WHAT'S NEW?
Loading...

MUSIM-MUSIM: CERITA PENDEK RENDY IPIN, TARAKAN




 “Permusuhan dan perdamaian terus tersaji di tiap musim.”
Belum ada seumur jagung, mereka berdamai di ujung jembatan. Bujor yang basah melihat Kamboy berdiri mengacungkan keleker dan logo dalam plastik bening. Ia silau oleh benda itu, mengurungkan niatnya untuk balas dendam. Memang, kemarin ia memecahkan Lepokan milik Kamboy hingga pecah berkeping-keping. Lantas, tubuhnya didorong oleh kamboy yang garang menitihkan air mata. Kemudian lehernya tercekik, ia menggamit segumpal tanah di genggaman lalu dilempar ke arah Kamboy. Gumpalan tanah itu beterbangan kemana-mana. Keributan di lapangan pun terdengar hingga ke rumah-rumah. Orang-orang yang mengetahuinya merasa terganggu,  langsung menyahut dengan mata terbelalak. Anak-anak kecil bergegas bubar.
Laut mengepung pulau, namun tidak menghalangi gerak lalu-lalang perahu, kapal, dan ikan-ikan. Air jernih meninggi lebih dari setengah kaki-kaki ujung jembatan, menyembunyikan rupanya yang dalam. Tanpa pikir panjang, Kamboy melepas baju dan celana menyusul Bujor dan kawan lainnya. Gerak timbul, menyelam dan timbul, meliuk-liuk dalam laut menambah kenikmatan tersendiri yang turut memadamkan rasa takut pada gelombang dan kedalaman bagi anak-anak kecil. Tubuh yang lincah. Bebas bergaya ke segala arah. Cara berenang seperti ini mustahil dilakukan di rumah.
Sementara di atas jembatan terdengar panggilan, seperti memberi peringatan. Mereka tak peduli. Mereka larut oleh jernihnya air pasang dan senja yang belum terbenam.


***
Selain Laut, Tanah lapang itu kembali ramai. Lepokan sudah bukan musimnya. Mereka gandrung dengan hal-hal baru. Keleker, dan Balogo bentuknya beda, indah oleh rupa-rupa warna, beragam cara memainkannya menarik perhatian Bujor dan Kamboy. Gambar membentuk segitiga, disebut Serambang. Tumit  melubangi tanah, disebut Lobang. Gambar berbentuk garis di beri tepi, disebut Puntu. Gambar berbentuk lingkaran besar, disebut Banga. Keleker ditekan membentuk lubang kecil di batasi kayu papan, disebut Tukun. Tangan-tangan menancapkan logo di tanah, disebut Balogo. Keleker di ketek, di lempar dan Balogo didorong dari belakang. Ada juga kobat digunakan sebagai senjata tiap-tiap pemain. Entah darimana Bujor dan kamboy mengetahui istilah-istilah itu, tidaklah begitu penting. Apa yang perlu di pahami saat itu ialah berbaur bermain dan tentu saja, semangat untuk menumbangkan lawan.
Terlalu bersemangat, permainan itu menimbulkan malapetaka. Kalah Akibat bertarung Kobat yang dilempar Bujor melesat, melukai jidat Kamboy. Bengkak dan berdarah. Bujor menangis mengerang kesakitan.
“Aduhhh mama” Isak tangis Kamboy menahan sakit.
“Gawat!”
 Secara tak sengaja, Suara itu terdengar  ke rumah-rumah. Mengganggu sang pemilik rumah yang menderita sakit. Karena jengkel, penghuninya keluar dan menyirami mereka dengan air satu gayung. Perdamaian kembali pecah.

Keleker dan logo dilupakan. Ingin berbalik ke tanah lapang, rasanya terlalu sungkan. Takut akan menganggu penghuni rumah. Apalagi di ujung jembatan,  air tergenang penuh oleh sampah-sampah.
Dimana lagi tempat bermain? Tanya itu pun terjawab oleh pemandangan benda yang melayang-layang di awan.
Rupanya langit mendengar, menerbangkan sebuah  layang-layang ke awan.
“Ini. Coba mainkan.”
Kamboy sang Pemilik layangan meminjamkan mainan miliknya kepada Bujor. Sebagai permohonan maaf kemarin. mereka pun  berdamai.
Berbondong-bondong mereka membeli benang dan layang-layang. Mencari angin kencang agar mudah terbang. Di atas bukit selumit, benang panjang terukur memanjang  ke angkasa, menerbangkan layang-layang yang tertiup oleh udara. Tatapan di habiskan ke atas, memandang silaunya terik matahari. Dua, tiga, empat, bahkan belaaan benda terbang itu menari bagai wayang-wayang. Layang-layang Bujor dan Kamboy saling silang, benang diulur digulung. Terus bergesek dan…
“Gicak!”
“Kejar!”
Tanpa pikir panjang, Bujor memenuhi perintah Kamboy. Ia bergerak menuruni bukit  Selumit, mengikuti kemana arah layang-layang itu jatuh. Langkah kakinya  bergerak cepat, ingus-ingus pun ikut meleleh dari hidungnya. Perburuannya tidak sendirian, anak-anak yang datang tak tahu dari mana arahnya tidak mau ketinggalan. ia tergabung dalam sebuah rombongan. Layaknya gerombolan lebah mereka mereka mengikuti kemana gerak layangan itu.  mereka masuk ke lorong kanan, layangan justru berbelok ke lorong kiri. Mereka berputar ke kelorong kiri, layangan melambung ke lorong kanan. Angin-angin telah mempermainkan gerombolan itu. lantas, tibalah layangan itu di atap rumah warga dengan benang yang sudah terseret-seret ke tanah.
Benang itu ditarik kencang, Kamboy yang masih berlari tak sengaja menabrak benang itu dan ia terjatuh.
“Aduh mama!” Teriak Kamboy.
Darah bercucuan ke tanah menambah suara tangisan Kamboy. Kakinya luka tersobek.
“semua ini gara-gara Bujor. Lain kali jangan dekati dia!”kata ibunya yang membuat perdamaian itu kembali pudar

