WHAT'S NEW?
Loading...

BAPAK: PUISI PARMADI, JAMBI



saat ia tiada, baru kutahu tentang rasa kehilangan, ingin kuteriak agar ia tak pergi, tapi nyata ia tak kembali,
mungkin kepedihan dan kesedihan mencuat jelangnya, saat kemudian semua jadi kenangan

masih teringat saat terakhir, emak berkata,"Tole, Ramamu...." bulir airmata kulihat tetesnya mengalir di pipi emak.
aku terdiam, terpaku, bapak terbaring kaku di kasur kesayangan. "Bapak wes mangkat, Le...ikhlas yo. Wes, ojo ditangisi, Dongak no wae." demikian emak menasihati lirih, saat air mataku tak lagi terbendung. di Jumat menjelang azan, bapak telah kembali menjumpai Rob nya.

saat ia tiada, baru kutahu kehilangan itu apa, tentang rindu yang tak kan kembali nyata, tentang cara memberi kasih sayang tanpa kata, tak perlu ucap,
dan bahwa genggam erat reflek tangannya aku akan terpeleset jatuh saat ku kecil, kutahu kini begitulah kekuatan kasihnya.
^Maafkan aku Bapak, saat aku mulai tahu arti menjadi seorang bapak, engkau justru tak ingin aku mengungkapnya. Engkau berpulang dalam senyum damaimu"

barulah ku tahu, kehilangan itu ada saat yang tercinta tiada, ikhlas seperti kata emak, dan panjatkan doa di setiap detak hati dan saat terkenang, dalam setiap ibadah, agar bapak tetap tersenyum di alam abadinya.

Kobar Jambi, 141118

0 comments:

Post a Comment