MBAH, BAPAK DAN PKI: CERITA PENDEK MUHAMMAD THOBRONI



Setiap September, Bapak selalu memanggilku dan mengajakku duduk bersila di ruang tamu. Dan selalu juga di ruang tamu telah ada Mbah, atau bapaknya bapakku. Di hadapanku, Mbah selalu menundukkan kepala dan sekali-sekali memandangku dengan pandangan kejam. Juga kali ini. Bahkan tatapannya terasa lebih menghunjam.
"Anak muda zaman sekarang memang tak paham sejarah!" celetuk Mbah. Kali ini Mbah tidak memandangku tapi justeru memandang wuwung rumah.
"Kowe paham maksud Mbahmu, Le?" seru Bapak.
Aku beralih memandang Bapak dengan masygul. Mungkin Heran. Ada apa ini sebenarnya?
"Waduh Le, Thole... Cah Bagus kok goblok! Mbok paham politik! Buat apa sekolah tinggi kalau nggak paham politik? Coba lihat buku apa yang kamu baca itu?"
Aku baru sadar bahwa ada buku di pangkuanku. Buku Merah.
"Itulah kubilang dia nggak paham sejarah! Malah dia ikut -ikutan membela PKI! Ya, dia membelanya!  Bayangkan, Kamu seorang guru ngaji dan aku, Bapakmu, juga seorang guru ngaji! Tapi mengapa anakmu menjadi pemuja PKI? " telunjuk Mbah lurus menunjuk wajah Bapak. Bapak wajahnya merah padam. Ia menjadi seperti harimau lapar.
"Sebenarnya apa salah PKI sehingga Bapak dan Mbah begitu kesumat dendam kepada mereka?" ujarku kalem mencoba meredam ketegangan.
"Apa salah PKI? Coba kamu bilang sekali lagi?" teriak Mbah dan melempar sandal jepit ke wajahku. Aku tidak menghindar. Aku ingin menghadapi masalah ini dengan tegar dan gagah. Meski bagiku tak jelas masalahnya apa. Masalahnya tiap September selalu begini: aku dipanggil, diberi cerita tentang kekejaman PKI dan perjuangan Mbah dan Bapak saat terlibat pertikaian dengan anggota PKI. Sejak balita aku sudah mendengar cerita tentang PKI lewat mulut Mbah dan Bapak.
"Betul kata Mbahmu. Ternyata kuliah tidak membuatmu tambah Pinter. Justeru bikin kamu tambah goblok! Tolol mungkin! " teriak Bapak. Ia ikut marah besar. Sekarang yang marah kepadaku jadi dua orang: Mbah dan Bapak.
"Kamu harus tahu, PKI itu selalu menyerang kami. Kami dibilang setan desa, kapitalis, tuan tanah, dan seterusnya. Bahkan mereka menyebut agama itu candu! Bayangkan! Tuhan disebutnya sudah mati!" seru Mbah.
"Itu sudah Mbah ceritakan sejak aku bayi! " kataku tak kalah sengit.
"Ketahuilah Nak, Bapakmu masih seorang pemuda ketika geger 1965 meletus. Mereka terus mengejek, mengolok dan memojokkan Mbahmu, juga teman-teman Mbahmu yang juga guru ngaji! Bapakmu ini berdiri paling depan Nak. Untuk apa? Untuk menghadapi kecongkaan para komunis tersebut!"
Aku memandang wajah Bapak. Tanpa  komentar. Mulai malas menanggapi.
 "Memangnya hanya mereka yang ikut bela negara hingga merdeka? Memangnya hanya mereka yang nasionalis? Mbahmu ini ikut perang dan sembunyi di hutan. Kami pernah makan daun jati bahkan mahoni pun kami makan karena lapar. Seringnya kami berlapar dengan puasa.
Dan kami cukup senang bangsa ini merdeka meski aku tidak jadi apa-apa! Tapi tidak begini yang kami harapkan dulu! Kok dengan enaknya PKI mau mengakui semua ini hasil perjuangannya! " Mbah terus berteriak.
"Terus masalahnya apa dengan PKI? " tanyaku kalem. Memang susah bicara dengan orang tua dari masa lalu seperti mereka.
"PKI akan bangkit kembali!" teriak Mbah. Melotot ke arahku.
"PKI sudah dilarang Mbah. Siapa bilang mau bangkit? "
"Kamu kok nggak percaya. Anak kuliahan kok goblok. Kalah pengalaman sama orang tua. Kamu tak lihat bendara PKI berkibar?  Bahkan orang lalu lalang pakai kaos PKI? " semprot Mbah.
"Kaos kan bisa di sablon sendiri Mbah. Bendera juga bisa buat sendiri. Zaman sudah canggih. Wajarlah Mbah kan generasi jaman dulu..." bantahku.
"Benar Mbahmu. Kemarin bapak juga lihat gardu dan tembok digambar palu Arit!" tukas Bapak.
"Gambar kan siapapun bisa bikin. Langsung aja tanya yang tinggal dekat situ. Tangkap pembuatnya. Mudah kan? "
"Kamu senangnya membantah. Mulai berani kepada orang tua. Kamu dipengaruhi Buku-Buku merah. Itu merusak pikiranmu. "
"Tapi komunis kan memang sudah dikubur. Bahkan di negara asalnya pun sudah kalah. "
Aku mencoba bicara pelan. Coba memberi sudut pandang.
"Tapi kita tetap harus waspada. Bapakmu ini pelaku sejarah. Jangan bilang peristiwa itu tidak ada. Orang-orang PKI memang memburu kami.  Kalau tidak dibantu tentara mungkin kami tidak berani keluar hutan. " ujar Bapak.
"Banyak temanku dibunuh dan dicincang. Bahkan ada yang kontolnya dibuang ke sungai Berantas. Sungai Berantas merah darah. Ah kamu memang anak zaman sekarang. Tak paham politik. Tak paham sejarah. Ini soal dendam. Tak bisa dibiarkan. " sahut Mbah.
"Tapi itu kan masa lalu. Tokohnya pun sudah mati. Yang hidup pun pikun... "
"Itu pikiranmu. Tidak. Pokoknya tidak ada ampun untuk PKI." tukas Mbah.
Aku terdiam berapa lama. Coba mencari cara menjelaskan bahwa PKI sudah dikubur. Dan kalau pun bangkit dari kubur itu pasti hantunya. Aku tersenyum sendiri menyaksikan ketidakpahaman Mbah Dan Bapak.
"Jangan senyum-senyum kamu. Ini urusan besar dan panjang. Bukan hanya urusan dunia tapi juga akhirat. Jangan remehkan. "
"Aku paham Mbah. Paham Pak. Tapi siapa yang tertarik kepada komunisme di era canggih begini? Apa-apa mudah dan boleh. Bayangkan bila memang benar negara ini dikuasai komunis. Bagaimana nasib kami yang muda ini tak bisa lagi nonton video porno karena dirazia PKI sebab dianggap kontrarevolusi? Darimana teman-temanku bisa menonton adegan Miyabi atau artis lokal kita."
"Lha itu kamu paham. Jangan remehkan. Coba lihat anak-anak PKI mulai muncul! Di TV juga..."
"Pak, apakah orang tua PKI otomatis anaknya PKI? Apakah anak pelacur otomatis pelacur? Apakah anak tidak boleh beda dengan orang tua? "
"Tidak. Tidak boleh. Itu namanya durhaka. "
Aku  betul betul diam. Tak tahu lagi harus bicara apa.

20/9/2017

Comments