WHAT'S NEW?
Loading...

TAUTAN HATI IBU DAN ANAK



IBU AKU RESAH

Menjelang titik kulminasi
awan tak lagi berarak gerak, Ibu
aku anakmu gelisah mencari bebayang yang surut ke bawah kaki
Bagaimana cara kutemukan jalan itu
sedangkan polusi dari kendaraan yang hilir-mudik seharian melamurkan pandang
Lalu sisa pembakaran sampah
dari hati paling kotor masih mengamuk sejadi-jadinya

Aku malu, Ibu
Malu mendengar segala ucap busuk yang mencemari udara perubahan
Aku malu menghadapkan wajahku padamu

Kaulah, Ibu
Kaulah yang pertama
mengajarkan kami tentang manisnya tutur lembut penuh kasih-sayang

Kaulah, Ibu
Kaulah yang pertama
mengajarkan kami tentang nilai-nilai kesakralan bahwasanya tiap tutur adalah doa

Aku malu, Ibu

Tiap kali kami bertanya
dalam ketidakmengertian diri
akan sesuatu
maka kau akan menerangkan
dengan sepenuh cinta

Tiap kali kami menggugat
dan mendebat
kau senantiasa memaafkan
dan menjawab segalanya
dengan pengertian yang dalam
dan bahasa yang santun
tak terbalaskan

Aku resah
Aku malu, Ibu

Mendengar mulut-mulut kotor itu menyumpahserapahi setiap apa
yang tak sejalan dengan mereka
Menghina dan merendahkan
yang lain hanya karena mereka
berbeda

Aku malu
Aku resah, Ibu.

Kubu Raya, 17 Februari 2018
( puisi karya Yufita)


TAUTAN HATI IBU DAN  ANAK

Ketika Rasulullah SAW menjawab pertanyaan para sahabat tentang keistimewaan seorang ibu dibanding ayah, beliau menyatakan, ummi...ummi...ummi. Setelah itu ayah (wal abi).

Begitu tingginya nilai ibu di dalam strata kehidupan Islam. Ibu, ibu, ibu, barulah ayah yang disebut Rasulullah.

Dalam puisinya berjudul "Ibu Aku Resah" Yufita memperlihatkan kemanjaannya terhadap ibu.

Segala kegundahan hatinya dicurahkan kepada ibu. Sebagai orangtua, ibu seolah dianggap sebagai manusia super.

Penulis buku De Mottige, A Weumeus Buning menyebut ibu sebagai manusia yang mampu menyelusupkan kasih sayangmya untuk sang anak.

Dengan segala kemanjaannya, penyair mengutarakan kegelisahan tentang persoalan yang tak mampu ia tanggulangi sendiri..

Menjelang titik kulminasi/ awan tak lagi berarak gerak, ibu/ aku anakmu gelisah mencari bebayang yang surut ke bawah kaki/ bagaimana cara kutemukan jalan itu/ ...

Kemanjaan seorang anak kepada ibunya begitu terasa.
Memang siapa saja, ketika menghadapi sesuatu, yang jelas ibulah tempat menumpahkan perasaan.

Kemanjaan itu terlihat juga dalam sajak WS Rendra bertajuk "Sajak Ibunda".
Mengenangkan ibu/adalah mengenangkan buah-buahan/ Istri adalah makanan utama/Pacar adalah lauk pauk/ dan Ibu adalah pelengkap sempurna kenduri besar kehidupan...(bait I).

Begitu bangganya mengangkat nilai keibuan yang merupakan pelengkap kesempurnaan.

Sebagai penyair, Yufita memiliki kebangaan luar biasa seperti Rendra.

Hakikatnya, dalam puisinya, kedua penyair sama sama memiliki kebanggaan kepada seorang ibu.

Puisi Ibu Aku Resah dan Sajak Ibunda itu  memiliki daya ungkap hampir sama.

Seperti dikatakan Drs BP Situmorang, untuk memahami puisi harus diselami lewat efonis. Suatu analisis yang berusaha memahami dan menjelaskan lapis bunyi dalam tiap cipta sastra.

Maka lewat analisis ini, didapat kenyataan bahwa lapis bunyi dikembangkan dalam puisi, tidak jadi pusat perhatian seperti di dalam tulisan prosa.

Kebanggaan dan kemanjaan terhadap ibu bukan style (stilistik) sebentuk puisi. Sebab, ciri stilistik berusaha memahami dan menjelaskan lapis arti tentang kemanjaan dan kebangaan terhadap fokus yang dituju. Bahkan dengan stilistik dapat menjelaskan gaya isi yang ditimbulkan.

Berkali-kali kemanjaan terhadap ibu diungkap Yufita ..
Aku malu/aku resah,  ibu...

Dalam puisi ini penyair lebih banyak menggunakan kata-kata. Padahal jika agak sedikit mengurangi kata singkat, tipografi puisi ini akan lebih kuat.

Menurut Ralph Waldo Emerson, puisi mengajarkan sebanyak mungkin maksud dan isinya  dengan kata kata sesedikit mungkin.

Pernyataan itu merupakan rumusan Ralph menurut pandangan etimologinya.

Penyair Henri de Regnier mengatakan, kebangaan terhadap ibu akibat dari tjurahan kasih sajangnya sedjak ia melahirkan anaknja..(rangkaian puisi dunia 1961).

Yufita dengan segala esensinya menumpahkan segala kegundahan dan kemanjaan kepada ibu, karena ibulah tempat anak manusia mengadukan segala masalah. (*)


ANTO NARASOMA, PENYAIR TINGGAL DI PALEMBANG



(Ilustrasi thetimes.co/ yuk ke bagian bawah blog dan klik iklannya untuk informasi berharga dan mencerahkan)

0 comments:

Post a Comment