WARISAN BUDAYA LELUHUR TIDUNG DI KALIMANTAN UTARA




Padau tuju dulung merupakan sebuah perahu dengan bentuk yang khas. Warna perahu terdiri dari kuning, hijau dan merah. Menurut tradisi budaya suku tidung warna kuning merupakan perlambang suatu kehormatan atau suatu yang di tinggikan atau dimulyakan. Di atas perahu terdapat 5 buah tiang yang melambangkan sholat 5 waktu yang merupakan tiang Agama Islam. Guna tiang-tiang tersebut adalah tempat mengikatkan atapdari kain berwarna kuning yang disebut PARI-PARI.
Indong adalah naik ayun suatu tradisi dari masyarakat kaum suku tidung, untuk anak bayi yang baru lahir dan belum pernah di ayun. Pada acara ini dilakukan pembacaan doa dan sholawat oleh imam, dan selanjutnya bayi yang di gendong oleh orangtuanya memasuki arena acara yang diiringi tetabuhan hadrah dan disenandungkan lagu-lagu sholawat. Kemudian dilakukanlah acara gunting abuk/gunting rambut, dimana pengguntingan pertama sang bayi dilakukan oleh sang imam. Acara gunting rambut berakhir ditandai dengan berakhirnya tetabuhan hadrah. Sang bayi di naikkan kedalam ayunan yang telah dihias sedemikian rupa.
Gayang mandaw. Penggunaan Mandau ini sering dipakai untuk memotong sesuatu jika itu digunakan dalam kegiataan sehari-hari. Mandau ini bagi suku tidung sangatlah penting untuk melindungi diri dari beberapa serangan dari laur, seperti binatang buas maupun musuh. Mandau ini dibuat dari batu dimasa lampau dan gagang (pegangan) mandau terbuat dari tulang/ tanduk rusa/ kijang. Mandau sebagai alat yang bisa menjaga diri dari semua serangan musuh.
Ganjul/Tombak. Penggunaannya hampir sama dengan Sumpit namun Tombak tidak mempunyai anak panah yang sifatnya beracun. Tombak sering digunakanuntuk berburu, Rusa dan Binatang lannya. Tombak itu sendiri terbuat dari Batu dan Kayu. Pais /pisau raut digunakan sebagai alat meraut bambu untuk membuat bunga serai. Beluing digunakan sebagai alat yang biasa digunakan untuk membersihkan rumput di halaman rumah dan untuk berkebun. Ayam belungis /Tikar Pandan sebagai alat yang digunakan untuk tempat alas tidur, acara perkawinan dan juga bisa digunakan sebagai pengobatan tradisional suku Tidung.
Kibud/tempat air digunakan sebagai tempat untuk menampung air yang akan di masak. Pengkaran/tempat air minum digunakan sebagai wadah atau tempat menyimpan air minum yang sudah dimasak. Baki/tempat tutung digunakan sebagai tempat untuk menyimpan makanan suku tidung. Pelujan berfungsi sebagai tempat membuang hasil menyirih. Tutud/lampu digunakan sebagai alat penerang rumah tradisional pada saat belum ada listrik,
Ubu kanon /bubu ikan digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan disungai kecil. Jala digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan disungai atau dikolam. Padaw/perahu digunakan sebagai alat transportasi air tradisional suku tidung.. Busay/dayung digunakan sebagai alat untuk membantu perahu atau mengatur arah perahu berjalan.
Lelanjung/Tempat padi yang sudah Tua digunakan untuk menyimpan padi yang akan menjadi bibit untuk ditanam kembali. Tempinak/Tempat Padi yang masih Muda digunakan sebagai alat untuk menyimpan padi yang telah dipotong dari tangkainya. Telipos/sangkar burung serindit digunakan sebagai alat menyimpan burung peliharaan. Gasing digunakan sebagai alat permainan tradisional suku tidung. Tanduk payau digunakan sebagai hiasan dinding.

 MARDIANA K.,  mahasiswa pbsi fkip ubt

Comments