WHAT'S NEW?
Loading...

MENCARI TITIK DIRI UNTUK MEMBANGUN MORAL



Sebuah keranjang di jembatan batu

kokok ayam jantan tak mengusir dinginnya malam,
serat mentari mulai mencubit kulit mengebor pori,
membisikkan kunci rahasia musykil dicerna,
langsung menyelam ke dasar hati,
bagi mereka yang berpikir, janjiNYA, ya,
bagi mereka yang berpikir
perenung fajar perenung maghrieb,
penenun sadar penenun arif

letakkan bebanmu,
tak guna memikul timbangan mendekap meteran,
keranjang bolong kosong isinya,
berhamburan pertanyaan tak berjawab, di mana-mana
maka, rajut sisamu, titi jembatanmu
mulai lidah pengucap rasa hingga gendang telinga
tawadhu', sabar, tekun,
tambal lobang kainmu, lembutkan jahitan tanganmu,
betapa celaka bila yang jauh lebih lembut terlolos juga dinding keranjangmu
.
yang hadir belum berkata,
yang hadir akan bersapa,
menuntun bebas duka
.
membangun kesadaran akan kebenaran,
terfahami kiranya salah satu kehendakMU
sujud bersimpuh
hingga lepuh hatiku
jenuh larutan jiwaku
setipis Subuh tak tersentuh
.
.
jogya,  2016 - 2017
(Genthong HSA)


MENCARI TITIK DIRI UNTUK MEMBANGUN MORAL

Moral sangat melekat dengan perilaku kita. Sebab, yang membawa moralitas seseorang menjadi baik adalah orang itu sendiri.

Moral yang baik bisa terwujud di dalam diri seseorang  karena pengalaman batinnya.

Banyak hal yang melatarbelakanginya. Misalnya, penggodokan jiwa itu seringkali dialami seseorang ketika bersosialisasi dengan masyarakat.
Pahit getirnya pengalaman itu, tentu menoreh kesan mendalam di dalam dirinya.

Selain pengalaman, latar belakang pendidikan bisa membentuk kepribadian intelektual. Pendidikan psikis inilah yang mampu membangun kedewasaan sikap seseorang.
Dalam puisinya bertajuk,  "Sebuah Keranjang di Jembatan Batu" berkisah tentang itu (dalam analisisku).

Sebagai penyair yang sudah bulukan mengolah kata, Genthong HSA, mencoba arif memainkan suasana puitika yang kental estetik.

Untuk tiba pada penyadaran diri, penyair mengajak pembaca untuk merenungi diri hingga ke dasar hati. Makanya, ketika bicara soal pendidikan, penyair mengajak untuk merenung diri dan berpikir melihat ke diri sendiri terkait masalah moral. Sebab, untuk melihat moral seseorang, kita tidak mampu meneropongnya melalui mata, tapi dengan perasaan dan pikiran.

Seorang psikolog Belanda, Piter Wheilmann dalam buku "Mengaca Diri"  halaman 41 terbitan Jambatan, 1953,  menyatakan moralitas di dalam diri manusia terbentuk dari pengalaman hidup dan pendidikannya.

Tapi dia juga  terbentuk dari perilaku dasarnya ketika menyikapi itu.

Pengalaman pahit bisa menjadi penyadaran moral. Coba perhatikan larik kedua bait I, ...saat mentari mulai mencubit kulit mengebor pori../ merupakan peringatan agar kembali ke format awalnya sebagai manusia yang baik.
Matahari dalam puisi ini bisa jadi ibarat "Tuhan" yang memberi teguran dengan cara 'mencubit' sebagai peringatan. Tsunami di Aceh pun sebagai 'cubitan' dari Sang Mahasegalanya.

Tapi penyair tidak lupa bahwa proses membangun kehidupan itu  didasari atas akal budi dan pikiran manusia. Dalam bukunya Konglomerasi Satra,  Wahyu Wibowo menyatakan (halaman 9 penerbit Paronpers) kehidupan manusia tidak terlepas dari kebijakan aturan dunia Tuhan. Sementara puisi dan fakta kehidupan  merupakan tiruan dari dunia ide.

Genthong bukan tak menyadari itu. Sebab, sebagai penyair dia mengajak pembaca untuk memperhatikan kearifan sikap dan perilaku sebagai 'tiruan' ide dan gagaannya.

Seperti seunit lokomotif yang dipaksa melalui terowongan, meski gelap panjang dan menjenuhkan, akhirnya tiba pada tujuan kearifan.
Majalah Budaya edisi Februari 1957-Tahun ke-VI pada halaman 79 menjelaskan tentang kearifan hidup tentang bagaimana cara memandang hidup ke depan...
Pada 'dinding' terpantjang kepala manusia-manusia jang berdiri di belakangnja memandang ke depan, ke ruang kosong, tanpa memancarkan suatu maksud. Achirnja dipeluk dari belakang, lantas dibawa masuk keterowongan dan diberi kesempatan menjentuh dunia tragik modern jang lengang.

Jelas bahwa membentuk kesadaran tentang moralitas membutuhkan proses panjang dari sebuah kehidupan yang diwarnai pengalaman dan pendidikan.

Puisi Sebuah Keranjang di Jembatan Batu ini menjelaskan sebuah referensi tentang pengajaran moral dan perilaku manusia.

Pada larik kelima dijelaskan tentang...bagi mereka yang berpikir janji-Nya, ya/  bagi mereka yang berpikir perenung fajar perenung maghrib/ penenun salam penenun arif..
Jadi kearifan hidup harus dimulai dari sikap hidup yang didasarkan atas nilai-nilai pendidikan formal dan non-formal. (Salam literasi)


ANTO NARASOMA, PENYAIR TINGGAL DI PALEMBANG


(ILUSTRASI ESSAY/ YUK KE BAGIAN BAWAH BLOG DAN KLIK IKLANNYA UNTUK INFORMASI BERHARGA DAN MENCERAHKAN)

0 comments:

Post a Comment