WHAT'S NEW?
Loading...

MENGGANTUNGKAN MIMPI DI ATAS TRUK



Malam belum sepenuhnya pergi. Begitupula gelap. Adzan Subuh juga baru beberapa saat selesai dikumandangkan. Tapi, tubuh kecil ini sudah berada di perempatan (banyak juga yang menyebutnya pertigaan) kampung. Sendirian. Ya sendirian.

Dalam berdirinya, mata si bocah selalu menatap jauh ke selatan. Menanti sorot dua lampu depan truk. Jika sorot itu terlihat, bergegaslah dia berlari ke portal yang hanya selemparan batu dari tempatnya berdiri. Dan ketika truk itu mendekat, kalimat permohonan izin segera dilontarkan. "Lek melu nang Gresik yo," begitu ucapnya.

Ada atau tidak ada jawaban, dia langsung naik ke bak truk dengan mencangklong tas berisi sepatu bola dan baju ganti. Sebab, dia tahu truk itu akan membawanya ke Gresik, ke tempat dirinya memupuk mimpi menjadi pemain sepak bola.

Dan di atas bak truk yang melaju tersebut,  bocah kecil itu berteman sunyi, gelap, dan dingin. Juga gelora dan mimpi menjadi pesepakbola. Tak jarang di atas bak truk itu pula dia menikmati hujan. Kadang rintik, kadang deras.

Perjalanan dengan truk disudahi di pertigaan Sumber, Gresik (kini pertigaan Masjid Agung Gresik). Bocah itu lantas menyambung perjalanannya dengan angkutan kota yang rutenya melintas di depan Lapangan Telogo Dendo. Dan dia selalu menjadi yang paling awal, paling pagi datang di lapangan.

Dua jam waktunya dihabiskan untuk belajar memainkan bola di lapangan yang selalu berdebu ketika kemarau dan berlumpur saat musim penghujan iti. Tanpa mandi dan hanya bersalin pakaian (kaos dan celana pendek), bocah kecil itu kembali melakoni perjalanan panjang. Kali ini perjalanan pulang ke rumah. Kadang si bocah naik angkot ke Terminal Gresik (kini lokasinya jadi pertokoan dan McD menjadi yang paling menonjol di situ), tapi seringkali naik angkot ke perempatan Kebomas.

Perjalanan lantas dilanjutkan dengan bus. Tujuannya Stasiun Lamongan. Mungkin karena kecil, seringkali si bocah tak ditarik bayaran oleh kondektur bus. Turun dari bus si bocah lalu berjalan kaki menyusuri jalanan kota Lamongan. Tak kurang dari 5 Km dia berjalan dari Stasiun Lamongan ke pabrik es batu di batas kota Lamongan sisi selatan. Seperti saat memulai perjalanan dari kampung halaman, si bocah kembali naik di bak truk yang akan membawanya pulang.

Begitulah rutinitas yang dijalani si bocah saban Minggu pagi selama bertahun-tahun. Rutinitas melakoni perjalanan sekitar 40 Km demi merealisasikan mimpi menjadi pesepakbola.

Dan rutinitas itu tak hanya diakrabinya setiap Minggu pagi. Tapi, juga saban Selasa dan Kamis siang hingga malam. Ya, setiap Selasa dan Kamis, juga ada jadwal belajar bermain sepak bola di Lapangan Telogo Dendo. Maka, setiap Selasa dan Kamis, si bocah langsung meloncat keluar kelas begitu jam pelajaran sekolah berakhir. Dia lalu berjalan cepat atau berlari kecil agar segera sampai rumah.

Setelah makan siang dan berganti baju, dia langsung menyambar tas yang sudah disiapkannya malam sebelumnya menuju tempat pemberhentian angkutan. Dengan angkutan tubuhnya di bawah ke Lamongan. Perjalanan lalu disambung dengan becak. Seringkali si bocah nebeng penumpang angkutan yang naik becak dan kebetulan tujuannya searah dengannya: NDapur alias Stasiun Lamongan. Dari NDapur dia lalu naik bus turun perempatan Kebomas lalu disambung angkot ke Lapangan Telogo Dendo. Seperti setiap Minggu pagi, dua jam pula waktunya dihabiskan untuk belajar menendang bola di lapangan yang kini tinggal kenangan tersebut.

Dan perjalanan pulangnya tak berbeda dengan saat Minggu pagi. Hanya saja waktunya yang berbeda. Sebab, perjalanan pulangnya waktunya malam. Dan itu sama artinya saat naik bus, si bocah harus berdesak-desakan dengan para pekerja yang pulang dari tempatnya mengais rezeki. Bus pun penuh sesak dan si bocah selalu berdiri sepanjang perjalanan. Seringkali si bocah baru sampai rumah saat teman-temannya sudah berangkat tidur. Atau bahkan sudah terlelap.

Bertahun kemudian mimpi si bocah itu tertinggal di bak truk. Terbawa laju truk yang dulu membawanya pergi dan pulang dari tempatnya berlatih sepak bola.

Menyesalkan dia? TIDAK. Mimpinya menjadi pemain sepak bola memang tak pernah terealisasi. Sebab, dari sepak bola dia belajar banyak hal dan mendapatkan banyak pelajaran penting. Juga dari perjalanan Minggu pagi dan Selasa serta Kamis sore itu.

MIFTAH, reporter Jawa Pos dan penulis buku PERSELA


(ambau.id/ilustrasi: masipoengs blog)

0 comments:

Post a Comment