WHAT'S NEW?
Loading...

1 KARUNG 2 TENGGOK



Ini adalah cerita oleh-oleh dari ikut seminar sekaligus Festival Naskah Nusantara III yang diselenggarakan di UNS kemarin dan hari ini.

Ada salah seorang audiens. Ibu Suyami dari Balai Pelestarian Jogja.  Seorang ahli dalam bidang pernaskahan kuno. Beliau berkisah (saya ceritakan dengan kalimat saya sendiri, kurang lebih demikian) bahwa para peneliti kesulitan mendapatkan rekam jejak sejarah Mataram Awal. Terutama pada masa Sultan Agung dan sebelumnya. Sejarah yang gelap. Jarang ditemukan catatan pada masa ini.

Hal ini disebabkan pada kisaran tahun 1640, Kraton Pleret di Bantul diserang oleh Trunojoyo. Ia berhasil membumihanguskan keraton tersebut. Sultan Agung menyelamatkan keluarganya dengan membawa serta beberapa barang yang dianggap perlu, terutama benda pusaka.

Berdasarkan penelusuran Ibu Suyami, di daerah Kalisalak tersimpan beberapa pusaka dari Sultan Agung. Termasuk diantaranya adalah 1 karung dan 2 tenggok naskah rontal yang katanya di antara rontal tersebut merupakan tulisan tangan langsung dari Sultan Agung.

Sesuai pesan Sultan Agung pusaka-pusaka tersebut dimemetri, dirawat. Maka di Masjid Jimat setiap tanggal 13 Mulud pusaka pusaka ini dijamasi. Termasuk naskah yang sekarung dua tenggok itu dijamasi dengan dilewatkan di atas tungku kemenyan.

Suatu kali Ibu Suyami meminta izin untuk diperkenankan membaca naskah tersebut. Awalnya tidak diizinkan. Namun tampaknya juru kuncinya berubah pikiran. Ibu Suyami diizinkan. Beliau diberi selampir rontal. Baru Memegang beberapa saat. Kuncennya kemudian bertanya isinya apa. Ibu Suyami tentu saja tidak dapat menjawab.

Kepada audiens beliau menjelaskan bahwa untuk membaca rontal diperlukan waktu beberapa lama. Guna memastikan aksara dan karakter tulisan.

Sementara begitu beliau belum dapat memastikan aksara dan karakter tulisan tersebut, Kuncennya sudah meminta kembali rontal itu.

------
Di sinilah saya secara pribadi merasa berat hati. Bukankah rontal itu akan dapat menerangjelaskan sejarah pada masa Sultan Agung.

Namun paling tidak, masih ada harapan bahwa sejarah Sultan Agung tidak segelap yang dibayangkan. Masih ada waktu untuk belajar membaca aksara kuno. Dan masih ada waktu menunggu waktu kapan naskah sebanyak satu karung dua tenggok itu boleh diteliti dan dipublikasikan.

Semoga bisa terdaftar di Memory of The World UNESCO - Setelah I La Galigo, Babad Diponegoro, Negarakrtagama dan arsip Konferensi Asia Afrika, serta Naskah Panji.

Terus terang saja sejak SD saya adalah fans Sultan Agung. Dan ternyata Sri Sultan HB IX yang saya fans-i juga ngefans sama Sultan Agung.

WACHID EKO PURWANTO, dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD)  Yogyakarta

0 comments:

Post a Comment