WHAT'S NEW?
Loading...

JANGAN MEMANGGILKU PELAKOR!: CERITA PENDEK RAHMI NAMIROTULMINA, KUTAI




-Nomor yang anda hubungi tidak menjawab, silahkan tinggalkan pesan suara-   Gemetar kutekan tombol merah dan secepatnya kutekan tombol hijau. Nada panggil menyalak nyalak. Senyap. Kuulangi lagi. Senyap. Dipanggilan kesekian -tit..tit..tit..- telfon di rijek. Sejurus kemudian berganti androidku yang bergetar getar. SMS kubuka

            “ Jangan nelfon! Mas lagi sama istri. Nanti mas kabari” Aku tersengat. Panas. Lalu terlempar kedalam jurang yang sangat dalam. Sampai didasarnya tulangku berkeping keping. Aku merasa hilang.

               Kupegang tangan Putra anakku . Kubisikkan padanya

 “ Ayah sebentar lagi pulang”. Putra tak perlu tahu. Ayahnya sedang bersama istrinya dan itu bukan ibunya. Terlalu rumit untuk menjelaskan pada bayi 9 bulan ini. Thermometer berkedip kedip. 38,5 derajat Celcius. Putra nampak mengaduh. Rupanya paracetamol,  belum menunjukkan kesaktiannya. Pun kompres air hangat, nampaknya menyerah pada demam. Aku pun  mengaduh. Tapi di dalam hati.

            “ Tuhan, pindahkan lah rasa sakit anakku, kepadaku” Doaku sampai kelangit. Senyap. Siang ini begitu senyap, pengap, bersama kekuatanku yang lesap satu persatu.

            Dan ini lah aku, Mira Mutia. Aku istri kedua. Dan Putra anakku. Anak  Zeinnudin yang tadi mengirim kabar bahwa ia sedang bersama istrinya. Lantas aku ini? Orang memanggilku pelakor kalau mereka tahu aku isteri kedua. Perebut Laki Orang. Mendengarnya saja aku sudah merinding.. Apalagi bila ada yang mengarahkan telunjuknya padaku sambil berkata

 “ Dasar Pelakor!”. Aku bisa pingsan. Sebab aku bukan perebut. Bukan. Aku bisa jelaskan.

             Rebut. Mengambil paksa. Siapa yang kuambil dengan paksa . Tidak ada. Lelaki itu datang sendiri. Ketika kami bertemu pandang di sebuah warung steak populer. Dia menghampiri dan menyodorkan senyumnya yang hangat.

            “ Ukhti sendirian? Boleh saya duduk disini? Soalnya kursi yang lain penuh” Penuh sesak. Dan karena aku sendirian tentu saja kursi disampingku satu satunya yang belum terisi.

            “ Lain kali bawa mahram, tempat ramai begini gak aman untuk bidadari yang sendirian seperti ukhti” Seketika aku merasa tubuhku terbias cahaya kunang kunang.

            Zein memesan  makanannya di mejaku. Kami makan. Tidak banyak bicara. Sesekali beradu pandang. Beradu senyum. Sebab aku lebih banyak membenamkan diri ku ke meja. Zein membayar makanan kami tanpa kuminta lalu memburuku ke tempat parkir.

            “ Ukhti.. bisa minta nomer telfonnya, kebetulan saya lagi nyari guru les untuk anak saya “ Aku tersenyum. Ternyata orang yang membayar tagihan makananku ini seorang bapak. Bapak yang baik. Buktinya dia menyapa perempuan yang tak dikenal hanya untuk kepentingan anaknya. Jadilah kusodorkan secarik kertas yang sudah kutulisi nama dan nomer telfonku. Sebab tak ada yang perlu kuhawatirkan dari orang asing yang kebapakan ini.

Belum sempat aku melupakan wajahnya, kami sudah bertemu di kantorku. Tentu saja untuk membicarakan teknis les anaknya yang sampai hari ini tidak pernah terlaksana. Setelahnya pertemuan demi pertemuan digagasnya dengan menyuguhkan bunga, madu dan senja. Semua yang serba indah dan manis.

