BERSEMU NOSTALGIA



"Yeaah. Akhirnya Mom nonton film ini. Bagus kan? Sedih kan? Film ini dulu bikin meleleh. Padahal yang nonton laki-laki. Pemuda jamanku masih STM dulu, semua udah nonton film ini." Kekasihku tertawa bangga menceritakan sejarah masa lalunya.

"Nggak sedih sih. Lucu menurutku." Jawabku santai.

"Sedih, ah. Dulu pada nangis kok." Kekasihku tak percaya.

"Sedihnya dikit." Hiburku.

Film bikinan negeri tirai bambu. Ceritanya ngayal. Aku heran, suamiku tergila-gila film itu.

Angle-angle nya bagus sih. Coloringnya udah kaya drakor jaman sekarang. Jadi nggak keliatan produk jadul. Tetep terlihat up to date.

Kata suamiku, itu film buatan tahun 1999. Masih terdaftar film baru di rentalan CD/VCD. Pada ngalamin ngrental nggak? Pemuda kampung bergiliran nyetel film itu. Giliran dibalikin ke rentalan, kenan denda deh.

Komentar yang paling sering aku dengar selama liat film itu: "Artis nya cantik banget, ya mom." Owalaaah, ini toh alasan yang bikin kekasihku bilang filmnya bagus. Kwkwkwkwk. Dasar laki-laki normal!

Melihat reaksiku yang nggak bereaksi mendengar komentarnya, buru-buru diralatnya. "Cantik kan, mom. Kayak e-mom ya?"

Uhhhuukk. Hahahaha, aku semakin nggak bereaksi. Hlah, mirip gimana, Wong itu Artis Negeri tirai bambu. Body semlohai, kulit putih bersih aduhai, rambut panjang terurai, gigi rapih menjuntai. Ups, gigi kok menjuntai.

Misi memperlihatkanku film masa lalunya sukses. Tertunda sudah acara membatik sekitar pundak saya. Pundakku serasa kaku beberapa hari bercinta dengan keyboards laptop.

"Jadi nggak nih?" Aku sodorkan balsem Dan yang logam 50 rupiah.

"Sini, sini." Kekasihku memintaku mendekat.

"Bentar, aku pengen liat yutub." Aku cari-cari video yang pengen kunikmati. Sambil menikmati batikan kekasih di pundakku.

Tontonan siap. Peralatan Batik siap. Joss. Lanjuuuut.

Kepalaku Naik turun menikmati yutub. Kadang meringis kalo batikannya pas kena tulang. Combine yang nggak matching tenan. Manthuk mringis, manthuk mringis.

"Eh, papi teringat sesuatu nggak liat video itu." Pas saat Kirk Hammet melengking petikan gitarnya. Lars Ulrich mulai menggbuki snare, Dan tom-tomnya.

"Enggak.." Jawabnya ragu.

"Masaaak siih." Suara orchestra terdengar menyayat-nyayat. James Hetfield manggut-manggut memetik gitarnya. Tongkat komando Michael  Naik turun penuh gelora.

"Ooh, hmmm, iya aku pernah kasih Mom kaset itu. Tapi, biasa kan. Namanya juga musisi. Ngasihnyq kaset." Jawabnya ngeles. Hihiihi rona jingga di wajahnya.

Aku menatapnya.

"Coba liat aku." Tantangku. Senyumnya menjadi kikuk. Salting. Hahahaha.

Setelah ku ingat-ingat. Tidak hanya kekasihku ini yang pernah memberiku kaset. Masih beberapa. Band musik yang sama dengan album berbeda.

Yang berjodoh hanya satu. Mantanku kekasihku ini. Dia bersemu nostalgia sore kemarin.

Pulosari, 31 Desember 2017



INDRIYANI VOLUNTIRI AZIEZ,  GURU SMPN 2 NGAGLIK, SLEMAN, TINGGAL DI PAKEM.



(ambau.id/ yuk lanjut ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk setiap informasi berharga dan mencerahkan)

Comments