WHAT'S NEW?
Loading...

KIDUNG SEPEREMPAT MALAM: PUISI MUHSYANUR SYAHRIR, MAKASSAR



Aku tidak tahu,  dengan cara apalagi aku menghentikan rasa ini yang terbelenggu dalam kerinduan mendalam.
Hari-hariku seakan bagaikan danau yang mengering karena airnya terserap.  Bahkan hati yang mulai tidak menentu,  seakan menemui kelayuan punah bagaikan dedaunan tidak pernah terpercik setetes air.  Tidak hanya itu.  Melainkan,  jiwa ini mulai tidak lagi bersahabat dengan keadaan. Akhirnya,  seakan bagaikan langit bertiang dengan tiang yang rapuh.  Pada akhirnya,  aku mencoba menatap langit malamku yang dikerumuni bintang-bintang dan berteman bulan yang ternyata,  bulan itu adalah kamu yang menerangi malam.  Bulan memikatku karena keindahan pancarannya yang menawan,  sedangkan engkau mengingatkanku padamu karena keelokanmu yang terbalut senyum simpul terus merekah bagaikan langit yang tergores oleh pelangi.  Ya,  ternyata engkau pun menggores hatiku dengan mata pisau cintamu.


(ilustrasi dakwatullah/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

0 comments:

Post a Comment