WHAT'S NEW?
Loading...

GARUDA PANCASILA



Ada beberapa tokoh utama dalam pemerintahan indonesia antara tahun 1945 sampai dengan 1950, yakni Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, dan Amir syarifudin.

Dalam periode itu, masalah yang mereka hadapi adalah federalisme dan komunisme.

Kelompok Federalis menuntut indonesia berbentuk negara serikat dan bergabung dengan persemakmuran belanda dan mengakui ratu belanda sebagai kepala persemakmuran. Kelompok ini terdiri dari 15 negara federal yang dipimpin oleh Sultan Hamid II, sultan pontianak yang juga perwira pada pasukan belanda (KNIL). Kelompok ini didukung oleh belanda dan sekutunya.

Sedangkan kelompok komunis menuntut merdeka 100%, tidak setuju dengan federalis dan menolak kompromi apapun dengan belanda. Mereka siap berperang sampai titik darah penghabisan. Bahkan mereka tidak hanya menuntut kemerdekaan politik tapi juga ekonomi. Mereka menuntut sistem ekonomi indonesia harus komunis, agar kaum buruh kelak tidak dijajah oleh kaum borjuis setelah indonesia merdeka. Kelompok ini terdiri dari berbagai organisasi dan kelompok militer yang dipimpin oleh Tan Malaka pada 1946, lalu oleh Amir Syarifudin dan Musso pada 1948.

Soekarno, Hatta, Syahrir menolak kedua kelompok itu. Tapi mereka hanya berhasil melawan kelompok komunis. Mereka gagal melawan kelompok federalis, karena kelompok federalis dibantu belanda dan sekutunya (perang 10 November, agresi militer I, agresi militer II).

Karena kegagalan tersebut, maka Soekarno, Hatta dan Syahrir terpaksa menerima konsep negara federal tersebut. Baik pada perjanjian linggarjati (maret 1947), perjanjian renvile (januari 1948), perjanjian Roem-Royen (mei 1949), Konferensi Meja Bundar (agustus-november 1949) sampai sidang KNIP (14 Desember 1949), kaum federalis selalu menang.

Puncaknya adalah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada republik indonesia serikat (RIS) pada 27 desember 1949.

Kaum federalis di atas angin. Pimpinannya, sultan hamid II dapat kehormatan mendesain lambang RIS: Garuda Pancasila.


RAGA CANDRADIMUKA, budayawan kalimantan utara

0 comments:

Post a Comment