KRITIK TENTANG PUISI ESAI




Luar biasa.
Saya sendiri, pribadi, meski belajar sendiri menulis puisi, tak pernah merasa bahwa saya penyair.
Itu sebabnya saat Linus Suryadi Ag menerbitkan Tugu, kumpulan puisi penyair Jogya, saya ragu terlibat di dalamnya.  Dan Linus ketika itu bilang, "Besok saja mas Genthong saya catat di Tonggak."
Suatu malam Linus benar datang, minta puisi, katanya untuk Tonggak.  Saya terus terang tidak menggulati puisi setiap hari, bahkan saya tak disiplin menyimpan puisi-puisi saya, semua bertebaran ke mana-mana.  Kumpulan saya pun hanya dua, Terbakar Matahari Dibeku Salju, dan satu lagi malah saya lupa judulnya.  Mungkin puisi saya ada seribu, mungkin, saya sendiri tidak tahu, berencana mau mengumpulkan dan menyusunnya tak kunjung jadi, kertas-kertas saya berantakan bagai kapal pecah. Malam itu Linus kembali pulang tanpa puisi saya, dan saya batal ditonggakkan, kukira baik begitu, di dunia puisi saya tetap orang awam.
Saya setuju bung Denny, karena puisi saya dibilang seorang almarhum sastrawan senior sebagai Celoteh Bijak GHSA, sebab memang lebih panjang berkisah daripada minimalis kata. Itu puisi saya 1980, mungkin termasuk jenis puisi esai, seperti yang dikonsepkan bung Denny, entahlah, tak jadi masalah, walau saya tak menyebutnya demikian, saya ya sekedar menulis saja.  Dan juga tanpa footnote, meski itu menceritakan masalah sosial.
Saya tak peduli mau disebut apa puisi itu, bahkan bukunya tinggal satu dan saya cari belum ketemu, saya harap Dhenok atau Nana Ernawati yang dahulu bertiga bersama saya membaca puisi kami sendiri-sendiri masih menyimpannya ?!
.
Saya ikut mendengar gelisah orang protes pelopor puisi esai kok jadi tokoh sastra. Bahkan seorang kenalan saya,  sastrawan, mencoba mempengaruhi saya untuk tidak menulis buku bersama para penulis puisi esai tersebut (meski nama saya tak disebut dalam pengantar,  saya kebagian nulis Tema Sosial Puisi Lekra, dan karena rupanya si penulis tersebut gentar menghadapi para pengeroyok ke-TokohPuisi-an, nama saya dipasang pertama, dan satu buku jadi ditulis ramai-ramai, padahal seorang penulis hanya nulis Taufik Ismail, menulis Rendra, menulis hanya Wiji Thukul dan hanya nulis Denny JA ).  Penulis melakukan itu tanpa persetujuan kami semua, tiba-tiba nama kami ditulis bareng dan saya paling atas, artinya paling bertanggungjawab.  Sayangnya, Launching buku itu yang saya tunggu-tunggu tak juga dilaksanakan, sangat resah si penulis rupanya.
.
Kepada kenalan yang melarang saya,  sastrawan, saya jawab, urusan penokohan Denny saya tak mau tahu, saya tokh tidak mengikuti beritanya secara detail, entah siapa yg benar siapa salah, luweh, buat apa aku urusi. Waktu yg akan berbicara. Mau dibilang apa terserah, kukira pelopor puisi esai bukan hanya akan mengklaim saja dan mereka yg menokohkannya juga bukan kanak-kanak lagi.
.
Masih ada satu buku lagi yang saya buatkan Kata Pengantarnya, buku Monolog atas lima puisi esai yang ditulis Isti Nugroho dkk.
.
Saya setuju jenis puisi kita disebut puisi esai. Walau bagi saya, sebenarnya banyak puisi kita/Indonesia yang juga "bisa" digolongkan puisi jenis ini. Contohnya Nyanyian Angsa Rendra, bahkan juga Khotbah ataupun Rick dari Corona. Juga Sebatang Lisong sangat kritis terhadap masalah sosial.  Atau puisi Darmanto Yt berjudul Isteri, dan lain-lain,  juga puisi Taufik Ismail "Masa Depan Indonesia", dan lain-lain.   Hanya tentu saja, semua tak menyertakan Catatan Kaki, seperti yang disyaratkan.
Yang perlu dijaga kukira, jangan sampai puisi esai terlampau esai/menyajikan fakta wadag, dan minim rasa puitisnya/poetika.
.
Bagi semua saja, semoga berjaya !!!

GENTHONG, Penyair tinggal di Yogyakarta


(ILUSTRASI @KYAUTHORFORUM/ YUK KE BAGIAN BAWAH BLOG DAN KLIK IKLANNYA UNTUK SETIAP INFORMASI BERHARGA DAN MENCERAHKAN)

Comments