di teras rumah sakit charitas
angin membacakan puisi dalam tumpukan kata kata di atas tanda-tanda.
mulut-Mu mengucap jarak di antara kita
padahal hari hari kemarin kata yang Kau ucap bertutur dahsyat di balik tabir kematian.
meski sebaris sajak di jantungku mengaburkan makna, tapi prahara tanda-tanda tetap menyimpan kehadiran-Mu di balik lorong misteri tak Berpintu.
sangat tipis,
antara rasa sakit dan keberadaan-Mu yang begitu Tinggi
meski sudah kuterjemahkan kehidupan dan kematian lewat bahasa sakit,
tapi isyarat yang Kau hadirkan ke dalam obat dan suntikan, kian menenggelamkan langkahku pada lorong lorong bangsal rumah sakit yang kehilangan daya ucap.
bahkan,
isyarat guncangan di dada menempatkan ketololanku pada pilihan kata dan bahasa sajak yang kehilangan metaporam
-- maka,
diam dan tenanglah, kata-Mu
bahasa isyarat dalam guncangan itu sebentuk sajak tanpa diksi yang Kau bacakan dengan getaran jantung berkali-kali.
RS Charitas, 10 Mei 2010
Ilustrasi neli suryani/ yuk klik iklannya
Comments
Post a Comment