WHAT'S NEW?
Loading...

MUNGKIN: PUISI YANUSA NUGROHO, JAKARTA



barangkali saja memang ini benar
tentang trotoar dengan lantai pecah di beberapa tempat
lampu jalan yang tak selalu menyala di sudut itu
lalu genangan air di tikungan yang entah selalu ada di segala musim

lalu laki-laki tua di bangku halte yang
tentunya menunggu sesuatu
tetapi yang tampak
lebih seperti tak tahu apakah memang dia
tengah menunggu atau ditunggu
kadang ada langit biru
kadang cahaya lampu-lampu

"aku tahu, kau akan membayangkan berjalan
di sepanjang trotoar ini, lalu duduk
seperti  si tua itu
memandang langit biru bersamanya.."
tulismu di sebalik fotomu

Tetapi aku belum pernah melihat wajahmu, bisikku
'Aku hafal setiap lekuk dan ceruk yang ada di lembah wajahmu' tulismu

dari setiap foto yang kau berikan
kau biarkan aku menyusun pazel
lewat trotoar, lampu padam, langit

dan si tua yang sendirian duduk di halte
entah menunggu atau  ditunggu..

begitu saja kau hadir
seperti tak berjarak kau tegak
sekaligus jauh untuk kutempuh

kau biarkan aku hanya berbekal percaya
bahwa dirimu memang ada
dan layak kutemukan..

31.12.018

0 comments:

Post a Comment