WHAT'S NEW?
Loading...

PROSES KREATIF PENGARANG HANDRY TM (5)



MUNGKINKAH "THE BUTTON UNDONE"
KE THE LONDON BOOK FAIR 2019 ?

Ringkasan Sebelumnya:
Memasuki usia perkawinan muda hingga menjadi pegawai madya di Suara Merdeka, kejayaan karier dan kegelisahan masa depan menjadi pergolakan. Mengapa saya memutuskan untuk resign di usia ke 43?

Artikel ini kelak akan termuat pada buku "Proses Kreatif Sastrawan Jawa Tengah" yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Tengah dan dilaunching pada tanggal 25 Oktober mendatang di Semarang. Semoga menginspirasi para penulis muda kita.~ htm.

***

/2011- 2018/

PADA fase penutup, saya akan menguraikan proses psikologis yang saya alami. Semoga catatan ini tidak hanya berhenti hingga tahun 2018, karena masih beberapa karya puisi, fiksi maupun esai yang ingin saya terbitkan sesudahnya. Ini adalah sepuluh tahun terakhir yang amat sulit dalam kehidupan saya. Berbagai bidang usaha tidak saja mundur, bisa dibilang telah hancur. Namun produktivitas menulis saya merangkak naik. Jadi ingat sindiran “Ibu Negara” di masa ekonomi rumah tangga kami sedang membaik ketika itu, “Tulisanmu terbaca indah justru ketika hidup sedang susah, ketika hidup nyaman, tulisanmu terasa biasa saja.”

Kini, saya sedang mengalami siklus waktu yang ia katakan hampir sepuluh tahun yang lalu itu. Kualitas tulisan saya kembali membaik di saat hidup kembali sulit (Ha ha ha …)

    Sepanjang tahun 2011-2012 tidak muncul karya yang meyainkan kecuali antologi puisi "Rumah Cokelat"  (bersama penyair Timur Sinar Suprabana). Saya masih memiliki tabungan naskah di penerbit yang tahun 2013 akhirnya dilaunching. Ketika saya berulang tahun yang ke 50, hadiah terindah yang saya terima adalah terbitnya novel "Kancing yang Terlepas" (Gramedia Pustaka Utama 2013).  Saya merasa ini kejutan baru dan luar biasa lagi. Setelah mengirim naskah berturut-turut hampir 20 tahun ke penerbit terbesar itu, baru tahun 2013 penerbit menerimanya. Itupun berkat jasa baik novelis Budi Maryono yang membantu mengirim naskahku langsung ke redaktur Gramedia.

    Pengalaman tahun 1984, cerpen saya hanya sekali dimuat Kompas Minggu, namun sampai sekarang masih dikenang orang. Demikian pula novel "Kancing yang Terlepas." Terbit lima tahun berselang, namun novel itu masih dibicarakan oleh banyak orang. Mulai dari peminat sastra akademik sampai pembaca awam. Ini novel serius kedua setelah "Bintang Stamboel" (1995). "Kancing yang Terlepas" berkisah tentang pergolakan politik warga Pecinan menjelang kejatuhan kepemimpinan Soekarno dan menjelang kepemimpinan Soeharto (Orde Baru).

    Novel itu, di luar dugaan berhasil menarik minat pelajar dan mahasiswa sebagai referensi atau objek penelitian. Beberapa kritik memang saya terima, dan sejumlah pujian pun mereka berikan. Saya berjanji akan meneruskan novel ini ke dalam bentuk trilogi. Sayang janji itu belum bisa ditunaikan, mengingat beratnya bahan referensi yang harus saya kumpulkan. Yang menggembirakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meloloskan bantuan biaya terjemahan bagi "Kancing yang Terlepas" ke dalam Bahasa Inggris. Kelak versi Inggrisnya akan berjudul "The Button Undone" (dikerjakan oleh Slamat Parsaoran Sinambela). Kini naskah tersebut sedang dalam proses editing di penerbit, Insya Allah tahun depan Gramedia akan menerbitkannya. Menurut info tim Gramedia novel itu akan diikutsertakan di even The London Book Fair bulan Maret 2019.

