WHAT'S NEW?
Loading...

CERITA DAN TRADISI DAERAH



Indara dan Ilamba
(Hikayat Buraq Sendana)

Buraq Sendana
Aku telah berdiri di sini
Di Tanjung Babia
Menanti kesiur angin
Yang mengirim gelisah
Inilah rindu tiada ujung
Dari Indara, kakakmu

Apakah engkau melebur hatinya
Serupa buih yang luluh di pasir
Atau engkau akan membiarkan
Setiap benih tetumbuh menjalar
Atau bahkan air matanya
Akan terus menggenang

Ini kehilangan sansai
Yang membonsai kecintaan Indara
Aku Indara, menunggumu, katanya
Biar seluruh air matanya menganak sungai
Pada lekuk menjura tanah Kaeli

Ilamba
Indara
Cinta kabut Sendana-Kaeli
Sepoi angin menjaring tangis
Duhai rindu memamah duka
(karya Adi Arwan Alimin)


Memasuki ruang-ruang estetika puisi Adi Arwan Alimin berjudul "Indara dan  Ilamba" (Hikayat Buraq Sendana) terasa nyaman berinovasi.

Sebab, terlepas dari benar atau tidaknya prediksi saya, kecintaan Adi pada tanah kelahirannya, Kaeli (barangkali), tergambar jelas dari sejumlah kisahannya.

Kaeli, merupakan daerah yang indah dilengkapi sejumlah hikayat lama, tentu akan mengentalkan rasa cinta akan tradisi daerahnya.
Hikayat Buraq Sendana, berisi kisahan asmara antara Indara dan Ilamba (kalau prediksi ini benar).

Sebab puisi sebanyak empat bait ini menjelaskan tentang itu...Apakah engkau melebur hatinya..(bait kedua larik pertama).

Kekuatan cinta itu diurai penyair pada larik-larik lanjutan, ..Serupa buih yang luluh di pasir../

Kalimat ini menjelaskan begitu meleburnya cinta kasih di antara buih dan pasir.

Seperti dalam bukunya 'Dari Lembah Tjita-tjita', Hamka menyatakan, tjintanja begitu melebur karena penderitaan di dalam djiwanya begitu kental menghadapi bermatjam tjobaan...(terbitan Februari 1928 oleh Pustaka Nasional Medan).

Artinya, cinta itu akan kian berkembang jika kedua sejoli menghadapi bermacam cobaan ketika merajut perasaan nilai-nilai asmara antara Indara dan Ilamba.

Dari pilihan kata (diksi) untuk menuturkan kisahannya, penyair terkesan hati-hati sekali. ..Atau engkau akan membiarkan/Setiap benih (cinta) tetumbuh menjalar/ Atau bahkan airmatanya/Akan terus menggenang..

Dari frasa yang tergambar di balik tipografi puisinya, ungkapan cinta itu dikemas apik.

Penyair Rabindranath Tagore menulis, cinta bukan sekadar milik perasaan. Ia akan mengembang sebagai wadah untuk menyatakan kesedihan, cemburu, marah, ingin memiliki dst..
Maka tak heran jika pemusik Jimmy Hendrix rela 'menyerahkan' seutas nyawanya melalui kelebihan dosis narkoba, ketika cintanya pada popularitas (kepopuleran) yang begitu tinggi.

Jika hikayat Buraq Sendana ini disanding dengan kisah cinta Romeo and Juliet, nilai rasa dan sejumlah hambatan banyak yang menghadang cinta Indara dan Ilamba.

Hanya saja, dalam cerita Romeo dan Juliet, cinta mereka menjadi sakral setelah ditebus dengan kematian.
Sedangkan hikayat Indara dan Ilamba justru mengecilkan (membonsai) perasaan kecintaan Indara...
Ini kehilangan sansai/ Yang membonsai kecintaan indara/ Aku Indara, menynggumu, katanya/ Biar seluruh airmatanya menganaksungai/ Pada lekuk menjurai tanah Kaeli..

Begitu jelas semangat Indara yang nyaris mengecilkan (membonsai) cintanya.

Kisah dalam puisi ini memang menarik. Itu terbukti dari wujud kisahannya yang melebur sebagai milik daerah (Kaeli). Seperti cerita. Malin Kundang yang begitu fenomenal dan mengakar bagi masyarakat Sumatera Barat (Padang). Selamat.


ANTO NARASOMA, PENYAIR TINGGAL DI PALEMBANG


(ILUSTRASI PINTEREST / yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

0 comments:

Post a Comment