WHAT'S NEW?
Loading...

EVOLUSI KONSEP LITERASI



Oleh Djoko Saryono,  Guru Besar Universitas Negeri Malang, Staf Ahli Kemendikbud RI dan pegiat Literasi Nasional

EVOLUSI KONSEP LITERASI

Seperti pertumbuhan pohon, konsep literasi berevolusi. Makin lama makin besar dan luas, membentuk lapisan-lapisan, demikian pulalah cakupan keluasan dan kedalaman konsep literasi. Sampai-sampai kini nyaris semua sektor kebudayaan dan peradaban bisa berkelatan dengan literasi.

/1/
Kita sebagai manusia terdidik sudah sering mendengar istilah melek aksara, keberaksaraan, kemahirwacanaan, dan literasi. Keempat istilah tersebut pada dasarnya berpadanan dan berkemiripan makna karena ketiga istilah pertama merupakan usaha mengindonesiakan istilah literacy. Namun, seriring dengan perkembangan waktu, sekarang istilah literacy diadaptasi menjadi literasi dalam bahasa Indonesia.

Di Indonesia bahkan sekarang istilah literasi lebih populer dibandingkan dengan istilah melek aksara, keberaksaraan, dan kemahirwacanaan. Dapat dikatakan, dalam beberapa tahun belakangan istilah literasi dan gerakan literasi semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia termasuk pegiat literasi di masyarakat dan kalangan pendidikan baik kalangan sekolah maupun pegiat pendidikan nonformal.

Kian populer dan dikenal luasnya istilah literasi dan gerakan literasi di Indonesia paling tidak disebabkan oleh empat hal utama. Pertama, makin tumbuhnya kesadaran betapa fundemental, strategis, dan pentingnya bagi kemajuan dan masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia. Baik secara historis maupun sosiologis terbukti bahwa masyarakat dan bangsa yang maju dan unggul selalu disokong oleh adanya literasi. Kedua, makin disadarinya oleh sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia termasuk pemerintah Indonesia bahwa kemajuan dan keunggulan individu, masyarakat, dan bangsa Indonesia juga ditentukan oleh adanya tradisi dan budaya literasi yang mantap.

Ketiga, makin kuatnya kepedulian dan keterlibatan berbagai kalangan masyarakat, komunitas dan pemerintah dalam usaha-usaha menumbuhkan, memantapkan, dan bahkan menyebarluaskan kegiatan, program, tradisi, dan budaya literasi di lingkungan masyarakat, lingkungan komunitas, dan lingkungan pendidikan. Keempat, makin banyaknya gerakan-gerakan (yang menyebut diri) literasi yang berkembang di masyarakat dan sekolah yang dilakukan oleh berbagai kalangan. Bahkan juga di berbagai lembaga pemerintahan, misalnya gerakan literasi digital di Kemenkominfo, literasi keagamaan di Kemenag, dan taman literasi integritas di KPK.

Tak mengherankan, gerakan literasi makin marak di kalangan masyarakat, pemerintahan, dan pendidikan di Indonesia. Lebih-lebih setelah Kemdikbud mencanangkan dan menggencarkan gerakan literasi sekolah, yang kemudian diperluas menjadi Gerakan Literasi Nasional, dan berbagai kementerian dan lembaga pemerintah lain mencanangkan pelbagai gerakan literasi, pamor gerakan literasi mengalami pasang naik. Bisa dibilang, literasi dan gerakan literasi sedang moncer berkilau. Berbagai festival, lomba, klinik, dan juga pertemuan ilmiah tentang literasi sebagai bagian dari gerakan literasi makin sering dilaksanakan oleh pelbagai pihak.

/2/
Konsep literasi mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada mulanya literasi sering dipahami sebagai melek aksara, dalam arti tidak buta huruf. Kemudian melek aksara dipahami sebagai kepahaman atas informasi yang tertuang dalam media tulis. Tak mengherankan, kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis.

Lebih lanjut, literasi dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi sosial di dalam masyarakat. Di sinilah literasi sering dianggap sebagai kemahiran berwacana. Dalam konteks inilah Deklarasi Praha pada tahun 2003 mengartikan literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Deklarasi UNESCO tersebut juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan.

Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. Bahkan kemudian pada tahun 2016, Forum Ekonomi Dunia menempatkan literasi dasar sebagai satu di antara tiga pilar utama kecakapan abad 21 (bersama dengan kompetensi dan kualitas karakter).

Sejalan dengan itu, dalam Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud memaknai kemampuan berliterasi sebagai adalah kecakapan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai kegiatan, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara. Di tengah banjir bandang informasi melalui pelbagai media baik media massa cetak, audiovisual maupun media sosial, kemampuan berliterasi tersebut sangat penting.

Dengan kemampuan berliterasi yang memadai dan mantap, kita sebagai individu, masyarakat, dan atau bangsa tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai informasi yang beraneka ragam yang datang secara bertubi-tubi kepada kita. Di samping itu, dengan kemampuan berliterasi yang baik, kita bisa meraih kemajuan dan keberhasilan. Tak mengherankan, UNESCO menyatakan bahwa kemampuan berliterasi merupakan titik pusat kemajuan. Vision Paper UNESCO (2004) menegaskan bahwa kemampuan berliterasi telah menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis, dan ekonomis pada zaman modern. Lau Global Monitoring Report Education for All (EFA) 2007: Literacy for All menyimpulkan bahwa kemampuan berliterasi berfungsi sangat mendasar bagi kehidupan modern karena – seperti diungkapkan oleh Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO – kemampuan berliterasi adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Seiring dengan gejala literasi yang terus berkembang, sekarang bentuk dan jenis literasi juga terus berkembang di samping juga terus berkembang substansi dan konsepnya. Setakat kini ada berbagai bentuk dan jenis literasi yang ditawarkan atau dikembangkan oleh berbagai pihak. Sebagai contoh, PISA (Programme for International Student Assesment) yang dikoordinasikan oleh OECD telah mengategorikan literasi menjadi (a) literasi keilmu-alaman (scientifical literacy), (b) kebeberaksaraan matematis (mathematical literacy), dan (c) literasi membaca (reading literacy). Dalam berbagai terbitannya mengenai masyarakat informasi, UNESCO menyatakan adanya literasi informasi dan literasi media.

Selanjutnya, Mochtar Buchori (pemikir pendidikan dan pendidik cemerlang kita) menyebut ada literasi budayawi (cultural literacy) dan literasi sosial (social literacy). Belakangan juga berkembang literasi ekonomis (economic literacy), literasi keuangan (financial literacy), dan literasi kesehatan (health literacy). Forum Ekonomi Dunia (2016) membagi literasi dasar menjadi literasi baca-tulis, literasi angka, literasi sains, literasi TIK, literasi keuangan, dan literasi budaya dan kewargaan. Pada masa mendatang niscaya akan terus berkembang kategori lain literasi.

Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global. Sebab itu, kemampuan menguasai beraneka bentuk dan jenis literasi tersebut mendukung keberhasilan dan kemajuan seseorang, masyarakat, bahkan bangsa.

Dalam konteks pendidikan, kemampuan menguasai pelbagai bentuk dan jenis literasi tentulah akan membuat peserta didik sukses dan maju. Lebih lanjut, juga akan menumbuhkembangkan tradisi dan budaya literasi. Untuk itu,  dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru sebagai pendidik, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan kemampuan berliterasi peserta didik. Agar lingkungan literasi tercipta, diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan. Selain itu, diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang mengembangkan komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpajan dengan berbagai bentuk dan jenis literasi menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi lain.

0 comments:

Post a Comment