Ulang Tahunku karya Azumi Safina Najahi masih kupegang bersamanya dalam keriangan: lalu juru potret melepaskan bidikan, mengawetkan kenangan perjumpaan. Kuucapkan terima kasih kepada Azum seraya membisikkan janji, "Besok, tunggu di sekolah ya Azumi". Esoknya sekolah kudatangi. "Azumi, kaulah patriot literasi dan perbukuan yang sejak kanak berjibaku mengembangkan diri. Membagi waktu dan tumbuh-kembang kehidupan antara dunia keriuhan sehari-hari dan dunia keheningan literasi. Semoga kau jadi lentera negeri, yang menjaga tabal batas pertiwi dengan kasadaran akal budi yang diusung gerakan literasi, dan mengabarkan kepada Indonesia bahwa anak-anak Indonesia baik-baik saja, tak usah orangtua panik akan nasib generasimu Azumi, pada masa depan nanti". Azumi mengajak kawan-kawannya berfoto ria: kami pun diabadikan potret kenangan tatkala hari terbelalak mengirim hangat cuaca.

0 comments:

Post a Comment