WHAT'S NEW?
Loading...

ZIARAH BERSAMA PENYAIR AGUSTINUS THURU



oleh Yohanes Sehendi - Dosen di Universitas Flores, NTT


Selamat pagi Pak Agus, jurnalis senior asal Bajawa yang kini tinggal di Denpasar. Terima kasih, pagi ini sudah menghidangkan puisi "Ziarah" untuk semua anggota RSK.

Dibandingkan dengan puisi "Kekal" kemarin pagi, Jumat (15/2/2019), yang masih kuat menggambarkan realitas faktual, puisi "Ziarah" pagi ini sudah mulai ada ungkapan/baris puisi yang mengarahkan imajinasi pembaca menuju ke arah realitas fiksi (realitas imajiner).

Hal tersebut terlihat pada  sejumlah ungkapan/baris puisi yang bersifat metafora, bahasa simbol, dan gaya perbandingan.

Sejumlah ungkapan/baris puisi yang membawa pembaca menuju realitas imajener itu, antara lain:
/Ziarah menabur rindu/. Dalam realitas faktual, yang ditabur adalah bunga, dalam realitas imajiner yang ditabur adalah rindu. Sama juga dengan baris lain dalam puisi, yakni /Menabur bunga kasih/.

Baris yang lain:
/Arwah duduk bersilah/
Di ujung Inerie/.
Dua baris ini membawa imajinasi para pembaca untuk membayangkan seseorang yang sudah mati (arwah) duduk bersilah di ujung/puncak  gunung Inerie. Imajinasi para pembaca dibawa penyair untuk membayangkan arwah seseorang (putih meta) duduk bersilah di ujung gunung Inerie sebelah Bajawa.

Juga ada gambaran lain yang bagus dalam puisi, yakni:
/Arwah putih meta/
Melambai tangannya/
Dari Poco Mandosawu/Pada debur ombak Waesugi/.

Secara keseluruhan, puisi "Ziarah" pagi ini tidak hanya menggambarkan realitas faktual atau dunia nyata, tetapi juga sudah ada sejumlah ungkapan/baris/larik yang menggambarkan realitas fiksi atau dunia imajiner, meskipun realitas imajiner yang ditampilkan belum sepenuhnya penuh.

Hehehe. Ini sekadar komentar pendek sebagai pembaca dan pencinta puisi Pak Agus. Kita saling memberi kesan, saling melengkapi. Bisa jadi Pak Agus dan pembaca yang lain tidak sependapat dengan pendapat saya. Biasa saja.

Dari sudut pandang teori sastra, yakni teori persepsi yang dikembangkan Wilhelm Wundt (1832-1920), setiap pembaca memiliki persepsi/tanggapan yang berbeda atas sebuah puisi. Sebuah puisi yang dibaca 10 orang pembaca, boleh jadi akan menghasilkan 10 tanggapan pula. Jadi, beda pendapat dalam mengulas/menganalisis sebuah puisi adalah hal yang biasa, dan ada dasarnya.

Ende, 16 Februari 2019
(Yohanes Sehandi)

0 comments:

Post a Comment