WHAT'S NEW?
Loading...

SERI PRAKTIS MENYELESAIKAN TUGAS AKHIR (3): MENULIS PROPOSAL PENELITIAN







Langkah selanjutnya adalah menulis proposal penelitian yang akan diuji pada ujian proposal. Bagi yang mempunyai kemampuan menulis, menulis proposal bukan perkara susah, bisa dengan mudah diselesaikan sebab sudah terbiasa menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Jika anda terbiasa menulis maka dengan mudah anda mepresentasikan keinginan anda dalam proposal tersebut, dan meyakinkan pejabat jurusan bahwa anda mampu melakukan penelitian tersebut.
Namun, bagi yang tidak biasa menulis maka menulis proposal merupakan hal yang sangat berat. Berat untuk memulai, berat memilih kata, berat memilah ide-ide, tentu saja paling berat memprestasikan apa yang menjadi keinginan anda pada proposal tersebut. Perasaan berat tersebutlah yang menghentikan aktivitas anda menulis proposal.
Agar judul yang disetujui tersebut tidak hanya mentok di judul saja tidak dilajutkan dalam bentuk proposal alias hanya tinggal judul saja, maka saya menyarankan anda melakukan beberapa langkah berikut yang bisa membantu anda dalam menulis proposal;
Pertama, anda harus sadari dari awal bahwa menulis proposal bukan menulis skripsi. Proposal menjadi skripsi setelah melalui proses bimbingan, penelitian lapangan dan perbaikan berulang-ulang. Proposal penelitian adalah sebuah tulisan yang merupakan tahapan awal pengajuan sebuah masalah agar memenuhi kelayakan untuk dilajutkan. Proposal bisa berubah setelah selesai ujian proposal bahkan sudah disetujui di ujian proposal sekalipun tetap bisa berubah karena harus menyesuaikan dengan data yang diperoleh dari lapangan. Perubahan terakhir proposal adalah ketika menjadi bab 1 dalam skripsi. Poinnya adalah hilangkan rasa takut, cemas ketika menulis proposal. Tulis saja apa yang terlintas dipikiran anda, sebab masih banyak waktu untuk memperbaikinya. Lakukan saja yang terbaik menurut anda.
Pertanyaan terpenting yang harus anda jawab dalam sebuah proposal penelitian. Mengapa anda tertarik meneliti materi tersebut? Jika pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan baik, dipastikan anda bisa lulus ujian proposal dengan mudah. Jawaban atas pertanyaan ini adalah alasan terpenting mengapa anda memilih judul skripsi tersebut. Untuk meyakinkan jawaban anda, anda mempunyai argumentasi yang kuat mengandalkan data dan sumber-sumber terpercaya. Misalkan masalah harga cabe mahal, tentu punya data stok cabe dengan dukungan sumber terpercaya. Data dan pendapat yang anda tampilkan harus mampu memberi keyakinan bahwa cabe seharusnya tidak mahal.
Pertanyaan lain yang perlu anda jawab adalah mengapa masalah tersebut menjadi masalah penelitian anda? Pertanyaan ini tentu berkaitan dengan disiplin ilmu anda. Apa yang ingin anda sampaikan atau yang ingin anda ketahui melalui penelitian ini yang tentu saja berkontribusi terhadap bidang ilmu anda. Kembali ke masalah cabe tadi, jika anda bidang ilmunya sosiologi tentu jawabannya meliputi upaya pemahaman dan penggalian hubungan relasi antar pedangan dengan produsen dan pembeli.
Pertanyaan penting lain yang perlu dijawab adalah bagaimana cara anda mendapatkan data? Jawaban dari pertanyaan ini melingkupi metoda penelitian, metoda pengambil data dan pendekatan analisis datanya. Fokus dari jawaban dari pertanyaan ini adalah seberapa mudah data anda peroleh, dan seberapa valid data yang anda peroleh tersebut untuk kepentingan skripsi anda. Penjelasan tentang tempat penelitian, populasi, responden, atau informan yang akan tampail pada penelitian anda.
Kedua; sebagai pemula dalam menulis proposal, tentu anda mengalami kesulitan memulai menulis. Saya sarankan ada baiknya anda pergi ke perpustakaan, cari skripsi di jurusan yang materi pembahasannya hampir sama, jangan hanya satu skripsi tetapi ambilah minimal tiga skripsi. Tugas anda bukan membaca materi skripsi, tugas anda hanya melihat bab-bab yang berkaitan dengan proposal atau di beberapa fakultas, biasanya bab satu sampai pada bab 2 dan bab 3, tetapi umumnya hanya bab satu saja.
