RAPSODI SI LETA : PROSA LIRIS TAUHED SUPRATMAN



Kuterima goresan hatimu dan kubaca kalimat demi kalimat sehingga tiada tersisa secuil kata pun. Begitu indah susun kata dan rangkai kalimat itu, sehingga membuat diriku terpana. Setelah kunikmati dan kukaji dalam-dalam susun kata dan rangkai kalimat itu, barulah aku sadar dan mengerti siapa diri ini sebenarnya. Emas tak setara dengan loyang, benang tak sebangsa dengan sutra, begitulah ratap iba ahli syair. Memang, akulah anak manusia papa, papa segala-galanya. Akulah, “esebbhit tada monyina, eobbhar tada bauna”.*) Aku tiada habis pikir, sejak kecil aku dalam keadaan papa dan leta. Entah sampai kapan kepapaan itu akan setia menemani diriku! Hanya Allah yang Maha Tahu!
Aku senantiasa berucap syukur Alhamdulillah, karena dalam keletaan diri, Allah Subhanahu wa taala telah memberikan anugrah tiada tara, tanamkan rasa cinta padamu di relung hati yang paling dalam. Cintaku bukanlah mencintai tubuhmu dan kemolekan bentuk badanmu, tetapi jiwakulah yang mencintai jiwamu. Cintaku padamu, bukanlah cinta dukana! Kecintanku padamu bukan karena kau orang bermartabat dan terhormat di mata masyarakat! Bukan karena jas safari dan sepatumu. Bukan karena semua itu! Aku mencintaimu karena budimu; di dalam matamu kulihat suatu lukisan hati suci dan bersih. Sungguh, dengan penuh kesasadaran, dan harapan semoga kau semakin tidak memahami dan tidak mengerti diriku, aku sering berpuisi:

Hai permata hati,
Namamu terukir
Dalam catatan harianku
Perangaimu selalu hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Rona wajahmu terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Merdu suaramu terekam
Dalam pita batinku
Kau hidup dan mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Dalam doa
Semoga kaulah hadiah agung
dari Allah untukku
Pujaan hatiku**)

Anugerah “cinta padamu” telah lama tumbuh subur dalam relung hatiku, tiga tahun yang silam. Waktu itu, aku khawatir, jika kucurahkan perasaan cinta padamu, maka tiada bedanya dengan seseorang yang mencurahkan segelas air tawar ke dalam lautan yang maha luas; laut tak akan berubah sifatnya karena segelas air tawar itu.***) Apa hendak dikata, kekhawatiran itu menjalma nyata. Akal yang selama ini tertetup dengan apa yang bisa diraba dan dirasakan, yang kukira itu kenyataan, ternyata semua itu hanyalah fatamurgana dan kamoflase belaka. Kukira kau mawar, ternyata kau sekuntum edelweis yang hanya tumbuh di puncak ancala. Kuduga kau kasatmata, kucapai dengan meraba, nyatanya kau maya, datang menyapaku bagai pewana****), sesekali kau datang tanpa berkabar, pergi bagai kabut tak jua sempat pamitan.
Walaupun demikian, cintaku padamu takkan lekang di panas, takkan lapuk di hujan, karena aku sadar bahwa diriku telah menitipkan separuh hatiku padamu! Hanya padamu! Namamu dan rasa cinta padamu, Insya Allah senantiasa tumbuh subur dan abadi sepanjang masa, kubawa sampai ke pekuburan. Maafkan aku! Aku takkan pernah mengakhiri mencintaimu, walaupun kau akan mencaci dan membenci sepanjang hidupmu. Biarlah semua orang mencibirku, tak terkecuali dirimu, bahwa diriku seperti Majnun yang hangus terbakar karena cintanya kepada Laila. Biarlah semua itu menjadi sisi terindah dalam sisa hembusan nafasku. Hanya saja perlu kau tanamkan dalam hatimu; diriku telah kau kubur tanpa nisan di pusara awan. Pintaku padamu, kuburkanlah pula diriku dalam merdu alun senyummu, agar sempurna keletaan dan kepapaan ini! Aku tak akan pernah mengakhiri mencintaimu, tak akan pula membelokkan arah cintaku, menjadi goresan-goresan kebencian dengan lantunan syair menghina dan menistakanmu, walau semua insan tak pernah tahu:
Hati ini menjadi tempat tinggal kesangsianmu,
Dada ini menjadi kubur keangkuhanmu.
Diriku hanya bisa berdoa dan berharap, semoga besok atau lusa ada cadas-cadas keras dar langit yang rela menerima tetesan embun pagi, sehingga dirinya menjadi berlubang, barulah kata hati si leta terwujud!

Catatan:
*) Dikutip dari Parebasan ban Saloka Madura dikumpulkan oleh: Oemar Sastrodiwirjo. artinya: orang yang sangat miskin
**) Diadaptasi dari novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy
***) Dikutip dari Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka
****) Dikutip dari Sareang karya M. Faizi

Comments