***
Usia remaja menambah kepiawaian mementaskan seni diatas panggung. Bujor dan kamboy. nama  terdengar seantero Kampung. mereka artis hampir sejajar dengan bintang papan atas.
Namun, siapa sangka musim naik daun  membawa mereka ke arah perselisihan.
Naik daun tak selamanya berbicara kepiawaian.  di panggung , dikamar, bahkan  beranda media sosial. Bujor dan kamboy mempertontonkan debat kusir.
“Asal kalian tahu,  warna baju mereka itu mencontek identitas kita.” Begitu ungkapnya atas bisikan dari gurunya.
“Asal kalian tahu, merah kuning hijau, warisan raja kita” Begitu jawaban  Kamboy atas bisikan dari gurunya.”
Tidak hanya baju, keberadaan sebuah kerajaan pun tak luput dari perdebatan.
“Asal kalian tahu, kerajaan Pagun Taka pernah ada namun Kolonial Hindia-Belanda membumihangusukannya.” Begitu ungkapnya atas bisikan dari gurunya.
 “Kalau ada mana buktinya? Mereka itu masih dalam kerajaan moyang kita.” Begitu jawaban  Kamboy atas bisikan dari gurunya.”
Orang-orang yang menyaksikan perdebatan itu menuai banyak komentar. Ada yang membela, ada yang mencela.Bahkan tidak sedikit yang menganggap  kurang menarik. Sebab pembahasan itu kurang berdasar dan kurang bukti ilmiah yang konkrit.
***
Pada malam hari, satu persatu kendaraan roda dua melesat melesat masuk jalan-jalan aspal berlubang yang tertutup oleh kelebat pepohonan. Suara kendaraan yang beradu, dari suara rendah, suara melengking, hingga serak itu berhenti di depan rumah kecil berwarna kuning. orang-orang yang melihat dan mendengarnya, merasa bahwa peristiwa ini  sungguh-sungguh tidak ramah lingkungan.
“Pasti mereka itu pasien” kata  seseorang  yang mengintip dibalik tirai jendela.
“Benar. Pasien. Bukan sembuh malah cari penyakit.” Jawab seorang ibu yang sedang menimang-nimang bayi.
“Dasar. Cari penyakit.”
“Bermusuh juga cari penyakit berdamai, pun cari penyakit” Suara dari sebelah. 
“Bujor dan Kamboy?” Tanya  anak muda yang sedang asyik melihat-lihat gawai baru miliknya.
“Iya. Beruntung kamu Bapak sekolahkan baik-baik. Awas jangan ikut-ikutan. Mending cepat cari kerja. Oleh karena itu Jangan bikin susah orang tua. Mengerti!” seorang bapak menengur anaknya yang masih menganggur setelah dua tahun sarjana.”
Konon para pasien itu mencari obat penenang dari rasa gelisah, sakit,  penambah tenaga saat bekerja, dan Bujor maupun Kamboy lah sang dokter bagi mereka.
Di dalam rumah, Kamboy merawat Bujor yang sedang sakit. Dua orang itu kembali  berkawan. alat musik dan baju tari-tarian, semuanya di jual agar menghilangkan rasa sial  yang mengungkit-ungkit masa silam. Kali ini sangat akrab. Perselihan amat panjang soal naik daun telah  memutuskan mata rantai. Mereka berdamai,  menetap di kampung dan memutuskan tinggal dalam satu rumah.
Sambil merawat Bujor yang sakit keras, Kamboy tetap melayani pasien. Setiap hari, siang dan malam, pasien minta disembuhkan dengan obat mujarab.
Dalam kamar ia tersenyum kecil menyuapkan nasi ke mulut Bujor sambil merenungkan tentang musim singut yang akhir-akhir ini sangat digemari. “Pasien datang, uang tinggal, Demi kesembuhan Bujor, apapun kulakukan.” Katanya dalam hati.
 Isi renungan malam itu meniupkan angin musim. Guntur, kilat, petir diakhiri Hujan turun deras membasahi perdamainan mereka di kampung pukat.

SKS, 06 Juni 2018
Rendy Aditya Paraja


Catatan:

Lepokan : permaianan  yang terbuat dair campuran tanah dan semen, dibentuk speerti bola
Keleker : kelereng
Serambang : jenis permainan  menggunakan kelereng, dipasang membentuk segitiga
Banga :  jenis permainan menggunakan kelereng dipasang membentuk lingkaran
Tukun :  jenis permaiannan menggunakan kelereng dengan kayu papan sebagai pembatas
Puntu :  jenis permainan menggunakan kelereng yang dilempar tepat di garis lurus memanjang secara horizontal, sementara di tepi kiri dan kanan  di beri garis vertikal.
Gambarin : kertas kecil bergambar
Pagun Taka : Kampung Kita.
Gicak : Putus
Singut: tingkah menghisap. Biasanya menghisap sabu-sabu.

0 comments:

Post a Comment