BERSAMBUT PISAH: M. BURHANUDIN, SEMARANG



Istriku
Ijinkan kubaca  puisi, pada perpisahan ini
sebagi tanda cintaku,  pada keluarga yang tersemai
karena kebersamaan kita yang mesti usai
walau jiwa masih ingin terus merantai
namun apalah daya
tak seorangpun mampu menahan masanya

Istriku
Bukanku ingin dikenang, bukan ingin harap sanjungan
bukan pula takut dibenci, karena jabatan suami  diakhiri
hanya sekadar kenang perjuangan yang mesti terus dikobarkan

Istriku
Terukir  indah kebersamaan kita, di dedaunan halaman hati
Bersama, kita selalu menatap daun jati
yang hijau daunya, berikan kedamaian hati
Bersama, kita tanam mahoni 
yang akarnya hadirkan keselarasan raga dan sanubari
Bersama, kita rawat taman dan bunga
yang harumnya meracik kebahagian  penuh cinta
menyatukan tujuan dan cita bersama

Istriku
Harus dengan apa lagi, kubandingan suka cita bersama selama ini
lama kita bercengkrama dengan angka-angka  dan kata-kata

Kini kutitipkan harapan  perjuangan  tuk momongan kita
semangat membara untuk mencipta cita
Tiang keyakinanku, kokoh berdiri menopang asanya
erat tali silaturahimi  akan tetap  mengikat hati

Istriku
Kini, ijinkanku mengharap maaf
karena sebagai Insan, selalu dihinggap khilaf
dalam  pengabdian  dan perjuangan
beda pandang  selalu  datang
kadang pertikaian  dan ancaman sampai mencekam
semua tergores, oleh tujuan mulia yang beda



(ilustrasi fanpage muslim/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

Comments