KABAR: PENELITI PRANCIS: JALUR PERDAGANGAN DI BORNEO UTARA TELAH ADA SEJAK TAHUN 1000 MASEHI





PENELITI PRANCIS: JALUR PERDAGANGAN DI BORNEO UTARA TELAH ADA SEJAK TAHUN 1000 MASEHI


TARAKAN (18/08).  Seorang peneliti dari Prancis, Bernard Sellato,  mengungkap sebuah fakta mengejutkan bahwa di Utara Kalimantan (North Borneo) terdapat beberapa pos perdagangan seperti Bunyu, Tarakan, Nunukan, Mandul, dan lain-lain. Fakta yang diungkap oleh Bernard Sellato tersebut diungkapkan dalam artikelnya yang diterjemahkan Budayawan Muda Kalimantan Raga C tersebut juga mengatakan bahwa daerah Borneo Utara telah disinggung-singgung oleh naskah-naskah kuno dari China, namun belum disebut nama kerajaannya secara langsung.  
Dalam artikel juga dikatakan bahwa peneliti Barat baru melaporkan fakta mengejutkan tersebut pada tahun 1750. Menurut Bernard sendiri, sejarah lokal mengatakan telah ada kerajaan lokal bernama Kerajaan Tidung yang telah ada sekitar 1650 Masehi. "Kerajaan Tidung Tarakan sudah ada pada abad 17. Ia menutupi wilayah pesisir, yakni di sisi selatan Sei Sesayap dan sisi utara terdapat Sei Kayan. Ini menyebabkan bertemunya berbagai suku pesisir (terutama berusu) dan pendatang dari berbagai bangsa (Bugis, Tausug dan Bajau yang menguasai perdagangan di perairan), serta menyatu ke dalam suatu kesatuan baru yang disebut Tidung. Bermakna “Gunung”, " ungkap Bernard Sellato seperti diterjemahkan Raga C dalam akun facebooknya.
Bernard Sellato menjelaskan, Kerajaan Tidung di Pulau Mandul ikut mengontrol Muara Sebuku dan Sembakung, yang juga sekaligus melibatkan populasi Suku Tagol. Mereka bercampur dan membentuk Tidung sembakung, serta memproduksi sarang burung, sagu dan bahan baku kapal. Hal itulah menyebabkan kenapa Masyarakat Tidung sangat terkenal dengan ekspor sagunya.
Ditambahkan oleh Bernard, Tahun 1650 aktivitas perdagangan pindah ke Sesayap dan Sembakung. Kerajaan Tidung Sembakung pindah ke Pagar yakni daerah di sisi atas Sembakung. Dalam hal ini, Kerajaan sesayap menjadi cabang Kerajaan Tidung di Tarakan, berkembang dari tiga penduduk yang berlokasi di Menjelutung.
"Orang lokal Sesayap mulanya adalah Suku Kepatal, yang telah lama terlupakan. Kemungkinan besar mereka adalah bagian dari Suku Putuk. Sesayap juga dikatakan di bawah kekuasaan Berau. Berau pada waktu itu beraliansi dengan Brunei melawan Sulu," ujar Bernard Sellato dalam artikelnya. 
Ketika kekuatan Kerajaan Sulu terus meningkat, bahkan mampu mengalahkan Kerajaan Berau tahun 1789, dan Orang Bugis muncul di Kutai, berkembang hingga Paser dan terus mendesak ke Utara yakni Bulungan. Sepanjang pertengahan kedua abad 18, Kerajaan Tidung pindah ke Sesayap dan Tideng Pala, atau di hulu Sesayap, untuk menghindar bajak laut yang mewabah dan menjaga gua-gua yang menghasilkan sarang burung.
Pertempuran antara Kerajaan Sulu dan Bugis akhir abad 18 untuk merebut rute perdagangan di Bulungan. Kesultanan Bulungan cenderung berpihak kepada Bugis, dan bagian utara Bulungan khususnya daerah Tarakan, Sesayap, Sembakung, dan sekitarnya.   Pertengahan pertama abad 19, Tidung memiliki 2000 penduduk (1812) dan mencatat ekspor terutama ke Sulu. Diantaranya Emas, sarang burung putih, sarang burung hitam, lilin, kampur (champor) dan rotan. "Pada tahun 1800-an barulah Tidung bertani menghasilkan beras. Yakni di Salim Batu. Budak juga dijual untuk ditukar dengan hasil alam dengan orang-orang pedalaman," tegas Bernard Sellato dalam terjemahan C Raga.
Fakta tersembunyi yang berhasil diungkap dalam artikel Bernard Sellato diterjemahkan C Raga tersebut menjadi referensi tambahan kajian sejarah kebudayaan Tidung yang seperti lenyap ditelan zaman. (ambau.id)
 

Comments