            Apa yang kurebut dari orang yang bermalam malam menjagaku di rumah sakit ketika tipes memenjarakanku dalam jarum infus, meneteskan air mata ketika tak satu suappun makanan yang tidak kumuntahkan lalu aku terhuyung dan jatuh pingsan ketika hendak berjalan kekamar mandi. Apa yang perlu kurebut dari orang yang dengan matanya yang hangat, begitu sopan membayar semua tagihan listrik dan air rumahku

 “ Gunakan gajimu buat belanja barang barang yang kamu suka, bersenang senanglah, mas suka liat kamu senang”. Apa yang perlu kurebut dari orang yang berwajah kusut tak karuan bila dua hari saja tak menyentuh pipiku dengan jemarinya

 “ Mas kangen banget” Apa yang perlu kuperebutkan dari lelaki yang sekali lagi meneteskan air mata ketika aku mengangguk dan berkata di telinganya

“ Saya terima lamarannya dan bersedia jadi istri mas yang kedua”. Aku tidak merebut apa  apa dari orang yang datang sendiri dengan cintanya yang bertabur bunga, berasa madu, dengan latar belakang senja.

            Sebab aku bukan pelakor. Maka aku menolak  Zein menceraikan istri pertamanya.

            “ Suami mbak Salamah harus tetep menjadi suaminya mas.. saya gak mau merebutnya”

            “ Tapi, kalau istri mas tahu, dia akan sakit hati”

            “ Kalau begitu, jangan memberitahunya. Aku gak mau menyakitinya mas”

Dan banyak hal yang sudah kubayangkan bisa terjadi dengan sederhana, namun kenyataannya terlalu rumit hatiku menerima. Karena aku isteri yang disembunyikan maka kepalaku dibenamkan didasar lautan. Megap megap, mengambil nafas sebentar ke permukaan, lalu dibenamkan kembali .

“ Takut ada yang lihat” Seperti tokoh hantu dalam film horor. Dinanti nanti kemunculannya, dan begitu hadir, penonton menutup mata. Sebab ngeri. Maka segala tentangku adalah jerawat yang mesti disembunyikan dan tidak pernah diinginkan adanya.

            Semua itu sudah kubayangkan sebelumnya. Aku siap lahir batin. Dan ternyata aku hanya siap membayangkan saja. Bukan menjalani. Pada gilirannya, aku kerap terhuyung huyung menangis, sekaligus terhuyung huyung berpura pura bahagia. Sekarang aku tahu, aku cemburu. Sebab  aku bisa menyaksikan manis madunya pernikahan Zein dengan Istrinya, sementara aku juga istrinya. Hanya saja siapa yang tahu aku istrinya? Aku sendiri!

            “Mas, kemarin jalan jalan ke taman anggrek ya sama mbak Salamah? Aku juga mau kesana”. Rengekku suatu hari

            “ Pergi aja dengan teman temanmu, gak mungkin mas yang nemani kan? Kalau ada yang curiga gimana?” Aku membeku

            “ Kalau gitu, pergi ketempat yang jauh aja mas..yang gak banyak orang yang kenal”

            “ Ya nantilah.. tapi sulit teknisnya. Mas khwatir, istri curiga” Dan aku semakin membeku. Ternyata, setelah menikah, bunga menjadi layu, madu berubah pahit dan senja sedemikian muram. Zein berubah. Dari pacar menjadi suami. Dari heroik menjadi alakadarnya. Dari romantis menjadi realistis. Bagaimana bisa begitu? Barangkali seorang pacar melakukan semuanya atas dasar kesenangan. Sementara seorang suami melakukan semuanya atas dasar kewajiban. Dan secara alamiah, makin bertumpuk kewajiban, makin bertambah beban , maka sudah pasti menyusutlah pesona.

            Lamunanku buyar. Putra terbatuk. Sejurus kemudian, Matanya terbelalak. Badannya kaku bergetar hebat. Suara gemeretak giginya memenuhi udara. Putra menggerung .  Kesakitan. Namun aku masih bisa mendengar bunyi jarum jatuh kelantai. Sebab aku takut. Limbung dan bingung. Putra Kejang. Aku tegang. Sejurus kemudian matanya tertutup. Putra terkulai.

            “ Mas Zein tolong...” Suara ku menembus langit. Tapi tak ada yang mendengar. Aroma kematian meruap samar.


Ditulis dibulan anniversarry kawinan


0 comments:

Post a Comment