SANTRI BAPAK





Aku lahir dan berkembang di suatu wilayah dengan tradisi santri. Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan aktifitas mengaji. Bapak adalah seorang guru bahasa Arab sekaligus kyai, kyai kampung dengan beberapa santri.

Meskipun aku sudah diserahkan pada Ibu Nyai Hj. Muhyiddin untuk mengaji Qur'an di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jejeran Wonokromo , aku masih memiliki kewajiban mengaji pada Bapak setiap pagi sepulang dari pondok. Untuk itu aku tetap harus mengantri di antara santri-santri bapakku... Jadi aku gak dapat previlige untuk bisa dapat nomer urut di depan. Aku baru bisa bersiap untuk sekolah jika sudah selesai mengaji.

Untuk urusan baca al-Qur'an, Bapak yang alumnus Pondok Krapyak ini sangat teliti dan ketat dengan makhroj dan tajwidnya. Seingatku, untuk bisa lulus baca  Fatihah dengan baik dan benar, para santri itu bisa makan waktu berhari-hari bahkan ada yang berminggu-minggu. Jangan berharap bisa pindah ke bagian selanjutnya jika bagian yang sedang dibaca masih ada salahnya meskipun sedikit. Pokoknya harus sempurna bacaannya..

Selain mengaji Qur'an, aku juga memiliki kewajiban mengaji kitab bersama santri-santri lain. Mulai dari kitab seperti safinatunnajah, aqidatul awam, jurumiyah, 'imrithi, matan taqrib, dll... Namun demikian, aku paling suka ketika belajar shorof dan menghafalkan "fa'ala fa'alaa fa'aluu fa'alat..." dst, dll...   Namanya anak kecil pasti suka yang ada lagunya... 😀.. Aku kurang telaten ketika harus sorogan kitab seperti fathul qorib itu... Biasanya aku cari-cari alasan untuk mbolos... Belakangan aku baru menyesal kenapa dulu gak rajin sorogan... Penyesalan memang selalu datang belakangan...

Ada satu waktu di mana aku ingin merasakan 'mondok'. Jika biasanya aku ngelaju saat mengaji pada Ibu Nyai Hj. Istijabah di PP Darul Qur'an al Imam (selepas khatam Qur'an di PP Miftahul Ulum, aku pindah ke PP Al Imam Wonokromo), saat itu aku tinggal di pondok selama beberapa bulan. Pondok pesantren ini terletak kira-kira 1,5 km dari rumah. Meskipun tinggal di pondok, keharusan mengaji pada Bapak tetap berjalan. Setiap sore, aku nglaju bersama beberapa teman pondok ke rumah untuk ngaji kitab pada Bapak dan kembali ke pondok sebelum maghrib....Jadi meskipun mondok,  setiap hari aku pulang ke rumah juga... hahaha....Arini Nhh ingat gak dengan aktifitas ini?

Bulan Safar ini adalah Haul ke 22 wafatnya bapakku. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosanya, menerima semua amal ibadahnya  dan menjadikan kuburnya sebagai taman surga... aamiin

Selamat Hari Santri 22 Oktober 2017


SITI ROHMAH NURHAYATI, dosen fip uny, pegiat fatayat

Comments