WHAT'S NEW?
Loading...

LAUT DAN PUISI KARYA ASPAR PATURUSI





PELAYARAN

kemudi di tanganku gagah membelah laut
layar perahu amat angkuh melambai langit
siapa menunggu di ujung pelayaran ini
apa dermaga, karang, atau mimpi

bertiuplah angin, bernyanyilah anak-anak
jangan lupa benamkan onggok kenangan
biar jadi mainan ikan dan ombak
tangkap pula bulan dan rebahkan di geladak

bila kemudi ini patah
tiba saat nasib meminum garam laut
biar tahu apa lebih asin dari garam rumah

adakah pelayaran ini bergaram pengalaman
tak henti mengadang geram badai?

1982
* Aslinya menghadang. Tapi KBBI, hadang --- adang
(Puisi karya Aspar Paturusi, Makassar)


Terlahir sebagai anak laut, tak ada keraguan sedikitpun ketika harus menghadapi medan yang sulit untuk diterjang. Bisa jadi, bagi penyair yang sudah demikian akrabnya dengan birunya air, badai, karang, riak air serta pasir, melihat laut baginya merupakan lapangan luas tempat untuk mengekspresikan jiwanya.

Begitulah seorang penyair kawakan, Aspar Paturusi mengais-ais sejumkah diksi (kata pilihan) bagi karyanya.

Rasa takut yang menghantui jiwa seseorang muncul akibat ketidakseimbangan rasa (perasaan) yang berlebihan. Akibatnya logika kehidupan yang seharusnya memunculkan ketetapan hati (baca: keberanian), akhirnya terkikis. Keberanian yang ada,  lama kelamaan akan pupus diganti rasa takut yang mencekik perasaan (Roy Grigg : The Tao of Being halaman 121).

Dalam puisi berjudul,  "Pelayaran",  Aspar dengan tegas menepis rasa takutnya saat melayari laut yang penuh bahaya.
Sebagai anak laut, lautan yang sudah menjadi sahabat itu diseberanginya dengan kepatuhan terhadap keyakinan diri.

Coba kita simak tiap larik dalam bait pertama puisi ini :
kemudi di tanganku gagah membelah laut/  laju perahu amat angkuh melambai langit/ siapa menungu di ujung  pelayaran ini (?)/ apa dermaga, karang atau mimpi../

Dari isi makna yang terkandung, begitu perkasanya si aku (tanganku-lirik) yang begitu percaya diri menggenggam kemudi. Perahu motor yang ia kemudikan itu melaju kencang membelah air laut.

Menurut Raymond Grammer, keberanian seperti ini muncul akibat kesukaan (hobi) terhadap pekerjaan. Selain itu kecintaan dan kedekatan dengan hal-hal berbahaya sudah menjadi hal biasa. Akibatnya, suasana itu akan dijalani tanpa beban (buku Psikologi Manusia hal 49 edisi ke III tahun 1960).

Pada bait kedua, penyair menjelaskan tentang rasa senang  mengarungi laut bersama sejumlah orang yang dibawanya (anak-anak)..

bertiuplah angin, bernyanyilah anak-anak/ jangan lupa benamkan onggok kenangan/biar jadi mainan ikan dan ombak/ tangkap pula bulan dan rebahkan di geladak.
Hebat sekali. Dalam mengarungi lautan sebagai anak laut, penyair memounyai cita-cita tinggi yang harus diraih pada perjalanan ke depan.
Rebut keberhasilan (tangkap pula bulan dan rebahkan di geladak.

Secara filosofi, kekuatan dan keyakinan akan berhasil sangat menggugah semangat an perasaan anak-anak (muda).

Bagi Saini KM, karya  tak sekadar ungkapan rasa secara estetik, tapi menjerat pemikiran kita untuk tiba pada kebenaran meski berjuta rintangan ada di hadapan kita. Albert Camus dalam naskah Caligula...seperti kaum borjuasi di zaman ini, menggunakan berlapis-lapis tabir yang menghalangi mereka dari perjuangan itu. Secara filosofi, perjuangan inilah suatu kebenaran dalam keberanian  meraih keberhasilan yang diperjuangkan.

Pada bait terakhir, perjuangan itu dipaparkan dengan keras seiring semangat dan keberanian yang dijelaskan pada bagian awal (bait pertama).

..adakah perjalanan ini bergaram pengalaman/ tak henti menghadang geram badai..

Memang, meskipun pelayaran mengarungi laut harus diimbangi keberanian, kewaspadaan harus menjadi pegangan, jangan sampai perjuangan yang sudah dilakukan secara berdarah-darah justru dihadang badai kehidupan. (*)

anto narasoma, penyair tinggal di Palembang



(ilustrasi aliexpress/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

0 comments:

Post a Comment