WHAT'S NEW?
Loading...

DURSASANA: PUISI YUFITA, PONTIANAK




Pada malam terkutuk itu
mereka datang dengan beliung di tangan.
Aku baru selesai mengeja waktu.
Lelahku belum sungguh-sungguh beranjak pergi. Sesekali masih kembali. Kemudian mereka menikamku dari belakang
sebelum aku benar-benar siap mengelak
dan melakukan perlawanan.

Ayah, dukaku atas pergimu adalah tetes
kepedihan yang menguyupi siang malam.

Mereka tahu itu—sungguh, mereka tahu!
Tapi mengapa masih saja mencacah-cacah
sedemikian rupa?

Mereka rampas peganganku.
Mereka bakar pundak tempatku bersandar.
Lalu mimpi kami mereka injak-injak
hingga remuk tak berbentuk.

Tidakkah mereka mengerti akan arti kehilangan
Kenapa masih saja terus memburu dengan siksa dalam rupa tipu daya?

Menggigil aku di kamar sendiri.
Menggigil di jalan-jalan sepi.
Menggigil dalam tangis pilu
saat derai hujan menggasak jarak pandang.
Menggigil aku dalam sembunyi, Ayah!

Tanahmu masih basah
Pandan dan kesturi masih segar lagi wangi

Dan petaka itu datang mengendap-endap
di bumbungan atap mengintai celaka.
Kuhadapi seorang diri.
Seorang diri, Ayah.

Mereka culik kekasihku.
Mereka sekap jiwaku, Ayah.
Mereka bakar biduk kami
dengan siasat keji.

Sungguh buruk dan busuk!

Katakan padaku, Ayah.
Masuklah ke dalam mimpi
dan katakan kepadaku.

Dengan wajah apa
mesti kuhadapkan pada ibu?
Ia begitu kuyu
mengantar keberangkatanmu.

Dengan wajah apa
mesti kuhadapi dunia luar?
Semuanya terbakar.
Semuanya hangus dan menghitam.

Lariku sembunyi
dengan cucuran airmata darah.
Lariku sembunyi
dengan sekujur tubuh gemetar
menanggung derita yang tak tanggung-tanggung.

Aku tak mau cemasku sampai pada ibu
Tak inginku pilunya tambah sembilu.

Ayah, telah kau ajari anakmu ini
tentang betapa mulianya belas kasih
dan kejujuran—apakah para ayah yang lainnya tidak?

Tidak mengertikah mereka akan arti kehilangan
Mengapa masih lagi merasa perlu merampas
dan membakar biduk yang kukayuh-kayuh seorang diri?

Kubu Raya, 25 Desember 2017.
(Setahun Selepas Pergimu, Ayah~dan setahun pula reribu beliung bersaranghunjam di dada dan kepala)

0 comments:

Post a Comment