LITERASI DI PERBATASAN: BEBERAPA MASALAH DI KALIMANTAN UTARA




Oleh Urotul Aliyah,  Pegiat Literasi dan Pendiri Baloy Aksara Kalinantan Utara, dosen Bimbingan Konseling UBT

Dalam beberapa kesempatan berkunjung ke berbagai daerah terluar, terdepan dan tertinggal di Kalimantan Utara, seperti Malinau, Tana Tidung, Nunukan, Bulungan dan Tarakan sendiri, dengan mudah dapat dijumpai beragam masalah literasi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat KalimanTan Utara tergolong provinsi muda di indonesia yakni provinsi ke 34. Secara umum, literasi di Kalimantan utara yang terkenal sebagai kawasan perbatasan dengan Malaysia, Brunei dan Filipina menyimpan beberapa masalah sekaligus tantangan yang luar biasa bagi segenap pegiat literasi. 
Pertama,  latar geografis fisik yang lumayan menantang. Persebaran wilayah di Kalimantan utara yang luasnya 1,5 luas  Jawa Timur umumnya dipisahkan oleh laut, sungai besar dan hutan dengan pegunungan ekstrim. Kondisi ini meniscayakan tingkat akses ke lokasi pemumikan yang beragam dan bahkan cenderung ekstrim. Keadaan ini misalnya paling mudah dapat ditemukan pada Tarakan yang memiliki bandara udara dan pelabuhan. Tak heran, orang lebih memilih keluar masuk Kalimantan Utara lewat Tarakan sebelum ke kita lain. Implikasinya ialah biaya transportasi menjadi berlipat sebab melewati laut dan sungai. Sehingga hanya faoat ditempuh dengan pesawat dan kapal. 
Dampak utama dari keadaan ini terhadap literasi ialah kerepotan pengiriman bacaan seperti buku. Jangankan mendapatkan buku, untuk belanja buku saja mengandalkan kota lain seperti surabaya dan jakarta dan memesan dengan biaya kirim tidak murah. Tak heran bila budaya baca tumbuh masih sangat jauh dari merata dan ketimpangan yang luar biasa. Bahkan berdasar pengalaman berjumpa guru paud dan sd di pedalaman, sebagian mereka masih belum lancat membaca aksara Indonesia. Beberapa lain belum dapat menjalani upacara dan mengenal lambang penting dari NKRii seperti bendera dan lagu kebangsaan indonesia raya. 

Kedua,  kualitas sumber daya manusia masih timpang baik di kawasan perkotaan dan perdesaan, serta di kawasan pedalaman dan pesisir. Dan sebagainya. Terutama hal itu dengan mudah dapat ditemukan pada sdm dari pedalaman seperti Krayan, Sebuku, Sembakung, Lumbis Mansalong, Long Nawang, Tanjung Palas, Sesayap dan sesayap hilir, punjungan, dan sebagainya. Ketimpangan terjadi salah satu sebab terlalu lama tidak mendapatkan layanan penddiikan yang memadai dari pemerintah pusat maupun kalimantan timur sebelum dimekarkan menjadi provinsi sendiri yakni kalimantan utara. 
Ketimpangan sdm sangat terasa dalam memahami kualitas sdm anak muda mahasiawa berasal dari pedalaman dan perkotaan, baik minat baca, kemampuan memahami dan analisis bacaan, dan sebagainya. Masalah ketersediaan bacaan dan akses pendidikan tinggi menjadi sumber lain bagi lambatnya perkembangan sdm di pedalaman. 

Ketiga, sarana dan sarana literasi. Perpustakaan berdiri di ibu kota kabupaten termasuk kota tarakan dan belum memiliki perpustakaan setingkat propinsi. Namun, sebagian besar masyarakat tinggal di pedalaman yang sulit mengakses kota sebab butuh biaya perjalanan yang mahal. Sementara sarana literasi di perkampungan belum tampak diwujudkan. Di tarakan ada perpustakaan aetingkat kelurahan namun belum berjalan maksimal. Ini menjadi tantangan lain bagi gerakan literasi di Kalimantan utara. 

Keempat, kaderisasi relawan literasi masih banyak dilakukan di tarakan yang merupakan kota pendidikan sebab memiliki beberapa perguruan tinggi. Namun, setelah lulus mereka pulang kampung dan belum ada model koordinasi yang tepat. Kehadiran forum tbm kalimantan utara dan komunitas literasi lain diharapkan dapat menjadi stimulus lanjut bagi terwujudnya gerakan literasi yang integral. 

Tentu masih ada beberapa masalah lain terkait literasi, namun dengan semangat yang kuat, di tengah pesatnya perkembangan zaman di era milenial dengan produk digital serta tantangan lokal yang luar biasa, diharapkan harapan terwujudnya kalimantan utara yang berwawasan literasi dalat diwujudkan. Semoga

Comments