HASRAT: PUISI JOKO SARYONO, MALANG



/1/                 
"Biarkan, biarkan aku menyurat sepenggal bait mantra jaran goyang di atas tubuhmu, yang bidang seperti sawah kekeringan air liur di musim paceklik nafsu", cetus perempuan itu kepada lelaki jangkung yang terkepung perempuan-perempuan bugil tergantung di dinding ruang tamu, rumah itu ya rumah itu, yang senantiasa temaram sinar lampu: tercipta oleh jemari-jemari perempuan itu yang belepotan eros paling berdebu karena kerap meremas ampas-ampas hasrat layu sebelum bersambut sekutu, akibat tak ada lelaki menempel di seantero tembok bata merah kembang sepatu. Sang lelaki lalu terbahak tawa, rambut putih panjangnya terkesima,sebelum ada sebuah sayat kata, "Lukisan-lukisanmu jelek melulu, tak ada teknik anggun dari para maestro yang dikekalkan buku-buku, tapi selalu mengganggu, bahkan merajang-rajang pikiranku: membetot kornea mataku!". Berkali-kali sang lelaki berdiri, lalu memeloti perempuan-perempuan telanjang menempel di dinding ruang tamu. Perempuan putih mulus itu cuma tertawa, lalu menimpali ringkas semata: "Diam-diam Anda punya libido berbahaya! Dan aku suka". Di luar rumah senja perbukitan yang dingin kian membara: entah karena sisa sinar surya, entah nafsu tersedak di kancing celana.

/2/     
Selepas melontarkan derai tawa, dan  terguncang tubuh gempalnya, perempuan itu berkata, "Wine yang meresap di balik tekak lidahku akan menjadi tinta untuk menulis puisi mantra paling bergelombang hasrat di atas tubuhmu". Lalu dia merapatkan tubuh pada lelaki di sampingnya, menghunus lidahnya, dan menghunjamkan pada tubuh lelaki tengah baya, menyurat mantra kasmaran berlumuran birahi. "Tubuhku adalah beribu lapis kertas tak terperi, berhari-hari kautulisi tak bakal kau jumpai lembar terakhir yang dinanti. Maka beratus puisi mantra yang mungkin bisa kau tulis hanya membuatmu mabuk hilang diri: bau menyengat wine cuma mengabarkan kau telah terkapar, hanya tersisa debar hambar", sahut lelaki tegar. Sepi pun menjerit kuat-kuat mendengarnya. Suasana bersiaga untuk melumat segala berita. Biar tak menjadi kaba: kelak ketika zaman bersalin rupa.


(ilustrasi rediffblog/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

Comments