KEHAMILAN DAN PERUBAHAN POLA HIDUP (KETIKA BUAH HATI TAK KUNJUNG TIBA 6)



Hamil mengubah pola hidup saya secara drastis. Tiba-tiba semua orang terasa begitu protektif pada saya. Rasanya hidup saya berada dalam pengawasan orang lain.. Saya yang terbiasa mandiri, dalam beberapa hal harus rela menjadi tergantung pada orang lain terutama suami saya, Mas Mohammad Nasikh Ridwan. Saya tidak boleh lagi menyetir mobil, tidak boleh naik tangga, tidak boleh capek, dan banyak larangan lainnya. Beberapa orang yang biasanya kalau ketemu menanyakan kapan lulus, mengubah pertanyaan menjadi apakah saya sehat dan baik-baik saja... Begitulah, saya mendapatkan limpahan perhatian yang luar biasa... Awalnya agak terasa aneh, namun lama kelamaan menjadi terbiasa bahkan menikmatinya... :D

"Ini hamil anak keberapa Bu?" begitu pertanyaan yang sering saya terima jika bertemu orang, terutama ketika sedang antri periksa dokter. Begitu saya jawab ini anak pertama, mereka membalas dengan tatapan heran. Jika ada pertanyaan lanjutan biasanya akan saya jelaskan, dan mereka akan takjub dengan kisah saya... kalau tidak ada pertanyaan, saya biarkan keheranan itu mereka simpan....

Saya menyadari bahwa saya hamil dalam usia yang tidak lagi muda. Sempat terbersit kekhawatiran akan kondisi anak saya dalam kandungan. Tidak dapat dipungkiri, literatur yang saya pelajari sejak kuliah S1 justru menghantui saya... Tentang risiko-risiko tertentu yang dapat terjadi pada anak saya. Saya hanya bisa berdoa agar anak saya kelak lahir dalam kondisi sehat lahir batin tidak kurang suatu apapun juga.

Terkait dengan risiko itu pula yang membuat teman-teman mengkhawatirkan saya. Beberapa merekomendasikan nama-nama dokter yang dianggap sebagai dokter obsgyn terbaik di Jogja. Namun kebanyakan tempat praktik dokter tersebut jauh dari rumah saya yang ndeso di Bantul. Jangan-jangan saya malah stress karena urusan periksa dokter.. Saya pilih dokter kandungan yang praktik di dekat rumah saja...

Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi anak dalam kandungan adalah stress yang dirasakan Ibu. Jelas saya tahu, wong itu bagian dari materi salah satu mata kuliah saya... :D Oleh karena itu saya berusaha mengelola diri saya agar tidak mengalami tekanan psikologis dari sumber apapun termasuk disertasi, dan saya merasakan betapa tim promotor sangat memahaminya sehingga membuat saya  nyaman.

Saya mengurangi intensitas dalam mengerjakan disertasi. Apalagi saya juga berasa jadi mudah mengantuk, dan terkadang merasa lemas sehingga berdampak pada mood saya. Meskipun demikian,  saya tetap serius mengerjakan disertasi. Tentu dengan fleksibilitas sesuai kondisi saya. Tim promotor menyarankan pada saya untuk bisa melakukan seminar proposal disertasi sebelum melahirkan, dan itu bisa saya penuhi. Saya maju seminar proposal disertasi saat kandungan saya berusia sekitar 7 bulan.. Namun demikian, saya masih harus melakukan beberapa revisi. Beberapa hari menjelang melahirkan, saya masih presentasi dalam sebuah workshop untuk mematangkan instrumen penelitian saya.

Alhamdulillah saya tidak mengalami masalah yang berarti selama kehamilan, kecuali keluhan-keluhan umum sebagaimana layaknya ibu hamil. Saya ikuti semua petunjuk dokter kandungan saya, termasuk ketika saya disarankan untuk menjalani operasi caesar dalam proses kelahiran. Prioritas saya adalah keselamatan kami berdua, saya dan anak saya.

Sebagaimana layaknya ibu hamil, saya survey beberapa RS untuk tempat melahirkan dan dengan beberapa pertimbangan pilihan saya jatuh pada salah satu RS swasta di Kota yogyakarta. Pada hari yang telah ditentukan, saya diantar suami masuk RS dan mulai menjalani serangkaian pemeriksaan sebelum dilakukan operasi esok paginya... Malam itu juga kami mulai menginap di rumah sakit.. Rasanya tidak sabar untuk menunggu pagi...

Bantul, 9 Oktober 2017


SITI ROHMAH NURHAYATI, dosen fip uny

Comments