    "Kancing yang Terlepas" juga diterjemahkan Hery Nugroho Djojobisono ke Bahasa Jawa dengan judul "Gang Pinggir." Versi Bahasa Jawa itu sekarang sedang menunggu penerbit yang bersedia mengunggah.

    Semangat saya kembali bangkit. Sambil terus melanjutkan trilogi, Album CD "Jazz for Ozza" (2014) dilaunching. Tidak beda dengan antologi puisi dalam format buku, hanya beda media saja,  "Jazz for Ozza" berisi pembacaan puisi oleh suara penyairnya sendiri. Album ini diterbitkan oleh Rumah Kertas Production, perusahaan milik sendiri bekerjasama PT Takdir Jaya Abadi Jakarta untuk proses replikasi.

    Dan penghargaan kembali singgah, Yayasan Buku Obor menominasikan cerpen "Pasar Gang Baru" di 10 Besar Lomba Cerpen Nasional 2014. Kemudian naskah "Tjahaja Asia" masuk nominasi dalam Lomba Penulisan Skenario Film 2014 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Penghargaan sebagai nominator peraih Prasidatama tahun 2017 di bidang Sastra dan Bahasa Indonesa oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah semakin membuat saya merenung.  Saya harus tidak sembarangan menulis. Reputasi itu bisa dibilang sebagai reputasi keteladanan. Terlebih tahun itu saya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Kesenian Semarang. Sempurna sudah “tersandera” sebagai sosok yang harus menjadi panutan.

    Semua itu saya jawab dengan antologi puisi, "Eventide" yang terbit pertengahan 2017. Kumpulan itu menghimpun sekitar 270 puisi yang pernah saya tulis antara tahun  1981-2017. Bersama "Eventide" saya melakukan perjalanan keliling di tujuh titik acara sastra di kota Semarang, Palembang dan Yogya. Antologi puisi bagi seorang penulis seperti saya adalah “kartu nama,” ia akan muncul paling cepat dua tahun sekali untuk megingatkan masyarakat bahwa kita masih berkarya. Saya juga aktif mengikuti berbagai antologi puisi bersama seperti serial Negeri Poci (Tegal).

    Tahun 2018 saya  menanti harap-harap cemas atas terbitnya antologi cerpen yang terhimpun dalam "Hujan Menderai." Cerpen-cerpen itu pernah dimuat di berbagai media cetak, setelah megalami penyuntingan ulang, buku itu disesuaikan bagi pembaca dewasa. Insya Allah Gramedia Pustaka Utama penerbitnya.

Menyusul itu, cerpen berjudul "Di Lereng Kaki Bukit Pesagi" yang saya tulis masuk Nominasi 10 Besar Krakatau Award 2018. Cerpen itu juga dimuat Harian Ekspres yang terbit di Sabah, Malaysia. Impak dari semua itu saya diundang menjadi salah satu pembicara di forum Pertemuan Sasterawan Nusantara ke 19 di Kota Sempurna Malaysia pada tanggal 9 November2018 wakil dari Indonesia.

    Apa boleh buat ~ semoga tetap sehat, saya menulis secara industri. Menulis dengan perencanaan pasar, skedul kerja, dan memperhitungkan momentum. Proses kreatif menulis saya tidak sederhana, hal itu dilalui dengan situasi yang menggetarkan. Semoga menjadi bahan bacaan dan penyemangat bagi para penulis muda. Negeri ini membutuhkan banyak inspirasi dari karya sastra. (Selesai)

Semarang, 4 Juni 2018.


HANDRY TM, SASTRAWAN, TINGGAL DI SEMARANG

0 comments:

Post a Comment