RIWAYAT REMPAH 3: PUISI JOKO SARYONO, MALANG



Memandangi pohon-pohon rempah di sebaran ribuan pulau adalah bertualang menjelajahi syahwat birahi dagang yang menakik dalam luka demi luka di setiap dada: dada kita tentu saja. Hampar kebun pala, kapulaga, kemenyan, dan dupa cuma menyisakan tilas kepedihan dan kemelaratan di bawah bayang acung senjata. Kapal-kapal berlayar hanya menampakkan rasa kehilangan berkah dan kekayaan yang mesti diterima.

Memandangi berjuta bunga rempah di taburan ribuan pulau adalah menghitung barisan serdadu yang mengawal hasrat menguasai hidup dan nasib kita. Bunga cengkeh, lada, dan kapulaga yang menua melukis layu nasib dan menyisakan guguran harapan yang dipiara. Alur panjang laut yang begitu sibuk menampilkan sejarah panjang penderitaan yang tak terbaca.

Memandangi buah-buah rempah di tebaran pulau adalah berjuang membaca sejarah penguasaan pelbagai bangsa atas bangsa yang dibungkus gula-gula sepat di lidah kita. Harum cengkeh, kemenyan, dan dupa yang semerbak melenakan menjadi jarum-jarum lancip tajam yang menusuk jiwa. Jalur perjalanan laut yang panjang membentang berbilang samudra adalah ular ganas berbisa kesedihan yang tak juga sirna.

Memandangi rempah-rempah di ladang-ladang terbuka adalah usaha mencerna cerita-berbingkai khianat kita atas berkah yang tersedia. Kita undang sihir benda-benda yang asing dan kita timang begitu lena. Kemiskinan dan kehancuran yang terserak bersama pohon-pohon rempah tak terawat telah luput dari kornea mata.


(ilustrasi pixabay/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi

Comments