PEMBLOKIRAN TELEGRAM



Saya sudah tidak bisa menghitung berapa banyak orang yg mencaci maki, membully bahkan merendahkan saya gara-gara diblokirnya aplikasi layanan pesan Telegram versi web beberapa waktu lalu dan sebelum ada komunikasi antara telegram dengan pemerintah.

Saya memang bukan decision maker sampai akhirnya keputusan ini dibuat. Diibaratkan saya hanya pemegang kunci (kuncen), pemilik rumahnya tetap bukan saya.

Keputusan memblokir layanan Telegram versi web bukan sekedar urusan teknis penanganan konten negatif (radikal, terorisme, dll) yg berjalan di platform tersebut.

Ada banyak pertimbangan yg terkadang tidak perlu disampaikan ke publik. Ini kaitannya dengan strategi, positioning, bargaining, cyber sovereignity (kedaulatan), dll.

+++

Siapapun presidennya, mau pak Jokowi, atau nanti misalnya pak Bachtiar Natsir jadi presiden, negara ini harus tetap punya posisinya sendiri di dunia siber.

Negara ini harus punya kedaulatan di dunia siber yg harus dihormati siapapun yg beroperasi di negara ini.Indonesia harus bersikap sebagai tuan rumah di negaranya sendiri.

Jika misalkan pada akhirnya layanan pesan (messenger) Telegram dibekukan, saya kira masih banyak layanan lain baik versi lokal atau versi lain yang masih bisa digunakan.

Siapapun boleh menggoreng isu ini sebagai isu politik. Tapi sekedar mengingatkan, jika suatu saat kalian berkuasa, kalian akan menemukan persoalan yg sama. Kalian akan berada di sudut pandang yang berbeda.. :)

+++

Mungkin ada tim saya yg sakit hati dg pernyataan-pernyataan mereka, tapi seperti saya sering sampaikan ke tim saya, jangan jadi warga internet yg baperan! Itu risiko bekerja di tim ini! :)

Berdebat di media sosial tidak membawa banyak manfaat.  Bertemu dan saling memandang ekspresi akan menimbulkan rasa empati dan rasa saling menghormati.

Saya tetap salut dengan tim saya. Kami sudah melewati masa tersulit di aksi 212 dan 414 dengan mengatur dan memonitor keseimbangan konten internet sehingga aksi tersebut berjalan lancar dan damai.

Kami tidak punya musuh, tidak juga cari musuh. Kami hanya pelayan masyarakat biasa.

Terimakasih kritiknya utk semua kawan2 dan warga internet!

Jangan sungkan untuk mampir sekedar bertabayyun dan bersilaturahmi di tempat saya. Itupun jika saya belum di pecat. :)


TEGUH ARIFIYADI, pegawai negeri sipil.

Comments