PUISI KOPI: PUISI MUHAMMAD THOBRONI, TARAKAN




para petani mendaki, tiba di ketinggian bukit kesekian ribu di atas kaki, dan mencangkul petak demi petak masa depannya: biji-biji kopi dikubur dalam-dalam demi malam menjelang lebaran.
Para perempuan berjongkok, menyandarkan kebahagiaan pada tumitnya, dan kulit yang terbakar tungku, wajah yang ditiup debu bara: mereka membolak-balik nasibnya, kopi-kopi itu menetes dari setiap keringat dan puting susunya, menjelma rindu dan cinta: anak-anak adam dan hawa berkeremun, menyerbunya, sebelum bercumbu dan bersenggama.
Hujan belum berhenti, sejak semalam, bahkan putra-putri adam dan hawa, entah telah berapa kali menyudahi ritual cinta mereka, dan kopi-kopi itu tetap terseduh, panas, kental dan asap harumnya membumbung hingga relung sukma.

2018


(ilustrasi aliexpress/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

Comments