Anda bandingkan sistematika tiga skripsi tersebut, kalau ketiganya sama berarti anda mengikut saja sistematika tersebut. Lalu anda pahami dan bandingkan bagaimana mereka menulis latar belakang, merumuskan permasalahan penelitian dan meletakan teori-teori, methoda pengambilan data dan alat analisisnya. Setelah anda bandingkan ketiganya lalu anda pilih satu skripsi yang paling mudah menurut anda untuk anda jadikan pedoman. Bahkan jika anda kesulitan memulai menulis karena kesulitan membuka kalimat dengan kata – kata apa, anda bisa juga meminjam kata-kata dari skripsi tersebut di sesuaikan dengan ide yang ingin anda sampaikan.
Ketiga, saatnya anda menulis proposal, tetapi anda belum terbiasa menulis, sehingga gagasan-gagasan yang ada di kepala anda tidak bisa tertuang dalam bentuk tulisan. Anda tidak usah panik, Seorang tokoh terkenal yang tentang teori evolusi Charles Darwin sampai akhir hayatnya tidak menulis sendiri buku-bukunya melainkan dituliskan oleh isterinya. Jadi ketidakmampuan menulis bukan bencana bagi anda.
Jika anda mengalami hambatan dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan, beberapa langkah yang perlu anda lakukan. Pengalaman pribadi saya, pertama, saya menulis dengan cara berdialog. Pada saat saya menulis saya seolah-olah sedang mengobrol dengan orang lain, lalu orang lain (yang tidak lain saya) membatah setiap kalimat yang saya tuangkan, saya pun berusaha mejawab bantahan tersebut dengan argumentasi yang kuat. Setiap kata dan kalimat yang saya tuliskan selalu saya jawab (sendiri) dengan kritikan. Akibatnya tulisan bisa berkembang dengan luas. Nah inilah rahasia menulis saya, adalah dialog kritis dengan diri saya sendiri.
Oleh sebab itu, setiap hasil tulisan awal yang saya tulis sudah jelas berbentuk perdebatan. Setelah itu, saya diamkan dalam komputer untuk beberapa hari. Setelah beberap hari saya baca ulang lalu saya perbaiki dan mengikuti kaidah penulisan ilmiah. Setelah itu saya print, saya baca ulang lagi, saya coret-coret yang saya anggap belum menggunakan kaedah kalimat yang tepat. Lalu saya perbaiki lagi, saya print kemudian saya mintakan teman-teman yang kritis membacanya. Setelah itu barulah menjadi tulisan final;
Kedua, sebagaimana Charles Darwin karena tidak bisa menuang pikiran dalam bentuk tulisan, maka dianjurkan anda untuk berbicara kemudian direkam, hasil rekaman itu ditulis, setelah itu serahkan ke editor untuk menulisnya dengan dilengkapi rekaman dan anda juga bersedia ditanyain kembali oleh editor. Bahkan jika anda mau lebih ringan, hasil rekaman itu saja yang diserahkan ke editor dan tetap menyiapkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan dari editor. Seorang mahasiswa program doktor (yang salah satu promotor juga promotor saya) hampir mengalami DO (drop out) karena ketidakmampuan menulis. Padahal secara lisan di bisa mengungkapkan hasil penelitiannya dengan baik. Promotor menyarankan agar hasil penelitian dan analisisnya dituangkan secara lisan dalam rekaman. Hasil rekamannya tersebut ditranskrip, lalu dipindahkan ke dalam bentuk tulisan di desertasinya. Desertasinya tersebut diserahkan ke editor yang tersedia di kampus untuk penyempurnaan kalimat dan pilihan kata pada desertasinya. Sang teman tersebut akhir meraih gelar akademis tertinggi, yaitu seorang doktor.
Pemaparan di atas setidaknya bisa menjadi jalan keluar bagi yang tidak terbiasa menulis. Sebab sudah terbukti bahwa banyak cara menuangkan pemikiran anda menjadi karya ilmiah yang berkualitas.


RAWA EL AMADY, Penulis merupakan antropolog, Penulis buku TAOKE, Pegiat CSR dan Resolusi Konflik, tinggal di Riau






(ambau.id/ilustrasi: www.123rf.com)

0 comments:

Post a Comment