WHAT'S NEW?
Loading...

CATATAN DARI PERDALAMAN KALIMANTAN: JEJAK LANGKAH ANTIAD



Ini merupakan kisah pengabdian para relawan literasi dari Komunitas Jendela Nusantara (KJN)  yang menebar virus literasi ke perdalaman Kalimantan Utara. Mereka menggalang donasi masyarakat dan mengumpulkan alat sekolah untuk dibawa ke perdalaman dengan perjalanan jauh lewat sungai dan darat yang ekstrim serta beberapa titik dikenal sebagai kawasan predator buaya dan ular.


Jejak Langkah Antiad

Antiad (bahasa Dayak Agabag) atau yang biasa kita kenal dengan kata berbagi telah usai dilaksanakan. Berbagi dalam arti yang luas. Berbagi ilmu, berbagi kebahagiaan, berbagi kebersamaan. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan Relawan Antiad KJN Kaltara yang Alhamdulillah selalu diberi kesehatan, kekuatan dan kekompakan dalam setiap langkah berkegiatan.



Perjalanan dimulai pada hari Minggu tanggal 14 Januari 2018 pukul 10.00 dengan speedboat dari pelabuhan Tengkayu Tarakan menuju pelabuhan Aki Betawol Sebuku dan berakhir pada hari Selasa, 23 Januari 2018 dari pelabuhan Malinau menuju pelabuhan Tengkayu Tarakn. Tim Antiad membawa 16 kotak barang untuk kegiatan dan donasi dari seluruh donatur di Indonesia khususnya Kaltara. Perjalanan Tarakan-Sebuku ditempuh selama empat jam melewati sungai. Pengalaman yang baru bagi beberapa relawan melewati rute ini. Sungai yang berkelok, tikungan tajam membuat badan speedboat mengikuti arah kelokan. Cukup mendebarkan. Sampai di Sebuku sekitar pukul dua siang. Beristirahat sebentar lalu melaniutkan rangkaian perjalanan Antiad 5 Desa 4 Kecamatan.



Rata-rata kegiatan di desa selama dua hari satu malam, tergantung lokasi, alternatif transportasi dan cuaca. Transportasi yang digunakan pun beragam. Mulai dari truk yang di modifikasi menjadi bis sekolah, dump truck, mobil bak terbuka hingga perahu. Jalan desa yang tidak mulus menjadi pengalaman tersendiri bagi para relawan. Perjalanan darat dan sungai mulai dari 2 hingga 5 jam harus ditempuh. Dan mengharuskan relawan menguatkan diri lebih dari biasanya. Jalan gunung berbatu yang sangat licin ketika dibasahi hujan rintik rintik, jalan tanah liat yang licin membuat truk terseret, hujan deras yang membuat arus sungai sangat deras. Perjalanan  yang tetap kami nikmati dan selalu dalam iringan do’a.



(Tunggu kelanjutannya 😁)


(MUTMAINNA LAINTANG, KOMUNITAS JENDELA NUSANTARA /KJN DI KALIMANTAN UTARA)

0 comments:

Post a Comment